Dari Ruang Redaksi ke Ruang Sidang: Perjalanan Denny Syafrizal Jadi Kurator Kepailitan

Denny Syafrizal, S.H., http://M.Kn., mantan wartawan yang kini berprofesi sebagai kurator dan pengacara. (Foto: Dok. Pribadi/mistar.id)
Asahan, MISTAR.ID (13/9/2026) - Nama Denny Syafrizal, SH.MKn., mungkin kini lebih dikenal sebagai kurator dan konsultan hukum. Tapi jejak pena dan catatan liputannya di dunia jurnalistik ternyata masih melekat kuat.
Pria kelahiran Desa Padang Sipirok, Kabupaten Asahan, ini memulai kariernya bukan dari ruang sidang, melainkan dari meja redaksi.
"Dulu saya banyak belajar dari dunia jurnalistik. Jadi wartawan membuat saya mengerti banyak hal," ujar Denny saat berbincang di Kisaran, Minggu (13/9/2026).
Kecintaan Denny pada dunia tulis-menulis tumbuh sejak kuliah di Sekolah Tinggi Ilmu Hukum Muhammadiyah Asahan. Ia aktif di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) dan Lembaga Pers Mahasiswa Asahan (LPMA). Dari sanalah ia belajar bertanya, mencari fakta, dan menulis.
Setelah lulus, Denny merantau ke Medan. Antara 2012 hingga 2016, ia bekerja sebagai staf redaksi di salah satu surat kabar di Medan. Ia juga sempat menjadi penulis di kantor berita ekonomi dan politik.
Bagi Denny, menjadi wartawan bukan sekadar mencari berita. Dunia jurnalistik mengajarinya berhadapan langsung dengan manusia dan persoalan yang kompleks.
"Di lapangan kita belajar menggali, memeriksa, dan melihat persoalan dari berbagai sisi sebelum disampaikan ke publik. Pengalaman itu jadi modal besar saya sampai hari ini," katanya.
Berpindah Haluan ke Hukum
Anak pertama dari dua bersaudara ini kemudian melanjutkan pendidikan. Ia menamatkan S1 Ilmu Hukum dan mengambil S2 Kenotariatan di Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara pada 2022.
Langkahnya tidak berhenti di situ. Denny terus menambah kompetensi lewat pelatihan dan sertifikasi profesi. Pada 2025, ia resmi tercatat sebagai kurator dan pengurus di Asosiasi Kurator dan Pengurus Indonesia (AKPI).
Kini ia memimpin Lex Priority Consulting, kantor hukum dan konsultan pajak yang berkantor di Medan.
"Bidang kepailitan itu menantang dan tanggung jawabnya besar. Ada banyak kepentingan yang harus dijaga secara proporsional. Seorang kurator tidak cukup hanya paham hukum. Dia harus punya integritas, objektivitas, dan kemampuan berkomunikasi. Justru itu yang saya dapat saat jadi wartawan," jelasnya.
Jurnalisme Tak Pernah Mati
Bagi Denny, dunia jurnalistik dan hukum ternyata tidak bertolak belakang. Jika dulu ia menulis berita dan mewawancarai narasumber, kini ia membaca dokumen hukum, bernegosiasi, dan menyelesaikan sengketa kepailitan.
"Setiap fase hidup punya pelajarannya. Saya tidak melihat masa sebagai wartawan sebagai masa lalu yang terpisah. Itu bagian penting yang membentuk cara saya berpikir dan bekerja," ucapnya.
Dari Asahan ke Medan, dari ruang redaksi ke ruang sidang. Denny membuktikan, pengalaman masa lalu bisa menjadi bekal untuk melangkah ke masa depan. (hm02)
PREVIOUS ARTICLE
Dibantah Pemkab, Pergeseran Anggaran Rp9 Miliar di Deli Serdang Sudah Dilaporkan ke DPRD


































