Beberapa Jam Jelang ‘D-Day Ekonomi’ AS, Rial Iran Terjun Bebas hingga 2 Juta per Dolar

Pedagang valuta memegang uang rial Iran di Grand Bazaar, Teheran, Iran, 17 Agustus 2026. (foto: Majid Asgaripour/Reuters)
Teheran, MISTAR.ID - Mata uang Iran, rial, mencatat rekor terendah dan sempat menembus 2 juta per dolar Amerika Serikat (AS), Senin (24/8/2026), ketika Washington bersiap mengumumkan gelombang sanksi baru yang disebut sebagai “D-Day Economy” terhadap Teheran.
Dilansir Associated Press (AP), Senin (24/8/2026), rial merosot hingga 2,02 juta per dolar AS saat perdagangan dibuka. Angka itu jauh lebih lemah dibanding kurs resmi Bank Sentral Iran yang berada di kisaran 1,5 juta rial per dolar.
AP menyebut kurs pasar tersebut lebih banyak digunakan masyarakat dibanding nominal resmi pemerintah Iran.
Sementara itu, The Guardian pada hari yang sama melaporkan rial kemudian diperdagangkan sekitar 1,992 juta per dolar di pasar yang tidak teregulasi. Mata uang Iran tercatat telah melemah sekitar 4,5 persen sejak Presiden AS Donald Trump mengumumkan rencana operasi ekonomi baru terhadap Teheran.
Tekanan terhadap rial terjadi menjelang pengumuman sanksi baru oleh Menteri Keuangan AS Scott Bessent.
Reuters, Senin (24/8/2026), melaporkan Bessent dijadwalkan menggelar konferensi pers pukul 13.00 waktu Amerika Serikat bagian timur atau Selasa (25/8/2026) pukul 00.00 WIB untuk menjelaskan langkah ekonomi terbaru Washington terhadap Iran.
Bessent sebelumnya menyebut langkah tersebut sebagai “economic D-Day” atau “D-Day ekonomi”. Reuters melaporkan sanksi yang disiapkan AS akan menyasar mitra dagang Iran.
AP juga melaporkan pemerintahan Trump menjanjikan sanksi yang lebih keras, termasuk sanksi sekunder terhadap negara-negara yang tetap berbisnis dengan Iran.
Ketegangan meningkat menjelang pengumuman tersebut. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baghaei, seperti dikutip AP, memperingatkan setiap eskalasi akan membawa konsekuensi dan menegaskan Teheran memiliki opsi untuk merespons.
China turut menjadi perhatian karena selama beberapa tahun terakhir menjadi pembeli terbesar minyak Iran.
Menurut Reuters, Senin (24/8/2026), impor minyak Iran oleh China sepanjang Agustus diperkirakan turun menjadi sekitar 534.000 barel per hari, dari 823.000 barel per hari pada Juli, berdasarkan data perusahaan pelacak kapal Kpler.
Dalam laporan yang sama, Reuters menyebut Beijing kembali menegaskan penolakannya terhadap sanksi sepihak serta menyerukan penyelesaian melalui jalur diplomatik.
Ancaman sanksi baru AS turut memengaruhi pasar global. Reuters melaporkan investor mencermati pengumuman Washington mengenai Iran, sementara harga minyak melemah menjelang pemaparan Bessent.
Hingga naskah ini disusun Senin malam WIB, rincian lengkap paket sanksi baru tersebut belum diumumkan. (*)
























