Monday, July 20, 2026
home_banner_first
EKONOMI

Ekspor Kopi Sumut Terancam Anjlok 30% Akibat Banjir–Longsor, AEKI: Roda Ekonomi Bisa Terganggu

Mistar.idSelasa, 9 Desember 2025 pukul 17.20 WIB
ekspor_kopi_sumut_terancam_anjlok_30_akibat_banjirlongsor_aeki_roda_ekonomi_bisa_terganggu

Petani memetik kopi arabika saat panen massal dalam rangkaian festival panen kopi gayo di Rembele, Bener Meriah, Aceh, Rabu (21/11/2018). (Foto: Antara/Irwansya Putra/Mistar)

news_banner

Medan, MISTAR.ID

Komoditas kopi yang selama ini menjadi penyumbang devisa terbesar ketiga bagi Sumatera Utara (Sumut), kini menghadapi ancaman serius pascabencana banjir dan longsor di wilayah Sumatera bagian utara. Gangguan jalur distribusi dari Aceh dan Sumut diperkirakan akan memangkas volume ekspor hingga 30 persen.

Ketua Asosiasi Eksportir dan Industri Kopi Indonesia (AEKI), Saidul Alam, menjelaskan bahwa ekspor kopi dari Sumut dan Aceh tidak bisa dipisahkan, di mana hampir seluruh komoditas ini keluar melalui Pelabuhan Belawan.

“Angka ekspor kita, ini semuanya keluar melalui Belawan. Kita diuntungkan semuanya keluar melalui Belawan. Jadi, Aceh punya barang, Sumut punya nama. Devisanya tercatat di Sumatera Utara,” kata Saidul, Selasa (9/12/2025).

Saidul mencatat bahwa selama enam tahun berturut-turut, kopi telah menyumbang rata-rata USD 285 miliar hingga USD 400 miliar per tahun. Bahkan hingga Oktober 2025, kontribusi ekspor sudah mencapai USD 387 miliar.

Namun, dampak bencana yang melanda wilayah penghasil utama kopi, khususnya Aceh Tengah dan Bener Meriah yang masih terisolasi, akan sangat memengaruhi perekonomian Sumut pada tahun 2026.

“Semua jalur distribusi pasti akan tertutup, khususnya untuk ke daerah kopi. Hari ini masih belum (normal). Hanya baru bisa dicapai lewat udara,” ucapnya.

Menurut perhitungan AEKI, terputusnya jalur transportasi akan menyebabkan penurunan angka pengiriman kopi.

“Penurunan itu lebih kurang 20 hingga 30 persen akan terjadi koreksi penurunan,” ujarnya.

Penurunan ini dikhawatirkan akan mengoreksi devisa Sumut, yang saat ini berada di peringkat ketiga penyumbang devisa nasional.

“Bisa jadi kalau kopi khususnya di 2026 ini terkoreksi, bisa jadi nomor empat atau nomor lima tahun depan,” tutur Saidul. Ia memperkirakan kondisi baru bisa normal kembali sekitar April atau Mei 2026.

Saidul menekankan bahwa komoditas kopi bukan hanya sekadar ekspor, tetapi penggerak roda ekonomi bagi lebih dari setengah juta orang di Sumut dan Aceh, mulai dari petani, buruh panen, hingga pekerja di sektor hilir dan kafe.

Ia juga menyoroti momentum harga bursa kopi yang sedang tinggi dalam 20 tahun terakhir, mencapai 375 hingga 420 sen per lbs, jauh di atas harga sebelumnya. Namun, kenaikan harga bahan baku domestik yang mencapai Rp150.000 per kilogram (dibanding Rp15.000 di masa lalu) membuat produksi menjadi tantangan.

Mengingat pentingnya kopi, Saidul berharap perbaikan infrastruktur dapat segera dilakukan.

“Kopi bukan hanya sebuah komoditas, tapi penggerak roda ekonomi,” katanya. (hm27)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN