Monday, July 13, 2026
home_banner_first
EKONOMI

Blackout Sumatera Belum Dongkrak Harga Pangan, Omset Rumah Makan Justru Melesat

Mistar.idMinggu, 24 Mei 2026 pukul 18.26 WIB
blackout_sumatera_belum_dongkrak_harga_pangan_omset_rumah_makan_justru_melesat

Pengamat Ekonomi UISU, Gunawan Benjamin. (foto: istimewa/mistar)

news_banner

Medan, MISTAR.ID

Insiden pemadaman listrik massal (blackout) yang melumpuhkan Pulau Sumatra sejak Jumat malam hingga sebagian wilayahnya masih terdampak hingga Minggu (24/5/2026), belum memicu lonjakan harga pada komoditas kebutuhan pokok harian masyarakat.

Pengamat Ekonomi Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), Gunawan Benjamin, mengatakan meski pemadaman listrik skala besar sangat potensial mendorong volatilitas harga yang tinggi di tingkat pasar, hingga akhir pekan ini kurva harga pangan di Sumatera Utara terpantau masih berada di koridor aman dan stabil.

Gunawan memaparkan pemadaman yang terjadi mendadak Jumat malam dipastikan mengganggu sistem transaksi jual-beli di sejumlah pasar hilir dan pasar grosir utama di Medan, seperti Pasar Induk Lau Cih dan Pasar MMTC yang menjadi hub (pusat) distribusi para pedagang.

"Namun, berdasarkan pantauan saya pada Sabtu kemarin, harga sejumlah kebutuhan pokok belum menunjukkan adanya perubahan ekstrem. Harga komoditas hortikultura (sayur dan cabai), sumber protein (daging dan ikan), gula pasir, hingga minyak goreng semuanya terpantau stabil," ujarnya, Minggu (24/5/2026).

Menurut analisisnya, stabilnya harga ini terjadi karena komoditas pangan dipasok menjelang akhir pekan (weekend), di mana intensitas aktivitas industri dan korporasi besar tidak sepadat pada hari kerja biasa.

Kendati saat ini harga pangan masih aman, Gunawan mencoba merinci skenario bagaimana pemadaman listrik jangka panjang dapat merusak struktur harga di pasar jika tidak segera dimitigasi.

"Di hari biasa, pemadaman listrik di pasar induk tanpa sokongan genset akan membuat pedagang besar kesulitan memantau volume peredaran barang. Akibatnya, penentuan harga bergerak liar dan volatile hingga ke tingkat konsumen (ibu rumah tangga)," ucapnya.

Kemudian, untuk peternakan ayam modern (close house) sangat bergantung pada listrik untuk teknologi pengatur suhu ruangan.

Jika listrik padam terlalu lama dan pasokan solar genset terhambat, risiko ayam mati massal di kandang sangat tinggi, yang otomatis akan mendongkrak harga daging serta telur di pasaran memicu inflasi.

Di balik kelumpuhan sistem kelistrikan tersebut, Gunawan menemukan adanya anomali menarik di mana beberapa sektor usaha justru mendadak panen keuntungan finansial (windfall profit).

"Dari hasil pemantauan saya di lapangan, pemadaman massal ini justru mendorong peningkatan penjualan di rumah makan. Geliat kuliner baik di warung sederhana maupun restoran mewah, mengalami lonjakan kunjungan konsumen yang sangat signifikan, khususnya pada hari Sabtu. Hal ini terjadi karena banyak rumah tangga yang tidak bisa memasak di rumah akibat listrik padam," ujarnya.

Selain sektor kuliner, berkah blackout juga dirasakan oleh para pelaku usaha di sektor mekanikal. Toko-toko alat berat yang menjual mesin genset melaporkan adanya lonjakan pemesanan dan pembelian dari pelaku usaha mikro dan perumahan.

Kondisi serupa juga dialami para penyedia jasa servis atau perbaikan genset yang kebanjiran orderan dalam dua hari terakhir. Secara keseluruhan, Gunawan menyimpulkan belum ada dampak inflasi pangan langsung dari insiden ini.

"Semuanya masih terpantau stabil. Tapi ika blackout seperti ini berlangsung dalam durasi yang jauh lebih lama di masa depan, maka bisa dipastikan akan mendorong laju tekanan inflasi yang signifikan di wilayah terdampak," tuturnya.



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN