Danantara Masuk Pasar Saham, Pengamat Ingatkan Jangan Terjebak dalam Profit Jangka Pendek

Gunawan Benjamin. (foto: istimewa/mistar)
Medan, MISTAR.ID
Langkah institusi pengelola investasi Danantara untuk mulai merambah pasar saham mendapat sorotan tajam dari kalangan akademisi dan pengamat ekonomi. Meski dinilai mampu memperkuat basis investor domestik, Danantara diingatkan agar tidak terjebak dalam orientasi profit jangka pendek dan tetap memprioritaskan sektor produktif.
Pengamat Ekonomi dari Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), Gunawan Benjamin, menilai keterlibatan Danantara di pasar modal sebenarnya memiliki sisi positif.
Kehadiran lembaga ini diharapkan mampu menjadi penyeimbang, sekaligus benteng pertahanan pasar modal nasional dari permainan spekulan atau oknum elit yang seringkali menyetir harga demi keuntungan pribadi.
"Danantara bisa menjadi counter attack terhadap isu-isu di pasar modal yang sengaja digoreng dan disetir oleh sejumlah oknum elit. Harapannya, Danantara muncul sebagai investor yang berpihak pada kepentingan nasional dan mendorong terciptanya kinerja pasar saham yang berfundamental," kata Gunawan, Jumat (6/2/2026).
Namun, di balik optimisme tersebut, Gunawan menekankan adanya tanggung jawab besar yang harus diemban. Masyarakat dipastikan akan menuntut transparansi tingkat tinggi terkait pengelolaan dana tersebut.
Kritik utama yang muncul adalah kekhawatiran jika dana kelolaan justru mandek di instrumen keuangan, alih-alih membangun industri yang mampu menyerap tenaga kerja.
"Masyarakat tentunya berharap Danantara bisa membangun industri untuk menciptakan lapangan pekerjaan. Idealnya, dana yang dikelola disalurkan ke sektor produktif dibandingkan ke pasar keuangan. Pengembangan kebijakan investasi Danantara harus berfokus pada membangun sektor ril dan menjaga ketahanan ekonomi bangsa," ucapnya.
Gunawan menyarankan agar penempatan dana di pasar saham tidak dijadikan sebagai opsi utama kebijakan investasi. Investasi di saham sebaiknya hanya dilakukan jika terdapat dana menganggur (idle money) yang sifatnya sementara untuk menjaga arus kas perusahaan agar tetap produktif.
Ia menegaskan motor pembangunan ekonomi nasional seharusnya digerakkan oleh kebijakan strategis di sektor riil, sehingga tidak melulu bergantung pada APBN.
Jika pun Danantara tetap memilih berinvestasi di pasar keuangan, keterbukaan informasi kepada publik menjadi harga mati agar tidak menimbulkan kecurigaan dalam tata kelola keuangannya.
"Pastikan cash flow hanya masuk ke pasar keuangan, terlebih pasar saham, disaat ada idle money yang sifatnya sementara. Kemudian jangan pernah jadikan pasar keuangan sebagai opsi utama kebijakan investasi Danantara," ujarnya.





















