Geopolitik AS–Tiongkok Buka Peluang Ekspor Sumut, Bank Ingatkan UMKM soal Rekam Kredit

Ilustrasi UMKM. (foto:online-pajak/mistar)
Medan, MISTAR.ID
Kepala Departemen Riset Industri dan Regional Bank Mandiri, Dendi Ramdani, mengungkapkan bahwa dinamika geopolitik global, khususnya persaingan antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok, telah menciptakan peluang besar bagi Sumatera Utara (Sumut) untuk meningkatkan ekspor dan menciptakan nilai tambah dari sumber daya alam.
Namun, ia juga menegaskan bahwa pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) harus memenuhi prinsip dasar perbankan agar dapat mengakses pembiayaan.
Dendi menyatakan bahwa secara prinsip, bank akan selalu tertarik membiayai sektor yang prospektif, seperti komoditas kopi. Namun, ketika berbicara pembiayaan UMKM, bank harus berhati-hati karena memiliki tanggung jawab kepada para penabung.
“Bank itu punya pertanggungjawaban kepada penabungnya. Jadi kalau menyalurkan dana, itu akan sangat hati-hati mengikuti prinsip-prinsip yang biasa dilakukan perbankan,” kata Dendi, Kamis (11/12/2025).
Ia menyoroti bahwa syarat paling dasar dan sederhana bagi UMKM untuk mendapatkan kepercayaan bank adalah memiliki rekam jejak kredit yang baik.
“Bank itu akan membiayai orang yang bisa dipercaya. Bisa dipercaya itu apa? Buat track record, track record kredit,” ucapnya.
Dendi menjelaskan, bagi UMKM perorangan, rekam kredit paling sederhana adalah catatan kredit kategori 1 atau riwayat pembayaran kredit kendaraan bermotor (mobil atau motor) yang lancar.
Selain itu, calon debitur harus membuktikan bahwa usahanya sudah berjalan dan memiliki arus kas yang stabil, karena bank tidak akan membiayai usaha baru dari nol.
“Jadi bank itu akan melakukan scale up atau memperbesar kapasitas yang sudah ada, tapi kan itu harus ditunjukkan dulu,” ujarnya.
Lebih lanjut, Dendi memaparkan bahwa pergeseran kekuatan politik global, dari AS ke Tiongkok, telah memicu perang dagang yang justru membuka peluang investasi dan pasar ekspor bagi Indonesia, termasuk Sumut.
Ia mencontohkan, pangsa pasar impor Tiongkok di AS mengalami penurunan tajam. Peluang ini telah dimanfaatkan Indonesia, misalnya di sektor elektronik, meskipun pangsa pasar Indonesia masih kecil. Sektor lain yang menunjukkan potensi besar adalah furnitur/kayu, di mana pangsa Indonesia di pasar AS meningkat dari 5,9 persen pada 2017 menjadi 15,8 persen.
Selain itu, komoditas unggulan Sumut masih memiliki ruang pasar yang luas. Perdagangan kopi dunia mencapai 51 miliar dolar AS, sementara ekspor Indonesia baru mencapai 1,6 miliar dolar AS. Cokelat dan kelapa juga menunjukkan potensi besar.
Perubahan Pola Belanja Dorong Sektor Jasa
Dendi juga menyoroti bahwa pola pergerakan ekonomi di Sumut, seperti halnya di Indonesia, didorong oleh sektor jasa yang terkait dengan pengalaman dan mobilitas.
“Sektor yang tumbuh tinggi itu transportasi, kemudian jasa lainnya. Jasa lainnya itu hiburan. Polanya itu lebih didorong atau dikendalikan oleh perilaku belanja masyarakat, terutama tadi experience-based consumption, traveling,” tuturnya.
Ia mencatat bahwa setelah pandemi, terjadi peningkatan signifikan pada belanja berbasis pengalaman (experience) sebesar 41 persen dibandingkan belanja barang. Hal ini menunjukkan potensi besar bagi sektor pariwisata, yang juga menjadi fokus pengembangan di Sumut.
Untuk memaksimalkan potensi sumber daya alam yang melimpah, Dendi Ramdani menekankan perlunya menciptakan nilai tambah dari setiap sumber daya alam yang dihasilkan, bukan hanya mengandalkan bahan mentah.
“Kita fokus ke komoditas dan industri. Cuma memang pertanyaannya, bagaimana kita bisa membuat value creation yang lebih tinggi? Itu poinnya di situ,” katanya.
Terakhir, ia menyarankan agar kurikulum pendidikan, terutama di SMK, harus diselaraskan dengan kebutuhan industri secara langsung. Dendi menyebut bahwa cara paling simpel untuk menciptakan tenaga kerja terampil adalah dengan melibatkan orang-orang industri sebagai pengajar atau perancang kurikulum, sehingga skillset yang dihasilkan sesuai dengan kebutuhan pasar kerja. (hm27)






















