Tuesday, August 4, 2026
home_banner_first
INTERNATIONAL

Korut Kecam Peringatan AS soal Pekerja IT, Tuding Upaya Cemarkan Nama Negara

Mistar.idSelasa, 4 Agustus 2026 pukul 11.45 WIB
korut_kecam_peringatan_as_soal_pekerja_it_tuding_upaya_cemarkan_nama_negara_

Ilustrasi. (foto: Getty Images/Mistar)

news_banner

Pyongyang, MISTAR.ID – Korea Utara (Korut) mengecam peringatan yang dikeluarkan Amerika Serikat (AS) bersama sejumlah negara sekutunya terkait perekrutan tenaga kerja teknologi informasi (IT) asal Korut. Pyongyang menilai langkah tersebut sebagai upaya untuk merusak citra negaranya di mata dunia.

Dilansir dari AFP, Selasa (4/8/2026), sebelumnya AS bersama 10 negara mitra di Eropa dan Asia mengeluarkan pernyataan bersama pada 31 Juli lalu. Dalam pernyataan itu disebutkan bahwa Korut diduga menempatkan tenaga kerja IT dengan identitas palsu di berbagai perusahaan luar negeri untuk menghasilkan dana yang kemudian digunakan mendukung program nuklir dan rudal balistiknya.

Menanggapi tuduhan itu, seorang juru bicara Kementerian Luar Negeri Korea Utara yang identitasnya tidak diungkapkan menolak seluruh klaim tersebut.

"Itu hanyalah tuduhan politik yang sudah berulang, dengan tujuan mencemarkan nama baik negara kami," kata juru bicara tersebut, sebagaimana dikutip Kantor Berita Pusat Korea (KCNA).

Korut juga menilai tudingan dari Washington tidak berdasar. Menurut Pyongyang, AS yang memiliki kemampuan siber terbesar justru tidak layak menuding negara lain sebagai ancaman di dunia maya.

"AS menggunakan isu ancaman siber sebagai alasan untuk membenarkan kebijakan yang menekan negara-negara berdaulat," lanjut pernyataan itu.

Dalam peringatan bersama tersebut, AS dan negara-negara sekutunya menyebut pekerja IT asal Korut kerap menyamar sebagai warga negara lain untuk memperoleh pekerjaan melalui berbagai platform daring. Pendapatan dari pekerjaan itu disebut-sebut kemudian disalurkan kepada lembaga pemerintah di Pyongyang.

Peringatan itu juga mengungkap dugaan penggunaan teknologi kecerdasan buatan (AI) oleh tenaga kerja Korut untuk membantu menyamarkan identitas mereka selama proses perekrutan.

Hingga kini, Korea Utara masih berada di bawah berbagai sanksi internasional terkait pengembangan program senjata nuklir dan rudal balistiknya. Sejumlah negara Barat juga menuding Pyongyang memanfaatkan aktivitas siber, termasuk peretasan, aset kripto, dan pencucian uang, sebagai sumber pendanaan bagi program-program tersebut.



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN