Sunday, June 28, 2026
home_banner_first
EKONOMI

Rupiah Hari Ini Kian Tertekan! Tembus Rp17.400 per Dolar AS, Ini Penyebab dan Dampaknya

Mistar.idSelasa, 12 Mei 2026 pukul 08.42 WIB
rupiah_hari_ini_kian_tertekan_tembus_rp17400_per_dolar_as_ini_penyebab_dan_dampaknya

Ilustrasi, Rupiah Hari Ini Kian Tertekan! Tembus Rp17.400 per Dolar AS. (foto:ferry/gemini/mistar)

news_banner

Pematangsiantar, MISTAR.ID

Nilai tukar rupiah kembali menjadi perhatian publik. Pada perdagangan pekan ini, mata uang Garuda masih bergerak di zona merah dan sempat menyentuh level Rp17.400 per dolar Amerika Serikat (AS).

Tekanan terhadap rupiah terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian global, mulai dari konflik geopolitik hingga kebijakan suku bunga tinggi Amerika Serikat yang belum mereda.

Berdasarkan kurs transaksi Bank Indonesia (BI), rupiah berada di kisaran Rp17.448 per dolar AS pada awal Mei 2026. Kondisi ini membuat rupiah menjadi salah satu mata uang Asia dengan tekanan cukup besar sepanjang tahun ini.

Meski demikian, Bank Indonesia memastikan stabilitas rupiah tetap menjadi prioritas utama guna menjaga kepercayaan pasar dan kestabilan ekonomi nasional.

Rupiah Hari Ini Masih Melemah, Apa Penyebabnya?

Pelemahan rupiah saat ini dipengaruhi kombinasi faktor eksternal dan domestik. Pengamat menilai tekanan terbesar masih datang dari sentimen global.

1. Dolar AS Menguat Akibat Ketegangan Geopolitik

Meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah membuat investor global memilih aset aman atau safe haven seperti dolar AS.

Akibatnya, arus modal asing keluar dari negara berkembang, termasuk Indonesia. Kondisi ini otomatis meningkatkan permintaan dolar AS dan menekan nilai tukar rupiah.

Fenomena tersebut juga terjadi di sejumlah negara Asia lainnya yang mengalami pelemahan mata uang terhadap dolar AS.

2. Suku Bunga AS Masih Tinggi

Bank Sentral AS atau The Fed masih mempertahankan suku bunga tinggi untuk menekan inflasi di negaranya.

Kebijakan ini membuat instrumen investasi berbasis dolar AS menjadi lebih menarik dibanding aset negara berkembang.

Dampaknya:

- investor asing menarik dana dari pasar obligasi dan saham Indonesia,

- permintaan dolar meningkat,

- dan rupiah terus berada dalam tekanan.

Analis pasar menilai selama suku bunga AS belum turun signifikan, tekanan terhadap mata uang emerging market masih akan berlanjut.

3. Permintaan Dolar di Dalam Negeri Naik

Selain faktor global, kebutuhan dolar AS di dalam negeri juga meningkat, terutama untuk pembayaran utang luar negeri korporasi pada periode April hingga Mei 2026.

Kenaikan kebutuhan valas ini menyebabkan permintaan dolar lebih besar dibanding pasokan devisa di pasar domestik.

Situasi tersebut ikut mempercepat pelemahan rupiah dalam beberapa pekan terakhir.

Fakta Menarik: Ekonomi Indonesia Tumbuh, Tapi Rupiah Tetap Tertekan

Di tengah pelemahan rupiah, ekonomi Indonesia justru mencatat pertumbuhan yang cukup solid.

Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia tumbuh 5,61 persen pada kuartal I-2026. Angka tersebut menjadi pertumbuhan tertinggi dalam lebih dari tiga tahun terakhir.

Pertumbuhan ekonomi ditopang oleh:

- meningkatnya belanja pemerintah,

- konsumsi masyarakat saat Ramadan dan Idulfitri,

- serta program stimulus nasional.

Namun, kuatnya pertumbuhan ekonomi ternyata belum cukup menahan tekanan eksternal terhadap rupiah.

Kondisi ini menunjukkan bahwa nilai tukar tidak hanya dipengaruhi kondisi domestik, tetapi juga sangat bergantung pada:

- arus modal global,

- sentimen investor,

- stabilitas geopolitik,

- dan kebijakan moneter dunia.

Dampak Pelemahan Rupiah bagi Masyarakat

Melemahnya rupiah berpotensi memengaruhi berbagai sektor ekonomi dan kehidupan masyarakat.

Beberapa dampak yang mulai dirasakan antara lain:

- harga barang impor meningkat,

- biaya bahan baku industri naik,

- tekanan terhadap harga energi dan pangan,

- serta margin keuntungan pelaku usaha semakin tertekan.

Pelaku UMKM dan industri yang bergantung pada bahan baku impor menjadi pihak yang paling rentan terdampak.

Jika pelemahan rupiah berlangsung lama, daya beli masyarakat juga berpotensi ikut melemah akibat kenaikan harga barang.

Langkah Bank Indonesia Menjaga Stabilitas Rupiah

Bank Indonesia bersama pemerintah terus melakukan berbagai langkah untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

Intervensi Pasar Valuta Asing

Gubernur BI Perry Warjiyo menegaskan bank sentral melakukan intervensi agresif di pasar valuta asing, baik di pasar domestik maupun offshore.

Langkah ini bertujuan:

- menjaga kestabilan rupiah,

- mengurangi volatilitas,

- serta menahan spekulasi pasar.

Pengetatan Pembelian Dolar AS

BI juga memperketat aturan pembelian dolar AS.

Ambang batas pembelian valas tanpa dokumen pendukung kini diturunkan menjadi 25.000 dolar AS per bulan.

Kebijakan tersebut dilakukan untuk:

- mengurangi spekulasi dolar,

- menekan permintaan valas nonproduktif,

- dan menjaga cadangan devisa nasional.

Penguatan Instrumen SRBI

Bank Indonesia turut mengoptimalkan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) untuk menarik kembali aliran modal asing ke pasar domestik.

Instrumen ini diharapkan mampu:

- meningkatkan daya tarik aset rupiah,

- menjaga likuiditas pasar,

- dan memperkuat stabilitas sistem keuangan nasional.

Bagaimana Prospek Rupiah Selanjutnya?

Analis memperkirakan tekanan terhadap rupiah masih berpotensi berlanjut dalam jangka pendek, terutama jika:

- tensi geopolitik global meningkat,

- suku bunga AS bertahan tinggi,

- dan arus modal asing terus keluar.

Meski demikian, sejumlah ekonom menilai rupiah saat ini sebenarnya berada di bawah nilai fundamental ekonominya atau undervalued.

Artinya, peluang penguatan rupiah tetap terbuka apabila kondisi global mulai stabil dan aliran modal asing kembali masuk ke Indonesia.

Kesimpulan: Rupiah hari ini masih berada dalam tekanan akibat kombinasi faktor global dan domestik. Penguatan dolar AS, tingginya suku bunga The Fed, serta keluarnya modal asing menjadi pemicu utama pelemahan.

Meski demikian, fundamental ekonomi Indonesia dinilai masih cukup kuat dengan pertumbuhan ekonomi mencapai 5,61 persen pada kuartal I-2026.

Kini, tantangan terbesar pemerintah dan Bank Indonesia adalah menjaga stabilitas pasar sekaligus mempertahankan kepercayaan investor di tengah ketidakpastian ekonomi global.

(berbagaisumber/ai/hm27)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN