Harga Emas Turun di Tengah Konflik Iran-Israel, Pengamat Ungkap Sebabnya

Akademisi Universitas Simalungun, Raja Mengaratua Nainggolan. (Foto: Abdi/Mistar)
Pematangsiantar, MISTAR.ID
Di tengah memanasnya konflik Iran-Israel dan lonjakan harga minyak dunia hingga menembus 100 dolar AS per barel, harga emas justru bergerak berlawanan arah. Harga emas Antam dan global justru memasuki fase koreksi.
Akademisi Universitas Simalungun, Raja Mengaratua Nainggolan, menyoroti adanya pergeseran perilaku pasar yang dipicu oleh variabel ekonomi makro yang berbeda dibanding krisis sebelumnya.
Data historis menunjukkan emas biasanya menjadi bintang saat ketidakpastian memuncak. Namun, persentase kenaikan kali ini tidak seagresif masa lalu. Pertanyaannya adalah mengapa ketidakstabilan global saat ini tidak sepenuhnya konsisten dengan pola historis tersebut?
"Salah satu pemicu utama anomali ini adalah inflasi yang didorong oleh biaya (cost-push inflation). Penutupan Selat Hormuz telah mencekik distribusi minyak dunia, mendorong harga melambung dari $60 ke atas $100 per barel hanya dalam waktu tiga bulan," ujar Raja Mengaratua kepada Mistar, Selasa (7/4/2026).
Kenaikan harga energi ini berdampak langsung pada tekanan inflasi global. Biaya produksi dan transportasi naik di seluruh dunia. Respons bank sentral terhadap kondisi ini adalah dengan tetap bersikap agresif dalam kebijakan moneter.
“Secara teoritis, inflasi akan direspons oleh bank sentral melalui kenaikan suku bunga untuk meredam kenaikan harga. Dengan ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi, investor cenderung mengalihkan portofolio ke aset berbasis dolar AS dibandingkan emas,” jelasnya.
Raja mengatakan emas adalah aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset). Ketika suku bunga naik, daya tarik emas menurun karena opportunity cost meningkat. Investor lebih memilih menyimpan dana di deposito atau obligasi yang bunganya sedang tinggi.
Ia juga menyoroti keperkasaan dolar AS. Emas dihargai dalam dolar, sehingga saat dolar menguat akibat kenaikan suku bunga, harga emas menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain, yang pada akhirnya menekan permintaan.
Selain itu, kebutuhan likuiditas turut berperan. Dalam kondisi inflasi ekstrem, investor sering kali menjual kepemilikan emas mereka bukan karena tidak percaya, melainkan untuk mendapatkan uang tunai guna menutupi biaya operasional atau margin call di aset lain.
Ia menambahkan, dalam jangka pendek harga emas Antam diprediksi akan tetap berada dalam zona konsolidasi atau koreksi tipis. Selama inflasi akibat harga minyak belum melandai, bayang-bayang kenaikan suku bunga akan terus menekan harga logam mulia.
“Meskipun emas sedang terkoreksi, fundamentalnya sebagai pelindung nilai jangka panjang tetap terjaga. Fase koreksi ini sering kali dipandang oleh investor institusional sebagai kesempatan untuk melakukan re-entry di harga yang lebih rendah (buy on weakness), sebelum nantinya emas merespons efek jangka panjang dari penurunan daya beli mata uang fiat,” tuturnya. (hm25)





















