Pengamat: Penjualan Deli Park Mall Bukan Indikator Melemahnya Ritel dan Properti Sumut

Deli Park Mall (Foto: Agung Podomoro Group/Mistar)
Medan, MISTAR.ID
Pengamat Ekonomi Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, menilai penjualan Deli Park Mall tidak dapat dijadikan indikator melemahnya sektor ritel maupun properti di Sumatera Utara, meskipun daya beli masyarakat secara umum tengah mengalami tekanan.
Gunawan menjelaskan, berdasarkan fenomena belakangan ini, daya beli masyarakat memang sedang tertekan. Hal tersebut tercermin dari melambatnya pertumbuhan ekonomi Sumut pada tahun 2025. Pada kuartal III, ekonomi Sumut hanya tumbuh sebesar 4,55 persen secara tahunan (year on year) dan diproyeksikan tetap berada di bawah 5 persen hingga akhir tahun.
“Sumbangsih belanja rumah tangga masih mendominasi perekonomian Sumut. Oleh karena itu, melambatnya pertumbuhan ekonomi pada kuartal ketiga mencerminkan perlambatan belanja masyarakat,” katanya kepada Mistar, Senin (26/1/2026).
Namun demikian, kondisi tersebut tidak selalu tercermin di pusat perbelanjaan tertentu seperti Deli Park. Menurutnya, Deli Park memiliki segmentasi pasar yang berbeda dibandingkan pusat perbelanjaan lain di Kota Medan.
Aktivitas belanja di mal tersebut didominasi oleh masyarakat kelas ekonomi menengah ke atas, meskipun seluruh lapisan masyarakat juga menjadikannya sebagai destinasi rekreasi.
“Saya menilai penjualan Deli Park ini lebih disebabkan oleh strategi divestasi pemilik perusahaan,” tuturnya.
Divestasi tersebut, lanjut Gunawan, dapat berkaitan dengan kebutuhan likuiditas perusahaan maupun strategi lain dalam pengelolaan aset.
“Penjualan Deli Park tidak bisa dijadikan gambaran kondisi sektor properti atau ritel secara keseluruhan, terlebih jika kepemilikan Deli Park justru diambil alih oleh perusahaan yang memiliki reputasi baik di sektor ritel,” ujarnya.
Jika melihat kinerja ritel secara nasional, Gunawan menyebut indeks penjualan ritel masih berada dalam tren positif. Pada Oktober 2025, indeks penjualan ritel nasional tercatat sebesar 219,7. Penurunan tajam justru terjadi pada masa pandemi Covid-19, yang sempat menyentuh minus 20,6 persen pada Mei 2020.
“Tolak ukur kinerja sektor properti tidak bisa hanya dilihat dari hasil penjualan Deli Park Mall saja,” katanya.
Menurutnya, kondisi sektor properti harus ditinjau secara lebih luas, termasuk dari penjualan apartemen, ruko, rumah, serta hunian komersial lainnya.
“Di situ barulah kita bisa melihat bahwa sektor properti juga tengah mengalami tekanan, terutama jika mencermati kinerja ruko yang belakangan ini memburuk,” ucap Gunawan.
Gunawan juga menilai adanya potensi anomali pada kinerja penjualan ritel di Deli Park jika dibandingkan dengan kondisi ritel masyarakat secara umum. Perbedaan segmentasi pasar berpeluang menimbulkan perbedaan kinerja antar pusat perbelanjaan.
“Sehingga bukan berarti ketika penjualan ritel di toko modern menurun, hal yang sama juga terjadi pada ritel modern di Deli Park,” katanya.
Terkait dampak terhadap tenant, pelaku UMKM, maupun usaha pendukung di Deli Park, Gunawan memastikan pergantian kepemilikan tidak akan berpengaruh signifikan.
“Aktivitas Deli Park akan tetap berjalan seperti biasa (business as usual). Jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan dari langkah divestasi yang dilakukan perusahaan,” tutupnya.
PREVIOUS ARTICLE
IHSG Menguat ke 8.975 Meski 428 Saham Merah





















