Monday, July 20, 2026
home_banner_first
EKONOMI

Neraca Perdagangan RI 2025 Surplus Rp689 Triliun, AS Jadi Tujuan Utama

Mistar.idJumat, 6 Februari 2026 pukul 14.25 WIB
neraca_perdagangan_ri_2025_surplus_rp689_triliun_as_jadi_tujuan_utama_

Ilustrasi. (foto: istimewa/mistar)

news_banner

Jakarta, MISTAR.ID

Kinerja perdagangan luar negeri Indonesia menunjukkan hasil menggembirakan sepanjang 2025. Di tengah pelemahan harga komoditas global, Indonesia tetap membukukan surplus neraca perdagangan sebesar US$ 41,05 miliar atau setara Rp689,64 triliun dengan asumsi kurs Rp16.800 per dolar AS.

Menteri Perdagangan, Budi Santoso, mengatakan selama periode Januari–Desember 2025, total ekspor Indonesia mencapai US$ 282,91 miliar, sedangkan nilai impor tercatat sebesar US$ 241,86 miliar. Amerika Serikat (AS) tercatat sebagai negara penyumbang surplus perdagangan terbesar bagi Indonesia.

Surplus perdagangan Indonesia dengan AS mencapai US$ 18,11 miliar, dengan nilai ekspor sebesar US$ 30,96 miliar dan impor US$ 12,85 miliar. Posisi AS menggeser India yang sebelumnya menjadi mitra dengan surplus terbesar.

“Surplus terbesar Indonesia pada 2025 berasal dari Amerika Serikat, disusul India, Filipina, Belanda, dan Vietnam. Tahun-tahun sebelumnya India biasanya berada di posisi pertama, namun kini berada di urutan kedua,” ujar Budi dalam konferensi pers di Kementerian Perdagangan, Jakarta Pusat, Jumat (6/2/2026).

Perdagangan Indonesia dengan India mencatat surplus sebesar US$ 13,49 miliar, dengan nilai ekspor US$ 18,32 miliar dan impor US$ 4,84 miliar. Filipina menempati peringkat ketiga dengan surplus perdagangan US$ 8,42 miliar, didukung ekspor sebesar US$ 10,22 miliar dan impor US$ 1,80 miliar.

Selain itu, Indonesia juga mencatat surplus dengan Belanda sebesar US$ 4,81 miliar serta Vietnam US$ 4,47 miliar. Ekspor ke Belanda mencapai US$ 5,69 miliar, sementara ekspor ke Vietnam tercatat US$ 10,62 miliar.

Budi menjelaskan capaian tersebut diraih di tengah tekanan harga komoditas utama Indonesia sepanjang 2025. Secara global, harga crude palm oil (CPO) tercatat turun 16,2%, sedangkan harga batu bara melemah 19,7%.

“Selain tantangan proteksionisme, pada 2025 harga komoditas utama Indonesia juga mengalami penurunan di pasar internasional. Berdasarkan data Bloomberg, harga CPO turun 16,2% dan batu bara turun 19,7%,” katanya.

Meski demikian, total ekspor Indonesia sepanjang 2025 tetap tumbuh 6,15%. Ekspor nonmigas bahkan mencatat pertumbuhan lebih tinggi sebesar 7,66%, mencerminkan ketahanan kinerja ekspor nasional.

Surplus perdagangan sepanjang 2025 juga menandai surplus selama 68 bulan berturut-turut. Pemerintah berharap tren positif tersebut dapat terus berlanjut di tengah dinamika serta ketidakpastian ekonomi global.



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN