Friday, August 7, 2026
home_banner_first
INTERNATIONAL

Bos Mossad Pecat 2 Pejabat Senior Usai Dugaan Rencana Gulingkan Rezim Iran Gagal

Mistar.idJumat, 7 Agustus 2026 pukul 14.18 WIB
bos_mossad_pecat_2_pejabat_senior_usai_dugaan_rencana_gulingkan_rezim_iran_gagal

Logo badan intelijen Israel, Mossad.(Foto: Wikipedia)

news_banner

Pematangsiantar, MISTAR.ID - Kepala badan intelijen Israel (Mossad), Roman Gofman, dilaporkan memberhentikan dua pejabat senior menyusul kegagalan dugaan rencana untuk menggulingkan pemerintahan Iran. Informasi tersebut pertama kali diungkap oleh media Israel, Channel 12, dan menjadi sorotan di tengah memanasnya hubungan antara Israel, Iran, dan Amerika Serikat (AS).

Dua pejabat yang dicopot dari jabatannya disebut menjabat sebagai Kepala Direktorat Intelijen dan Kepala Divisi Iran di tubuh Mossad. Hingga kini, identitas keduanya belum dipublikasikan secara resmi.

Pemecatan Dipicu Dugaan Gagalnya Operasi

Menurut laporan Channel 12, keputusan Roman Gofman diambil setelah rencana yang disusun untuk mendorong perubahan rezim di Iran tidak berhasil dijalankan atau terhenti sebelum memasuki tahap operasional.

Laporan tersebut menyebutkan bahwa strategi tersebut disusun melalui koordinasi dengan Amerika Serikat. Tujuannya adalah memicu perlawanan internal terhadap pemerintah Iran, sekaligus memberikan dukungan kepada kelompok oposisi di bawah perlindungan operasi militer Israel dan AS.

Selain itu, rencana tersebut dikabarkan juga mencakup skenario pergantian kepemimpinan di Iran beserta koordinasi mengenai situasi politik setelah pergantian rezim.

Namun, rencana itu akhirnya dihentikan pada tahap awal dan kemudian diarsipkan.

Netanyahu Sebut Menggulingkan Rezim Iran Tidak Mudah

Laporan mengenai perombakan di tubuh Mossad muncul beberapa bulan setelah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengakui bahwa upaya menggulingkan pemerintahan Iran bukanlah misi yang mudah.

Pada Maret 2026, Netanyahu menyatakan bahwa keberhasilan langkah tersebut tidak bisa dipastikan.

Pernyataan itu dinilai menggambarkan kompleksitas situasi politik dan keamanan di Iran, sekaligus tantangan yang dihadapi Israel dalam menjalankan strategi terhadap Teheran.

Belum Ada Pernyataan Resmi

Hingga berita ini ditulis, pemerintah Israel maupun pihak militer belum memberikan tanggapan resmi mengenai laporan pemecatan dua pejabat senior Mossad tersebut.

Sejumlah sumber keamanan yang dikutip Channel 12 juga menyebut hubungan antara Roman Gofman dengan kedua pejabat itu memang telah mengalami ketegangan sejak lama. Karena itu, pemecatan tersebut disebut sebagai bagian dari restrukturisasi internal Mossad, khususnya dalam penanganan isu Iran.

Ketegangan Timur Tengah Masih Berlanjut

Perubahan di tubuh Mossad terjadi ketika kawasan Timur Tengah masih berada dalam situasi yang sangat tegang.

Konflik bersenjata antara Israel, Amerika Serikat, dan Iran dalam beberapa bulan terakhir telah memicu korban jiwa dalam jumlah besar serta meningkatkan risiko meluasnya konflik regional.

Meski sempat ada upaya diplomasi antara Washington dan Teheran melalui perundingan pada pertengahan Juni, pembicaraan tersebut dilaporkan menemui jalan buntu akibat perbedaan pandangan mengenai jaminan keamanan dan kebebasan navigasi di Selat Hormuz.

Ketegangan kembali meningkat setelah serangan terbaru AS ke wilayah Iran, yang kemudian dibalas Teheran dengan serangan ke sejumlah target di kawasan Teluk Persia, termasuk Yordania, Bahrain, dan Kuwait.

Dampak bagi Kebijakan Israel

Analis menilai pergantian pejabat senior di Mossad dapat menjadi sinyal evaluasi besar terhadap strategi intelijen Israel dalam menghadapi Iran. Selain menyangkut efektivitas operasi rahasia, perubahan tersebut juga berpotensi memengaruhi arah kebijakan keamanan Israel di tengah meningkatnya dinamika geopolitik kawasan.

Sampai saat ini, belum ada konfirmasi resmi dari otoritas Israel mengenai detail operasi maupun alasan pasti di balik pemberhentian kedua pejabat tersebut. Laporan yang beredar masih bersumber dari media lokal dan belum mendapat penjelasan langsung dari Mossad maupun pemerintah Israel.



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN