Monday, August 24, 2026
home_banner_first
INTERNATIONAL

Irak Tawarkan "Dewan Keamanan Bersama" untuk Redam Krisis Kepercayaan Iran-Arab Saudi

Mistar.idSenin, 24 Agustus 2026 pukul 17.11 WIB
irak_tawarkan_dewan_keamanan_bersama_untuk_redam_krisis_kepercayaan_iranarab_saudi_

Arsip foto--Pemberontak Yaman Serang Fasilitas Minyak Saudi Aramco.(Foto: Reuters)

news_banner

Istanbul, MISTAR.ID (24/8/2026) – Irak mengusulkan pembentukan dewan keamanan bersama antara Iran dan Arab Saudi. Usulan itu muncul sebagai respons terhadap "krisis kepercayaan" yang melanda dua kekuatan regional tersebut.

Hal itu disampaikan Penasihat Keamanan Nasional Perdana Menteri Irak, Qasim al-Araji, kepada stasiun televisi pemerintah Iraqiya TV, Minggu (23/8/2026) waktu setempat.

"Masalah antara kedua negara ini adalah krisis kepercayaan," kata al-Araji.

Usulan Sudah Disampaikan ke Tehran dan RiyadhAl-Araji menyebut Irak telah menyampaikan usulan tersebut kepada Iran dan Arab Saudi.

Namun ia tidak merinci mekanisme pembentukan dewan itu. Hingga kini, baik Iran maupun Arab Saudi belum memberikan tanggapan resmi.

Dalam kesempatan yang sama, al-Araji menegaskan bahwa menempatkan seluruh senjata di bawah kendali negara merupakan keputusan strategis Irak.

Ia menekankan bahwa keputusan terkait perang dan perdamaian sepenuhnya berada di tangan negara.

Pada 3 Juni lalu, militer Irak juga telah membentuk komite khusus untuk menertibkan kepemilikan senjata.

Langkah itu diambil untuk mengatasi tantangan keamanan dan politik di dalam negeri, terutama terkait keberadaan kelompok bersenjata di dalam maupun di luar Pasukan Mobilisasi Rakyat, PMF.

Usulan dewan keamanan bersama itu mengemuka di tengah meningkatnya ketegangan regional. Beberapa hari sebelumnya, Menteri Luar Negeri Irak, Fuad Hussein, dan Menteri Luar Negeri Arab Saudi, Pangeran Faisal bin Farhan, telah membahas perkembangan di kawasan.

Keduanya sepakat pentingnya menahan eskalasi dan menyelesaikan perselisihan secara damai. Ketegangan memuncak pada 27 Juli.

Arab Saudi menyatakan telah mencegat sejumlah drone yang diluncurkan dari wilayah Irak. Drone tersebut dituding menargetkan fasilitas minyak di Provinsi Timur dan Riyadh.

Riyadh menuding milisi yang berafiliasi dengan Iran berada di balik serangan itu dan menegaskan haknya untuk memberikan respons.

Menanggapi tuduhan tersebut, Perdana Menteri Irak, Mohammed al-Sudani, memerintahkan badan-badan keamanan untuk menyelidiki informasi yang disampaikan Arab Saudi terkait peluncuran drone dari wilayah Irak. (Anadolu/Antara/hm02)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN