Stok Rudal Pertahanan Udara AS di Timur Tengah Menipis

Sistem Anti-Rudal Jarak Jauh AS THAAD. (foto: AFP/Mistar)
Teheran, MISTAR.ID - Amerika Serikat dilaporkan mulai menghadapi keterbatasan stok amunisi pertahanan udara berteknologi tinggi di tengah meningkatnya konflik dengan Iran di Timur Tengah.
Analis senior Timur Tengah dari RANE Network, Ryan Bohl, menyebut persediaan sistem pertahanan udara canggih milik AS, termasuk Terminal High Altitude Area Defense (THAAD), mengalami penyusutan yang cukup signifikan.
Menurut Bohl, THAAD merupakan sistem pertahanan udara jarak jauh yang dapat dioperasikan dari negara lain untuk menghadapi ancaman rudal. Ia mengatakan berkurangnya stok rudal pencegat tersebut menjadi perhatian serius di kalangan perencana Pentagon.
"Persediaan amunisi pertahanan udara kelas atas, seperti THAAD, semakin menipis. Dari berbagai laporan, banyak perencana Pentagon mulai mengkhawatirkan ketersediaannya ke depan," ujarnya kepada Al Jazeera.
Meski demikian, Bohl menilai Amerika Serikat masih memiliki cadangan bom konvensional dalam jumlah besar untuk digunakan jika diperlukan. Namun, penggunaan senjata tersebut tetap menghadapi tantangan karena harus menembus sistem pertahanan udara Iran.
Ia mencontohkan sejumlah insiden yang menunjukkan ancaman tersebut, termasuk laporan mengenai pesawat tempur yang menjadi sasaran pertahanan udara Iran. Karena itu, menurutnya Washington kemungkinan akan menghindari penggunaan opsi militer yang memiliki risiko lebih tinggi terhadap keselamatan personel maupun aset tempurnya.
Sementara itu, Pusat Studi Strategis dan Internasional (CSIS) memperkirakan sejak konflik kembali memanas pada Februari lalu, Amerika Serikat telah menghabiskan sekitar sepertiga stok rudal Patriot dan hampir setengah persediaan rudal pencegat THAAD.
Sebelum konflik meningkat, AS diperkirakan memiliki sekitar 2.330 rudal pencegat Patriot. Kini jumlahnya disebut tersisa sekitar 759 hingga 827 unit. Adapun stok rudal pencegat THAAD yang sebelumnya sekitar 452 unit diperkirakan menyusut menjadi sekitar 234 hingga 278 unit.
CSIS menilai apabila konflik terus berlanjut, persediaan rudal pencegat yang semakin terbatas akan menjadi tantangan bagi Amerika Serikat dan negara-negara sekutunya. Kondisi tersebut dinilai dapat memaksa mereka mengambil risiko lebih besar dalam menghadapi serangan rudal.
Ketegangan antara Washington dan Teheran kembali meningkat setelah kedua pihak yang sebelumnya sempat meredakan konflik kembali terlibat aksi saling serang. Serangan terbaru Amerika Serikat dilakukan setelah pangkalan pasukannya di Yordania dilaporkan menjadi sasaran rudal balistik Iran.
Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan operasi militer dimulai, Rabu (29/7/2026) pukul 20.00 waktu setempat. Menurut CENTCOM, serangan tersebut merupakan respons terhadap serangan Iran yang menargetkan personel militer AS di kawasan Timur Tengah.
PREVIOUS ARTICLE
Yordania Cegat Lima Rudal Iran Usai Serangan Udara Besar AS


















