Harga Pertamax Naik, Konsumsi Pertalite Melonjak 12,92 Persen

Ilustrasi. (foto: detik/mistar)
Jakarta, MISTAR.ID – Kenaikan harga BBM nonsubsidi berdampak terhadap pola konsumsi masyarakat. Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) mencatat adanya pergeseran konsumsi dari BBM nonsubsidi ke BBM bersubsidi, khususnya Pertalite.
Kepala BPH Migas Wahyudi Anas mengatakan, perubahan tersebut terlihat setelah harga Pertamax dan Pertamax Turbo mengalami kenaikan.
“Ini menunjukkan adanya pergerakan harga BBM khususnya RON 90 ini Pertalite. Ini konsumsinya cukup lumayan naik pasca adanya kenaikan harga BBM nonsubsidi, baik itu Pertamax maupun Pertamax Turbo,” ujar Wahyudi dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi XII DPR RI di Jakarta Pusat, Rabu (26/8/2026).
Berdasarkan pemantauan BPH Migas, rata-rata penyaluran Pertalite pada 18 April hingga 10 Juni 2026 tercatat sekitar 75.795 kiloliter (KL) per hari.
Angka tersebut kemudian meningkat setelah harga BBM nonsubsidi mengalami penyesuaian. Pada periode 10 Juni hingga 1 Juli 2026, konsumsi Pertalite bertambah 9,19 persen atau sekitar 6.965 KL per hari.
Kenaikan berlanjut pada periode 1-31 Juli 2026. Rata-rata konsumsi Pertalite tercatat meningkat 12,92 persen, dengan tambahan penyaluran mencapai sekitar 9.794 KL per hari dibandingkan kondisi awal.
Menurut Wahyudi, konsumsi Pertalite pada Agustus mulai sedikit mengalami penurunan seiring adanya koreksi harga Pertamax. Harga Pertamax yang sebelumnya berada di level Rp16.250 per liter turun menjadi Rp15.950 per liter.
“Artinya kenaikan konsumsi Pertalite yang rerata saat ini menjadi 84.368 KL ini memang shifting dari sisi pemindahan semula konsumsi Pertamax menjadi Pertalite,” kata Wahyudi.
Selain Pertalite, peningkatan penyaluran juga terjadi pada Jenis BBM Tertentu (JBT) Solar. Rata-rata distribusi Solar yang sebelumnya berada di angka 50.624 KL per hari meningkat secara bertahap hingga mencapai 58.271 KL per hari pada Agustus, atau tumbuh 15,10 persen.
Wahyudi menyebut pelebaran disparitas harga menjadi salah satu faktor yang mendorong peningkatan konsumsi Solar. Di sisi lain, kebutuhan bahan bakar juga ikut terdorong oleh meningkatnya aktivitas ekonomi nasional.
Kegiatan logistik, khususnya yang berkaitan dengan arus ekspor dan impor, mengalami peningkatan di sejumlah wilayah. Beberapa di antaranya meliputi Jawa Timur, Medan, Palembang, Riau, Kalimantan, hingga Makassar.
“Ini penting untuk dicermati karena di TW2 ini kegiatan logistik terus terjadi peningkatan, baik itu untuk ekspor maupun impor untuk didistribusikan kepada masyarakat di sekitar wilayah tersebut,” jelasnya.
Pertumbuhan sejumlah sektor produktif turut berkontribusi terhadap meningkatnya kebutuhan Solar. BPH Migas mencatat sektor perdagangan tumbuh 6,39 persen secara year to date (ytd), sedangkan sektor akomodasi serta makanan dan minuman tumbuh 10,60 persen ytd. Sementara itu, sektor pertanian tumbuh 3,8 persen.
“Dan ini mendorong kenaikan konsumsi minyak solar di samping sektor produksi lainnya,” tutur Wahyudi.



















