Kasum TNI Pastikan Bangun Jembatan Bailey di Lubuk Ampolu, Desa Nyaris Hilang Diterjang Banjir

Kepala Staf Umum TNI, Letjen TNI Richard Tampubolon didampingi Bupati Tapteng saat mengunjungi Desa Lubuk Ampolu. (foto:feliks/mistar)
Tapteng, MISTAR.ID
Kepala Staf Umum (Kasum) TNI Letjen TNI Richard Tampubolon mengatakan, pihaknya akan membangun jembatan Bailey di Desa Lubuk Ampolu, Kecamatan Badiri, Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng) yang nyaris hilang.
Hal itu disampaikannya menjawab permintaan warga saat mengunjungi Desa Lubuk Ampolu bersama Danrem 023/KS Kolonel Inf Iwan Budiarso dan Bupati Tapteng Masinton Pasaribu, Kamis (26/2/2026).
Jembatan Lubuk Ampolu diketahui rusak diterjang bencana banjir pada 16 Februari 2026 lalu dan alur sungai yang ada di desa itu berpindah ke rumah warga yang membuat desa tersebut nyaris hilang.
Saat kunjungan itu, terlihat hanya satu unit alat berat yang sedang melakukan normalisasi untuk mengeruk alur sungai agar kembali ke jalur awalnya, sehingga rumah warga tidak terendam air lagi.
"Pak, kami minta dibangunkan tanggul dan perbaikan jembatan kami," teriak seorang warga di Desa Lubuk Ampolu yang menunggu kunjungan jenderal berbintang tiga itu.
Ungkapan itu menjadi suara perwakilan warga yang kecewa atas lambannya penanganan pemulihan bencana oleh pemerintah pusat yang dirasakan warga Desa Lubuk Ampolu.
Hujan saat ini menjadi momok menakutkan bagi warga desa itu akibat tanggul sungai yang tak kunjung dibangun sehingga rumah mereka kini menjadi alur sungai.
Suara harapan warga itu langsung mendapat tanggapan dari Kasum TNI Letjen Richard Tampubolon. Ia mengatakan, kunjungannya kali ketiga ini guna meninjau langsung ke lapangan untuk menentukan langkah yang tepat.
"Jadi akan ada kolaborasi antara TNI, Kementerian PU, dan BNPB, serta Pemkab Tapteng agar penanggulangannya lebih cepat," ujarnya.
Richard yang merupakan mantan Danrem 023/KS ini menegaskan, fokus utama TNI yakni membangun jembatan Bailey yang akan menjadi penghubung antar desa di Kecamatan Badiri, seperti Desa Lubuk Ampolu dan Pagaran Honas yang roboh akibat bencana hidrometeorologi.
"Jadi ada jalan jembatan kayu di sana harus segera dibuat permanen karena nanti untuk pembangunan sabo dam di atas hulu sana, dinding-dinding ini, kan ada mobilisasi peralatan," katanya.
Ia menambahkan, perbaikan infrastruktur jembatan sangat penting guna memulihkan mobilisasi aktivitas dan perekonomian warga, mengingat mata pencaharian warga desa sebagai petani karet dan durian.
Untuk diketahui, warga Desa Lubuk Ampolu pernah mengeluh meminta pemerintah pusat menurunkan alat berat guna memperbaiki alur sungai yang saat ini telah berpindah ke rumah penduduk.
Akibat berpindahnya jalur sungai itu, Desa Lubuk Ampolu dikhawatirkan akan terancam hilang akibat tergerus arus sungai, serta membuat puluhan warga mengalami trauma mendalam.
Ratusan rumah mengalami rusak parah, bahkan roboh tertimpa kayu gelondongan yang terbawa arus dari hulu sungai yang dihuni sekitar 80 kepala keluarga (KK). Mereka kini telah mengungsi untuk berlindung dari banjir susulan di salah satu rumah ibadah, tepatnya di Gereja BNKP, Desa Kebun Pisang. (hm27)






















