Produksi Jagung Pipilan Sumut 2025 Turun 6,90 Persen dari Tahun Sebelumnya

Statistik Ahli Utama BPS Sumut, Misfaruddin. (foto: amita/mistar)
Medan, MISTAR.ID
Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Utara (Sumut) melaporkan adanya penurunan kinerja sektor pertanian komoditas jagung sepanjang 2025. Berdasarkan hasil Survei Kerangka Sampel Area (KSA) Jagung, luas panen maupun volume produksi jagung pipilan kering di Sumatera Utara tercatat mengalami penyusutan dibandingkan dengan capaian tahun sebelumnya.
Statistik Ahli Utama BPS Sumut, Misfaruddin, mengatakan realisasi luas panen jagung pipilan sepanjang Januari hingga Desember 2025 tercatat sekitar 203,61 ribu hektare.
Angka ini menunjukkan penurunan sebesar 6,98 ribu hektare atau setara dengan 3,31 persen jika dikomparasikan dengan luas panen tahun 2024 yang mencapai 210,59 ribu hektare. Selain penurunan luas lahan, terjadi pula pergeseran periode puncak panen di wilayah Sumatera Utara.
"Puncak panen jagung pipilan 2025 berbeda halnya dengan tahun 2024 yang terjadi pada Juni, puncak panen jagung pipilan 2025 terjadi pada Juli dengan luas panen sebesar 28,65 ribu hektare. Puncak panen jagung pada Juli 2025 relatif lebih rendah 0,12 ribu hektare dibandingkan Juni 2024," kata Misfaruddin, Jumat (6/2/2026).
Penurunan luas panen tersebut berdampak langsung pada total produksi jagung di Sumatera Utara. Produksi jagung pipilan kering dengan kadar air 28 persen sepanjang tahun 2025 mencapai 1,73 juta ton, angka yang merosot sekitar 128,14 ribu ton atau 6,90 persen dibandingkan tahun 2024.
Penurunan yang identik juga terlihat saat produksi dikonversikan ke jagung pipilan kering dengan kadar air 14 persen, dimana volumenya turun menjadi 1,28 juta ton dari sebelumnya 1,37 juta ton pada tahun 2024.
Misfaruddin mengatakan, penghitungan ini menggunakan metode KSA yang berbasis pengamatan objektif menggunakan citra satelit dan validasi lapangan untuk menjamin kualitas data. Meski angka produksi sepanjang 2025 sudah bersifat tetap, BPS tetap memantau potensi produksi untuk awal tahun 2026.
"Berdasarkan fase tanaman yang ada saat ini, angka potensi produksi periode Januari hingga Maret 2026 masih bersifat sementara dan berpeluang berubah mengikuti realisasi luas panen dan produktivitas di lapangan," ucapnya.
Penurunan produksi jagung ini menjadi catatan penting bagi ketahanan pangan daerah, mengingat jagung merupakan komoditas strategis untuk kebutuhan industri pakan ternak.
Pemerintah daerah diharapkan dapat mencermati faktor-faktor penyebab turunnya luas panen, baik karena alih fungsi lahan maupun kendala teknis di tingkat petani, agar tren penurunan produksi tidak berlanjut di musim tanam mendatang.






















