Kematian Dokter PPDS Unsrat, IDI: Dugaan Perundungan Belum Bisa Dipastikan

Dokter PPDS Unsrat, dr Adrian Rantung. (Foto: Instagram @Soalunsrat)
Medan, MISTAR.ID – Dokter yang sedang menempuh Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Anestesiologi di Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi (Unsrat), dr Adrian Rantung meninggal bunuh diri di rumah orang tuanya, Minggu (5/7/2026).
Menanggapi masalah ini, Wakil Ketua Pengurus Besar (PB) Ikatan Dokter Indonesia (IDI), dr Hamzah Hasan, mengatakan masih menunggu hasil investigasi secara menyeluruh terkait kasus kematian dr Adrian Rantung.
"Harus ada investigasi menyeluruh, kabar yang beredar katanya bullying, tapi belum ada penjelasan resminya. Sehingga apakah betul karena perundungan masih jadi tanda tanya," ujarnya kepada Mistar, Senin (13/7/2026).
Menurut informasi yang diterimanya dari salah seorang dokter di RSUP Kandou, almarhum saat itu baru menempuh semester tiga. Jadi, dugaan perundungan masih belum bisa dipastikan.
"Atau bisa jadi karena kelebihan jam kerja. Jadi, ada tekanan yang dialami almarhum saat menempuh proses pendidikan ditambah jam kerja berlebih," katanya.
Menurut dr Hamzah, investigasi menyeluruh penting dilakukan agar tidak salah mengambil tindakan memperbaiki sistem ke depan.
"Penanganan perundungan dan jam kerja berlebih pasti akan berbeda. Makanya harus betul-betul diinvestigasi agar tidak salah saat memperbaiki sistem," tuturnya. (hm20)
PREVIOUS ARTICLE
RSUD Tarutung Perkuat Sistem Rujukan dan Dorong Pemanfaatan Mobile JKN untuk Tingkatkan Layanan KesehatanNEXT ARTICLE
Lima Makanan Enak yang Bisa Jaga Kesehatan Otak























