Ritual Martonggo Manguras Luat, Warga Tapteng Berdoa agar Dijauhkan dari Bencana

Tokoh Agama saat menyampaikan doa penyembelihan kerbau pada kegiatan ritual Martonggo Manguras Luat. (foto: feliks/mistar)
Tapteng, MISTAR.ID - Warga Tapanuli Tengah (Tapteng) menggelar prosesi ritual Martonggo Manguras Luat (menyampaikan doa permohonan) kepada Tuhan agar Tapteng dijauhkan dari segala bentuk bencana.
Ritual yang menghadirkan tokoh adat, tokoh masyarakat dan tokoh agama ini dilaksanakan di lokasi bencana, Kelurahan Sipange, Kecamatan Tukka pada acara puncak perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Kabupaten Tapteng ke-81, Kamis (27/8/2026).
Tokoh masyarakat Tapteng, Prins Walles Tambunan, mengatakan ritual Martonggo Manguras luat bukan sekadar tradisi, tetapi juga bentuk ikhtiar spiritual masyarakat dalam menghadapi situasi yang dianggap mengkhawatirkan seperti bencana alam yang masih terus melanda Kabupaten Tapteng.
"Kami para tokoh merasa terpanggil untuk melaksanakan acara yang sakral ulaon hahomion (ritual suci) ini. Ini adalah bentuk permohonan kami kepada kepada Tuhan, supaya segala bentuk bencana dijauhkan dari Tapteng," ujarnya.
Walles menjelaskan melalui ritual martonggo, masyarakat berharap doa yang disampaikan secara sakral dapat tersampaikan dan dikabulkan, terutama untuk memohon keselamatan dari ancaman bencana alam.
Menurutnya, acara yang digelar tersebut murni dilaksanakan masyarakat dan sumber dananya jelas hasil gotong royong masyarakat dengan menyediakan sendiri kerbau sebagai ritual Martonggo.
"Bupati dan Wakil Bupati kehadirannya dalam ritual Martonggo Manguras Luat ini adalah sebagai undangan masyarakat untuk menyaksikan ritual suci adat Batak yang digelar masyarakat," katanya.
Walles menambahkan, para tokoh menyerahkan pelean (kurban) kepada Sang Kuasa sebagai tanda ungkapan masyarakat atas keluhan kepada Tuhan. Kiranya permohonan masyarakat dapat diterima agar di kemudian hari bencana yang begitu dasyat itu tidak terjadi lagi di bumi perselada Kabupaten Tapteng.
Bupati Tapteng, Masinton Pasaribu, menyampaikan terima kasih kepada para tokoh yang menggelar tradisi ritual Martonggo Manguras Luat secara adat Batak, doa bersama dan memotong kerbau.
Menurutnya, acara sakral yang digelar masyarakat itu sebagai ungkapan masyarakat dan doa tolak bala dari bencana agar Tapteng dijauhkan dari bencana.
"Artinya pendekatan baik itu dilakukan masyarakat melalui pendekatan secara spiritual melalui doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa," ujarnya.
Masinton menambahkan pendekatan melalui tradisi, adat, dan budaya, dan juga pendekatan secara teknis, pemerintahan, dan lain sebagainya, termasuk sebagai upaya masyarakat yang meyakini dapat mengatasi keadaan bencana ini.






















