Friday, August 14, 2026
home_banner_first
EKONOMI

Harga Emas Hari Ini Melemah, Investor Cermati Kebijakan The Fed dan Selat Hormuz

Mistar.idJumat, 14 Agustus 2026 pukul 09.02 WIB
harga_emas_hari_ini_melemah_investor_cermati_kebijakan_the_fed_dan_selat_hormuz

Ilustrasi emas (Foto: Istimewa/Mistar)

news_banner

Jakarta, MISTAR.ID - Harga emas melemah pada perdagangan Jumat (14/8/2026) setelah sebelumnya menyentuh level tertinggi dalam 10 minggu. Investor kini kembali mencermati arah kebijakan Federal Reserve (The Fed) di tengah ketidakpastian terkait pembukaan kembali Selat Hormuz.

Meski terkoreksi, emas masih berada di jalur untuk membukukan kenaikan mingguan kedua secara beruntun. Kondisi tersebut didukung oleh data inflasi Amerika Serikat (AS) yang lebih rendah dari perkiraan sehingga mengurangi tekanan terhadap The Fed untuk menaikkan suku bunga.

Pada pukul 07.49 WIB, harga emas spot XAU/USD turun 0,4% menjadi US$4.335,56 per ons. Kontrak berjangka emas atau Gold Futures juga melemah 0,7% ke level US$4.391,34 per ons.

Tekanan juga terlihat pada logam mulia lainnya. Harga perak XAG/USD turun 0,6% menjadi US$64,09 per ons, sedangkan platinum XPT/USD terkoreksi 0,5% ke US$1.710,58 per ons.

Sementara itu, indeks dolar AS turun sekitar 0,1% ke level 99,90.

Data Ekonomi AS Jadi Perhatian Investor

Pergerakan emas dalam beberapa hari terakhir tidak terlepas dari perubahan ekspektasi terhadap kebijakan moneter AS.

Harga emas terkoreksi 1,3% pada Kamis setelah investor melakukan aksi ambil untung dan mengevaluasi kembali prospek kenaikan harga logam mulia. Data inflasi AS yang relatif terkendali menunjukkan tekanan harga akibat guncangan energi terkait konflik Iran mulai mereda pada Juli.

Pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada September berada di kisaran sepertiga. Investor juga akan mencermati sejumlah data ketenagakerjaan AS sebelum pertemuan The Fed berikutnya.

Perhatian pasar turut mengarah pada pidato Ketua The Fed Kevin Warsh dalam simposium Jackson Hole yang dijadwalkan berlangsung akhir bulan ini.

Data harga produsen AS turut memperkuat ekspektasi bahwa bank sentral AS dapat mempertahankan suku bunga. PPI utama AS tidak mengalami perubahan pada Juli, sedangkan PPI inti meningkat 0,2% secara bulanan. Kedua angka tersebut berada di bawah perkiraan konsensus.

Data tersebut melengkapi laporan CPI yang juga menunjukkan tekanan harga yang relatif terkendali.

Bagi pasar emas, prospek suku bunga yang tidak segera naik menjadi sentimen positif. Sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil bunga, emas cenderung mendapat dukungan ketika ekspektasi kenaikan suku bunga menurun.

Namun, kenaikan emas juga mulai menghadapi aksi ambil untung setelah harga menembus rata-rata pergerakan 100 hari. Level tersebut menjadi salah satu indikator teknikal yang diperhatikan pelaku pasar.

Selat Hormuz Jadi Risiko Baru bagi Harga Energi

Selain kebijakan The Fed, perkembangan di Timur Tengah juga menjadi faktor penting yang memengaruhi prospek emas.

Investor masih memantau upaya Washington dan Teheran untuk mengakhiri konflik serta membuka kembali Selat Hormuz. Jalur perairan tersebut memiliki peran penting dalam distribusi energi global sehingga perkembangan terkait pembukaannya dapat berdampak langsung terhadap harga minyak.

Jika terjadi eskalasi baru, harga minyak berpotensi kembali meningkat. Kondisi tersebut dapat memunculkan tekanan inflasi dan membuat The Fed memiliki alasan lebih kuat untuk mempertahankan kebijakan moneter yang ketat.

Sebaliknya, pembukaan Selat Hormuz secara berkelanjutan dapat meredakan kekhawatiran mengenai gangguan pasokan energi. Hal itu berpotensi menurunkan kembali risiko inflasi yang selama ini menjadi salah satu pertimbangan The Fed.

Emas Masih Didukung Permintaan Investor

Di tengah koreksi jangka pendek, emas masih memperoleh dukungan dari meningkatnya permintaan investor serta pembelian oleh bank sentral.

Permintaan dari China menjadi salah satu faktor yang turut menopang harga emas dalam beberapa pekan terakhir. Harga emas juga berhasil kembali berada di atas level psikologis US$4.000 per ons.

Pada awal pekan, emas bahkan bergerak di atas rata-rata pergerakan 100 hari untuk pertama kalinya sejak April. Namun, harga kemudian kembali berada di bawah level tersebut.

Kondisi ini membuat prospek emas dalam jangka pendek dinilai masih rentan terhadap konsolidasi. Inflasi AS yang lebih rendah memang mengurangi risiko kenaikan suku bunga dalam waktu dekat, tetapi ketidakpastian energi dan posisi investor yang sudah cukup tinggi dapat memicu aksi ambil untung lebih lanjut.

Dengan demikian, arah harga emas selanjutnya akan sangat dipengaruhi oleh data ekonomi AS, komunikasi The Fed, perkembangan harga energi, serta situasi di sekitar Selat Hormuz.



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN