Monday, July 20, 2026
home_banner_first
EKONOMI

Ekspor Baja Indonesia Masih di Bawah Malaysia dan Vietnam

Mistar.idRabu, 4 Februari 2026 pukul 14.58 WIB
ekspor_baja_indonesia_masih_di_bawah_malaysia_dan_vietnam

Ilustrasi plat baja. (foto: Anadolu Agency/Mistar)

news_banner

Jakarta, MISTAR.ID

Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin), Faisol Riza, menyatakan Indonesia saat ini masuk dalam jajaran eksportir besi dan baja terbesar di kawasan Asia Tenggara, meski masih berada di bawah Malaysia dan Vietnam.

Sepanjang 2024, nilai ekspor baja nasional tercatat mencapai US$29,23 miliar atau setara Rp490,24 triliun. Angka tersebut menunjukkan kinerja ekspor industri baja yang terus menguat dan semakin terhubung dengan rantai perdagangan global.

“Ekspor industri baja Indonesia menunjukkan performa yang solid dengan nilai mencapai US$29,23 miliar pada 2024. Indonesia juga menjadi salah satu eksportir baja terbesar di Asia Tenggara setelah Malaysia dan Vietnam,” ujar Faisol dalam Rapat Kerja bersama Komisi VI DPR RI, Rabu (4/2/2026).

Capaian tersebut didorong oleh meningkatnya permintaan dari kawasan Asia Pasifik. China tercatat sebagai tujuan utama ekspor baja Indonesia, disusul Taiwan, India, Australia, dan Vietnam.

“Struktur pasar ekspor baja Indonesia masih didominasi kawasan Asia Pasifik, dengan China sebagai pasar terbesar senilai US$16,11 miliar, kemudian Taiwan, India, Australia, dan Vietnam,” katanya.

Selain kinerja ekspor, Faisol juga melaporkan pada 2025 Indonesia berhasil menempati peringkat ke-13 dunia sebagai produsen baja kasar. Total produksi baja kasar nasional sepanjang 2025 mencapai 19 juta ton, meningkat dibandingkan produksi tahun sebelumnya yang berada di angka 18,6 juta ton.

Sementara itu, konsumsi baja dalam negeri masih didominasi oleh sektor konstruksi yang menyerap sekitar 77,1% dari total konsumsi nasional. Sektor otomotif berada di posisi kedua dengan kontribusi 11,6%, diikuti industri peralatan rumah tangga sebesar 3,3%.

“Kondisi ini menunjukkan industri baja nasional masih sangat bergantung pada pembangunan infrastruktur dan properti sebagai pendorong utama permintaan,” ucap Faisol.

Meski demikian, tingkat konsumsi baja domestik dinilai masih relatif rendah. Pada 2025, konsumsi baja per kapita Indonesia tercatat sekitar 60 kilogram per orang, jauh di bawah rata-rata global yang mencapai 217 kilogram per kapita, serta tertinggal dari negara-negara produsen besar di Asia seperti Korea Selatan, China, dan Jepang.

Selain itu, tingkat utilisasi industri baja nasional rata-rata baru mencapai 52,7%. Menurut Faisol, kondisi ini menandakan masih terbukanya ruang yang sangat besar untuk ekspansi dan peningkatan kapasitas produksi di masa mendatang.



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN