Monday, July 20, 2026
home_banner_first
SUMUT

Garoga Nasibmu Kini: Desa Lumbung Padi di Tapsel Rata Disapu Bencana

Mistar.idSelasa, 2 Desember 2025 pukul 11.18 WIB
garoga_nasibmu_kini_desa_lumbung_padi_di_tapsel_rata_disapu_bencana

Kondisi Desa Garoga pasca diterjang banjir bandang. (foto: Iqbal/mistar)

news_banner

Tapanuli Selatan, MISTAR.ID

Desa Garoga yang terletak tepat di perbatasan Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel) dan Tapanuli Tengah (Tapteng) menjadi desa yang paling berdampak atas bencana alam banjir bandang beberapa waktu lalu.

Garoga sekaligus jadi desa terakhir yang dilalui masyarakat Tapsel jika hendak bepergian ke Tapteng. Secara ukuran, desa ini tidak terlalu besar, hanya 235 Kartu Keluarga (KK) yang tercatat saat ini. Namun desa ini ternyata memiliki kekayaan alam yang terjaga sejak dahulu kala.

Hamparan lahan persawahan milik warga terbentang luas di belakang hunian warga. Pepohonan hortikultura juga berdiri kokoh di bawah bukit-bukit gunung yang mengelilingi Garoga. Bahkan tak sulit menemukan buah durian di desa tersebut.

"Desa kami ini penduduknya, 235 Kepala Keluarga, warganya sekitaran 1150 orang, dan seratus persen warga kami berdampak disini, rumah hancur," ujar Kepala Desa Garoga, Risman Rambe kepada Mistar, Selasa (2/12/2025).

Risman tak menyangka kejadian luar biasa tersebut kini menimpa desa yang dirinya pimpin. Kini, rumah-rumah warga hancur merata, bahkan tak sedikit yang hanya meninggalkan sisa-sisa keramik lantai.

Diakuinya, sepanjang hidup yang dijalaninya, baru kali ini Desa Garoga luluh lantak disapu arus banjir bandang. Alhasil puluhan hektare lahan persawahan juga rata dengan tanah.

"Lahan pertanian 54 hektar hancur total, ratusan tahun Desa kami ini, baru kali inilah begini," tuturnya.

Lebih dari itu, kesedihan tak berujung Risman dan warganya bertambah mengingat belum lama ini bibit padi baru ditanam di persawahan mereka.

"Ya pasir dan kayu-kayu besar menumpuk, lahan-lahan tertimbun pasir, ini semua baru siap tanam ini, masih nampak hijau-hijaunya, baru seminggu siap tanam begini keadaannya," kata Risman sembari memperlihatkan kondisi sawah mereka.

Kepala Desa Garoga, Risman Rambe saat diwawancarai. (Foto: Iqbal/Mistar)

Garoga selama ini memang menjadi salah satu lumbung padi terbesar di Tapanuli Selatan, khususnya kecamatan Batang Toru. Karena itu dirinya khawatir kedepan tidak bisa menanam lagi karena lahan sudah dipenuhi pasir, lumpur dan kayu-kayu besar.

"Jadi Desa kami ini menjadi lumbung padi khususnya di Kecamatan Batang Toru, jadi kalau kondisinya seperti ini kami tidak bisa lagi berusaha (berladang), sudah tidak bisa digunakan lagi (lahannya)," ucapnya.

Garoga tidak henti-hentinya menghasilkan kekayaan alam untuk Tapanuli Selatan. Bahkan di musim lainnya, warga memanfaatkan hasil tani seperti jagung dan sayur-sayuran. Menurutnya, Garoga bukan hanya pendukung pangan bagi daerah, tapi turut menantu program pemerintah pusat.

"Selain sawah ada juga tanaman keras palawija, cuma yang kami utama disini adalah tanaman padi dan hortikultura. Program Pak Prabowo kan salah satunya adalah ketahanan pangan, nah kami sudah menggerakkan itu. Tanaman jagung kami sudah hancur, padi pun begitu. Jadi kami sudah buat program itu bersama kelompok-kelompok tadi disini," ujar Risman.

Ia berharap agar penanganan desa bisa terus membaik, agar desanya bisa kembali seperti sediakala. Lahan kembali subur, masyarakat kembali makmur.

"Kita lihat 99 persen warga disini petani sawah, makanya daerah kami dikelilingi sungai Garoga I dan Garoga II. Maka harapan kami agar bisa dibantu untuk lahan-lahan kami," katanya.

Risman menyesalkan kayu-kayu besar bisa menghantam pemukiman warga. Kayu-kayu itu terbawa arus air banjir bandang yang kuat sepekan yang lalu. Ia pun tak kuasa menjawab asal muasal kayu-kayu tersebut.

"Makanya saya juga heran darimana kayu ini, kalau dibilang masyarakat yang menebang liar, masyarakat saya tidak ada yang keluar menebang liar di hulu sungai Garoga," tuturnya.

Kini, hanya bantuan tangan-tangan baik yang diharapkannya. Warga Desa Garoga saat ini masih mengungsi di tempat yang disediakan.

"Saat ini yang dibutuhkan tentu makanan, dan tenda-tenda pengungsian, karena warga kami masih menyebar ada yang di Desa Batu Hula ada yang di Desa Aek Pining," ucapnya.



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN