Tuding Keuntungan ExxonMobil dan Chevron Terlalu Besar, Trump Desak Harga BBM Diturunkan

Raksasa minyak Amerika Serikat ExxonMobil dan Chevron mencatatkan laba yang sangat besar pada pekan lalu, dengan Chevron membukukan pendapatan kuartalan tertinggi dalam sedikitnya enam tahun terakhir. (foto: AFP via TheStraitTimes/mistar)
Washington, MISTAR.ID
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mendesak perusahaan minyak raksasa ExxonMobil dan Chevron menurunkan harga bahan bakar setelah menilai kedua perusahaan memperoleh keuntungan terlalu besar di tengah kenaikan harga minyak global.
Ia bahkan meminta perusahaan tersebut mengembalikan sebagian keuntungan kepada masyarakat. Pernyataan itu disampaikan setelah ExxonMobil dan Chevron melaporkan kinerja keuangan kuartal II yang kuat akibat kenaikan harga minyak yang dipicu konflik Iran.
“Saya tidak suka itu. Chevron, terlalu banyak uang. ExxonMobil, terlalu banyak. Terlalu banyak uang,” kata Trump kepada wartawan, Senin (3/8/2026) waktu setempat, seperti dikutip Reuters.
ExxonMobil dan Chevron belum memberikan tanggapan atas pernyataan tersebut.
Trump dikenal kerap menggunakan tekanan publik untuk mendorong perusahaan besar mengubah kebijakan. Sejak kembali menjabat sebagai presiden, ia terus menggunakan pengaruh politiknya untuk memengaruhi keputusan perusahaan tanpa selalu melalui kebijakan resmi pemerintah.
Sebelumnya, ia juga mengkritik CEO Chevron Mike Wirth karena dianggap tidak menyebut peran pemerintahannya dalam mendukung industri minyak Amerika Serikat saat tampil di program Sunday Morning Futures di Fox News bersama Maria Bartiromo.
Melalui platform Truth Social, presiden AS itu menyebut industri minyak Amerika Serikat tidak akan berkembang tanpa kebijakan pemerintahannya.
“Hal yang dengan mudah dia lupakan adalah bahwa tanpa kejeniusanku, pandangan jauh ke depan, kekuatan, dan stabilitas pemerintahan TRUMP, industri minyak dan negara kita sendiri akan mati!” tulisnya.
Ia juga menyinggung aktivitas Chevron di Venezuela. Menurut dia, perusahaan tersebut kini kembali beroperasi di negara itu dengan skala lebih besar setelah sebelumnya menghadapi tekanan ketika pemerintahan Hugo Chavez menasionalisasi proyek minyak pada 2007. Sementara ExxonMobil dan ConocoPhillips memilih meninggalkan Venezuela.
Kebijakan peningkatan produksi energi dalam negeri menjadi salah satu agenda utama pemerintahannya. Ia mendorong perusahaan minyak memperluas pengeboran serta meningkatkan produksi minyak dan gas.
Namun, di sisi lain, ia juga meminta perusahaan energi menjaga harga bahan bakar tetap rendah bagi konsumen.
“Mereka harus menurunkan harga eceran, harga yang dibayar konsumen,” ujarnya.
Kenaikan harga bensin menjadi perhatian politik menjelang pemilihan sela November, ketika Partai Republik berupaya mempertahankan kendali di Kongres.
Harga bensin eceran di Amerika Serikat saat ini rata-rata sekitar US$4,10 per galon, meningkat lebih dari 30 persen sejak Amerika Serikat dan Israel menyerang Iran pada 2026.
Meski harga minyak dunia turun setelah rencana serangan besar terhadap Iran dibatalkan, harga bensin di tingkat konsumen biasanya bergerak lebih lambat dan tidak langsung mengikuti perubahan harga minyak mentah.
Laporan keuangan ExxonMobil, Chevron, Valero Energy, dan Marathon Petroleum menunjukkan perusahaan energi Amerika memperoleh keuntungan besar akibat kenaikan harga minyak mentah dan margin pengolahan setelah konflik Iran dimulai pada Februari.
Valero mencatat laba kuartalan terkuat sejak krisis energi 2022, sementara Chevron membukukan pendapatan kuartalan tertinggi dalam sedikitnya enam tahun. (*)
PREVIOUS ARTICLE
Qatar Dorong Perdamaian Konflik Iran, Dukung Mediasi Oman


































