Monday, August 24, 2026
home_banner_first
INTERNATIONAL

Iran: Pakta Makkah-NATO Versi Timur Tengah, Saatnya AS Hengkang

Mistar.idSenin, 24 Agustus 2026 pukul 17.33 WIB
iran_pakta_makkahnato_versi_timur_tengah_saatnya_as_hengkang_

Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Mohsen Rezaei memberikan penilaian soal perjanjian keamanan trilateral Pakta Makkah antara Turki, Arab Saudi, dan Pakistan. (Foto: via REUTERS)

news_banner

Teheran, MISTAR.ID (24/8/2026) – Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Iran, Mohsen Rezaei, menilai perjanjian keamanan trilateral antara Turki, Arab Saudi, dan Pakistan, atau Pakta Makkah, sebagai tanda Amerika Serikat mulai ditinggalkan negara-negara Timur Tengah.

"Amerika Serikat bilang ke mereka, 'Selamat tinggal, kami pergi'," kata Rezaei menyindir AS, dikutip Iran International, Sabtu (22/8/2026) waktu setempat.

Rezaei menegaskan Iran mendukung persatuan regional yang lebih luas. Ia juga mengklaim Iran dan Mesir seharusnya dilibatkan dalam aliansi semacam Pakta Makkah.

Menurut Rezaei, perwakilan negara anggota pakta sempat mendatangi Iran dan menyampaikan bahwa perjanjian telah ditandatangani.

"Teman kami datang dan bilang, 'kami sudah membuat pakta, datang dan setujui'," ujarnya menirukan pernyataan perwakilan tersebut.

Namun, Rezaei mengaku mempertanyakan isi pakta tersebut. Ia menilai Iran tidak diajak dalam proses awal, melainkan baru dilibatkan setelah perjanjian ditandatangani.

Terpisah, Kepala Kantor Berita Parlemen Iran, Mehdi Rahim, mengatakan negara-negara anggota Pakta Makkah telah mengundang Teheran untuk bergabung.

"Iran sudah menerima undangan untuk bergabung dengan Perjanjian Makkah dan masalah ini sedang ditinjau," kata Rahim.

Hingga kini Kementerian Luar Negeri Iran belum memberikan konfirmasi atau tanggapan resmi terkait undangan tersebut.

Pakta Makkah ditandatangani oleh Turki, Arab Saudi, dan Pakistan pada 7 Agustus 2026. Perjanjian ini menjadi sorotan karena muncul di tengah memanasnya hubungan Amerika Serikat dan Iran.

Selain itu, pakta ini memuat klausul yang mirip dengan Pakta Pertahanan Atlantik Utara, NATO. Dalam klausul itu disebutkan, serangan terhadap salah satu anggota akan dianggap sebagai serangan terhadap seluruh anggota.

Menanggapi hal itu, Menteri Luar Negeri Turki, Hakan Fidan, menegaskan perjanjian tersebut tidak ditujukan untuk menyerang Iran maupun negara mana pun.

Sejumlah pengamat menilai Pakta Makkah justru menjadi bukti bahwa negara-negara di kawasan tidak lagi ingin bergantung pada AS. Dengan kata lain, dominasi Washington di Timur Tengah mulai melemah.(CNN/hm02)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN