Monday, July 13, 2026
home_banner_first
EKONOMI

Benjamin Gunawan: Kerugian Pengguna AC di Sumut Capai Puluhan Miliar Akibat Blackout Listrik

Mistar.idSenin, 25 Mei 2026 pukul 08.51 WIB
benjamin_gunawan_kerugian_pengguna_ac_di_sumut_capai_puluhan_miliar_akibat_blackout_listrik_

Pengamat Ekonomi UISU, Gunawan Benjamin. (foto: istimewa/mistar)

news_banner

Medan, MISTAR.ID

Dampak kerugian finansial akibat pemadaman listrik massal (blackout) yang melumpuhkan Pulau Sumatra sejak Jumat malam diprediksi mencapai angka yang fantastis.

Selain melumpuhkan aktivitas sosial, gangguan pada sistem interkoneksi ini juga memicu penurunan produktivitas dunia usaha, serta kerugian langsung pada sektor rumah tangga.

Pengamat Ekonomi Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), Gunawan Benjamin, mengatakan banyak indikator yang bisa dimasukkan dalam kalkulasi kerugian masyarakat.

Mulai dari kerusakan perangkat elektronik, kemacetan lalu lintas, penurunan output barang dan jasa, hingga biaya operasional tambahan (extra cost) seperti pembelian bahan bakar minyak (BBM) untuk mesin genset.

Gunawan mengatakan untuk menghitung kerugian akibat matinya aliran listrik, para ahli ekonomi umumnya menggunakan beberapa metode ilmiah. Di antaranya pendekatan regulasi kompensasi PLN, pendekatan fungsi kerusakan pelanggan, klaim kerugian aktual, hingga pendekatan Value of Lost Load (VOLL).

Metode VOLL merupakan instrumen moneter yang mengonversi hilangnya aspek utilitas, kenyamanan, serta potensi pendapatan masyarakat menjadi nilai mata uang (Rupiah).

"Sebagai ilustrasi kasar menggunakan pendekatan VOLL, kita ambil contoh basis data dari Badan Pusat Statistik (BPS) yang mencatat ada sekitar 3,5 juta rumah tangga di Sumatera Utara. Jika diasumsikan 20 persen di antaranya merupakan pengguna AC, dan nilai taksiran VOLL untuk 1 Kwh berada dalam rentang Rp10.000 hingga Rp40.000," kata Gunawan, Senin (25/5/2026).

Berdasarkan simulasi matematis tersebut, jika setiap rumah tangga kelas menengah ke atas itu diasumsikan hanya menyalakan satu unit AC berkapasitas 1 PK, angka kerugian yang dihasilkan ternyata sangat masif.

"Maka nilai kerugian yang dihasilkan khusus dari segmen rumah tangga pengguna AC di Sumatera Utara saja berada di kisaran Rp7 miliar hingga Rp28 miliar. Angka ini dihitung dengan asumsi AC tersebut mati atau tidak bisa digunakan dalam durasi sekitar 1 jam 47 menit saja," ucap Gunawan.

Kalkulasi tersebut dipastikan akan membengkak berkali-kali lipat jika durasi pemadaman melampaui waktu tersebut, atau jika dalam satu rumah tangga memiliki lebih dari satu unit AC dengan kapasitas di atas 1 PK.

Belum lagi jika ditambah dengan biaya tak terduga lain, seperti pengeluaran masyarakat yang terpaksa mengungsi dan menginap di hotel akibat rumah yang panas selama listrik padam.

Gunawan menambahkan, total kerugian absolut akibat blackout ini akan sangat bervariasi karena durasi pemulihan pasokan listrik di tiap daerah tidak sama pasca-pemadaman serentak pada Jumat malam lalu.

Namun secara makro, akumulasi kerugian di seluruh sektor ekonomi Sumatera berpotensi menyentuh angka yang sangat besar.

"Jika seluruh komponen usaha, industri manufaktur, dan pelayanan publik digabungkan, pendekatan perhitungan kerugian akibat pemadaman tersebut bisa mencapai ratusan triliun Rupiah," ujarnya.

Sementara dari sudut pandang korporasi, PT PLN (Persero) sebenarnya memiliki cara paling sederhana untuk menghitung kerugian riil mereka, yakni dengan mengalkulasi jumlah Kwh (energi listrik) yang gagal disalurkan kepada pelanggan selama masa blackout.

Dari angka kehilangan Kwh tersebut, pemerintah dan PLN dapat langsung memetakan seberapa besar output barang, jasa, serta perputaran ekonomi yang lenyap per satu unit energi listrik di Sumatera Utara.



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN