Halloween 2026 Makin Populer! Scream or Dance Siap Guncang Jakarta, Ini Sejarah dan Faktanya

Scream or Dance 2026 menghadirkan perpaduan musik elektronik, kreativitas, dan atmosfer Halloween dalam festival hiburan generasi muda di Jakarta. (foto ilustrasi:chatgpt/mistar)
Pematangsiantar, MISTAR.ID (31/10/2026) — Halloween yang diperingati setiap 31 Oktober terus mengalami transformasi. Berawal dari tradisi kuno masyarakat Keltik, perayaan ini kini menjelma menjadi fenomena budaya populer yang merambah industri fesyen, film, media sosial, hingga festival musik elektronik.
Di Indonesia, Halloween semakin lekat dengan gaya hidup anak muda. Pesta kostum, kompetisi makeup, dekorasi bertema horor, hingga pertunjukan musik menjadi bagian dari cara generasi muda menikmati perayaan tersebut.
Fenomena ini terlihat melalui kehadiran Scream or Dance 2026 (SOD 2026), festival musik elektronik bertema Halloween yang berlangsung pada 31 Oktober–1 November 2026 di Jakarta International Expo (JIExpo), Kemayoran, Jakarta.
Memasuki edisi kelima sejak pertama kali digelar pada 2022, SOD menghadirkan perpaduan musik elektronik, pertunjukan visual, instalasi tematik, dan atmosfer Halloween. Festival ini sekaligus memperlihatkan bagaimana sebuah tradisi budaya dapat berkembang menjadi pengalaman hiburan modern.
Sejarah Halloween: Berawal dari Festival Kuno Samhain
Halloween berasal dari istilah All Hallows’ Eve, yakni malam menjelang Hari Raya Semua Orang Kudus (All Saints’ Day) yang diperingati setiap 1 November dalam tradisi Kristen Barat.
Akar sejarahnya berkaitan dengan Samhain, festival kuno masyarakat Keltik di wilayah Irlandia, Britania Raya, dan sebagian Eropa Barat sekitar 2.000 tahun lalu.
Samhain menandai berakhirnya musim panen dan dimulainya musim dingin. Masyarakat saat itu percaya bahwa pada malam tersebut, batas antara dunia manusia dan dunia roh menjadi lebih tipis.
Untuk menyambut sekaligus melindungi diri dari roh-roh yang dipercaya berkeliaran, masyarakat mengadakan api unggun dan mengenakan kostum menyerupai makhluk gaib.
Seiring waktu, tradisi tersebut berbaur dengan perayaan Kristen dan berkembang menjadi Halloween. Melalui migrasi masyarakat Eropa ke Amerika Utara pada abad ke-19, perayaan ini semakin populer dan mengalami perubahan menjadi kegiatan sosial yang lebih sekuler.
Tradisi modern seperti trick-or-treat, pesta kostum, serta mengukir labu menjadi lentera atau Jack-o’-lantern kemudian menjadi identitas Halloween yang dikenal hingga sekarang.
Mengapa Halloween Diminati Anak Muda?
Popularitas Halloween di kalangan generasi muda tidak terlepas dari pengaruh budaya pop, media sosial, dan kebutuhan akan pengalaman hiburan yang berbeda.
Kostum karakter film, superhero, tokoh animasi, hingga kreasi makeup horor memberikan ruang bagi anak muda untuk mengekspresikan kreativitas dan identitas diri.
Media sosial seperti Instagram dan TikTok turut mempercepat penyebaran tren tersebut. Foto kostum, video transformasi makeup, dekorasi horor, dan dokumentasi pesta menjadi konten visual yang mudah dibagikan.
Selain itu, Halloween berkembang menjadi ajang berkumpul dan membangun pengalaman bersama. Anak muda tidak hanya menikmati dekorasi atau kostum, tetapi juga menghadiri pesta tematik, kompetisi, dan festival musik.
Di Indonesia, perayaan ini umumnya lebih banyak dinikmati sebagai hiburan dan ekspresi kreatif dibandingkan menjalankan ritual kepercayaan yang menjadi akar sejarahnya.
Scream or Dance 2026: Festival EDM Halloween di Jakarta
Salah satu representasi transformasi Halloween menjadi industri hiburan generasi muda Indonesia hadir melalui Scream or Dance 2026.
Festival ini dijadwalkan berlangsung selama dua hari, 31 Oktober hingga 1 November 2026, di JIExpo Kemayoran, Jakarta.
Penyelenggaraan tahun ini juga diwarnai perubahan lokasi. Awalnya direncanakan berlangsung di kawasan Ancol, festival kemudian dipindahkan ke JIExpo Kemayoran setelah Ancol mengumumkan tidak menjadi lokasi penyelenggaraan.
Pada 23 Oktober 2026, penyelenggara mengumumkan venue terbaru sekaligus memastikan tiket yang telah dibeli tetap berlaku tanpa perlu ditukar atau dikenakan biaya tambahan.
Lineup Internasional dan Musisi Indonesia
SOD 2026 menghadirkan sejumlah nama dari industri musik elektronik internasional, seperti Jonas Blue, Cheat Codes, DubVision, Dash Berlin, dan Ben Nicky.
Musisi Indonesia juga mendapatkan ruang melalui penampilan Dipha Barus, Bobby Suryadi, Bravy, Whisnu Santika, Weird Genius, Ramengvrl, dan Wukong.
Sejumlah kolaborasi spesial turut diumumkan, antara lain Bravy x DNA, Dipha Barus and Friends, Ramengvrl and Friends, serta Ben Nicky B2B Weird Genius B2B Wukong.
Format back-to-back (B2B) memungkinkan beberapa DJ tampil secara bergantian dalam satu set, menghadirkan perpaduan karakter musik dan energi pertunjukan.
Kehadiran musisi internasional dan lokal memperlihatkan bagaimana festival ini menjadi ruang pertemuan antara industri musik elektronik global dan kreativitas musisi Indonesia.
Into the Blooming Garden, Konsep Unik SOD 2026
Tidak hanya mengandalkan lineup, SOD 2026 mengusung konsep Into the Blooming Garden yang membawa pengunjung ke dalam dunia imajinatif bernuansa artistik dan psikadelik.
Konsep tersebut mengangkat narasi tentang kesedihan, kesendirian, kehilangan, dan kerinduan melalui gambaran portal of sorrow.
Atmosfer Halloween kemudian diterjemahkan melalui perpaduan tata panggung, pencahayaan, instalasi visual, dekorasi, dan musik elektronik.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa festival Halloween modern tidak selalu harus identik dengan hantu, tengkorak, dan dekorasi menyeramkan. Unsur artistik dan pengalaman imersif justru menjadi bagian penting dalam membangun identitas acara.
Harga Tiket dan Lokasi Scream or Dance 2026
Berdasarkan informasi yang diberitakan pada 23 Oktober 2026, tiket SOD 2026 tersedia dalam kategori harian maupun dua hari.
Harga tiket dua hari terdiri dari Early Entry Rp745.000, General Admission Rp1.065.000, dan VIP Rp2.100.000.
Sementara itu, tiket harian dibanderol mulai Rp410.000 untuk Early Entry, Rp570.000 untuk General Admission, dan Rp1.400.000 untuk VIP.
Khusus kategori Early Entry, pengunjung diwajibkan masuk sebelum pukul 17.00 WIB. Harga dan ketersediaan tiket dapat berubah mengikuti kebijakan penyelenggara.
Informasi dan pembelian tiket dapat diakses melalui situs resmi Scream or Dance.
Fakta Menarik Halloween: Dari Labu hingga Festival Musik
Di balik popularitasnya, Halloween menyimpan sejumlah fakta unik.
Pertama, tradisi mengukir labu ternyata tidak berasal dari Amerika. Di sejumlah wilayah Eropa, masyarakat awalnya menggunakan lobak untuk membuat lentera menyeramkan. Labu kemudian populer setelah tradisi tersebut berkembang di Amerika Utara.
Kedua, trick-or-treat memiliki pendahulu berupa tradisi souling di Inggris. Masyarakat miskin meminta makanan dan memperoleh kue sebagai imbalan doa bagi orang yang telah meninggal.
Ketiga, kostum Halloween pada masa awal memiliki kaitan dengan kepercayaan masyarakat Keltik. Penyamaran dipercaya dapat membantu manusia menghindari pengenalan oleh roh-roh yang berkeliaran.
Keempat, Halloween berkembang menjadi kekuatan ekonomi, terutama di Amerika Serikat. Industri permen, kostum, dekorasi, film, dan hiburan memperoleh momentum besar menjelang perayaan ini.
Kelima, Halloween kini merambah festival musik elektronik. Scream or Dance menjadi salah satu contoh bagaimana tradisi tersebut dikemas sebagai pengalaman hiburan berskala besar dengan menggabungkan musik, teknologi visual, dan kreativitas.
Halloween dan Masa Depan Industri Hiburan Generasi Muda
Transformasi Halloween memperlihatkan perubahan cara generasi muda menikmati hiburan. Mereka tidak lagi hanya mencari tontonan, tetapi juga pengalaman yang dapat dirasakan, diabadikan, dan dibagikan.
Dalam konteks tersebut, festival musik tematik seperti Scream or Dance memiliki nilai lebih dari sekadar pertunjukan DJ.
Tata panggung, instalasi visual, kostum, pencahayaan, dan atmosfer acara menjadi bagian dari pengalaman yang membangun keterlibatan pengunjung.
Festival semacam ini juga membuka peluang ekonomi kreatif. Industri musik, desain kostum, tata rias, fotografi, videografi, produksi panggung, kuliner, hingga transportasi berpotensi ikut bergerak melalui penyelenggaraan acara.
Keterlibatan musisi lokal bersama artis internasional juga memberikan ruang bagi kreativitas Indonesia untuk tampil dalam ekosistem hiburan global.
Namun, keberhasilan festival tidak hanya ditentukan oleh lineup dan konsep. Kepastian lokasi, komunikasi penyelenggara, pengelolaan kerumunan, serta keselamatan pengunjung tetap menjadi faktor penting dalam membangun kepercayaan publik.
Pada akhirnya, Halloween telah berkembang jauh dari akar tradisinya. Dari Samhain hingga festival musik elektronik, perayaan ini menunjukkan bagaimana budaya dapat beradaptasi dengan perkembangan zaman.
Kehadiran Scream or Dance 2026 di Jakarta menjadi gambaran nyata transformasi tersebut: Halloween bukan sekadar malam penuh horor, melainkan ruang kreativitas, ekspresi, komunitas, dan peluang ekonomi dalam industri hiburan generasi muda Indonesia.
(history/antara/katadata/hm27)
BERITA TERPOPULER
BERITA TERPOPULER










Prediksi Villarreal vs Espanyol di LaLiga: Kapal Selam Kuning Berpeluang Bangkit, Ini Susunan Pemain






























