Friday, July 3, 2026
home_banner_first
SUMUT

Air PAM Kerap Mati, Pengelola Wisata Pasir Putih Parbaba Keluhkan Pelayanan di Kawasan Pariwisata Samosir

Mistar.idJumat, 15 Mei 2026 pukul 20.15 WIB
air_pam_kerap_mati_pengelola_wisata_pasir_putih_parbaba_keluhkan_pelayanan_di_kawasan_pariwisata_samosir

Pengelolaan objek wisata pasir putih Parbaba, Mangoloi Sihaloho saat mengecek air PAM. (Foto: Pangihutan/mistar)

news_banner

Samosir, MISTAR.ID

Pengelola objek wisata Pasir Putih Parbaba di Desa Huta Bolon, Kecamatan Pangururan, Kabupaten Samosir, mengeluhkan buruknya pelayanan air bersih dari Perusahaan Air Minum (PAM) yang dinilai kerap mati tanpa pemberitahuan. Kondisi itu disebut berdampak langsung terhadap kenyamanan wisatawan yang berkunjung ke kawasan wisata Danau Toba tersebut.

Keluhan itu disampaikan pengelola objek wisata Pasir Putih Parbaba, Mangoloi Sihaloho, saat ditemui di kawasan wisata, Jumat (15/5/2026). Ia menyebut pasokan air bersih yang tidak stabil menjadi persoalan serius bagi pelaku usaha pariwisata di Pangururan.

Menurut Mangoloi, matinya aliran air PAM sering terjadi pada waktu-waktu tertentu, bahkan dapat berlangsung dalam waktu cukup lama. Akibatnya, aktivitas wisatawan dan operasional penginapan di sekitar objek wisata ikut terganggu.

“Kalau air PAM mati, tamu wisata langsung mengeluh. Kamar mandi tidak bisa digunakan dengan baik, sementara wisatawan sangat membutuhkan air bersih,” ujarnya.

Ia mengatakan, persoalan tersebut bukan sekali dua kali terjadi. Bahkan, dalam beberapa bulan terakhir, gangguan distribusi air disebut semakin sering dialami masyarakat dan pelaku usaha wisata.

Mangoloi menilai kondisi itu dapat merusak citra pariwisata Kabupaten Samosir yang selama ini dikenal sebagai salah satu destinasi unggulan di kawasan Danau Toba.

Menurutnya, wisatawan yang datang dari luar daerah tentu berharap mendapat pelayanan dan fasilitas yang layak, termasuk ketersediaan air bersih di penginapan maupun lokasi wisata.

“Bagaimana wisatawan mau nyaman kalau air sering mati. Ini kebutuhan dasar dalam pelayanan pariwisata,” katanya.

Ia menjelaskan, ketika aliran air berhenti, sejumlah kamar mandi di penginapan dan hotel sekitar Pasir Putih Parbaba tidak dapat difungsikan secara normal.

Tidak hanya itu, kondisi kamar mandi juga menjadi cepat kotor karena keterbatasan air untuk membersihkan fasilitas umum yang digunakan wisatawan.

Mangoloi mengaku pihak pengelola sering menerima keluhan langsung dari pengunjung terkait minimnya pasokan air bersih, terutama saat akhir pekan dan musim libur.

Menurutnya, jumlah wisatawan yang meningkat pada musim liburan membuat kebutuhan air bersih juga bertambah. Namun, pelayanan distribusi air dinilai belum mampu memenuhi kebutuhan tersebut.

Ia berharap pemerintah daerah dan pihak PAM segera melakukan evaluasi terhadap sistem distribusi air di kawasan wisata Pangururan.

“Pariwisata ini sektor penting di Samosir. Kalau fasilitas dasar seperti air saja bermasalah, tentu wisatawan bisa kecewa,” tuturnya.

Mangoloi juga meminta adanya pemberitahuan resmi kepada masyarakat maupun pelaku usaha apabila terjadi gangguan distribusi air, sehingga mereka dapat melakukan antisipasi lebih awal.

Selain itu, ia berharap pemerintah tidak menutup mata terhadap persoalan yang dihadapi para pelaku usaha wisata yang selama ini ikut mendukung sektor pariwisata daerah.

Menurutnya, keberadaan hotel, penginapan, hingga objek wisata di kawasan Parbaba memiliki kontribusi terhadap peningkatan ekonomi masyarakat setempat.

Ia menambahkan, kenyamanan wisatawan menjadi faktor utama dalam menjaga kunjungan wisata ke Kabupaten Samosir agar tetap stabil.

“Kalau wisatawan kecewa karena fasilitas tidak memadai, tentu mereka bisa enggan kembali berkunjung ke Samosir,” ucapnya.

Mangoloi berharap persoalan air bersih tersebut segera mendapat solusi konkret agar aktivitas pariwisata di kawasan Pasir Putih Parbaba dapat berjalan normal tanpa keluhan dari pengunjung.



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN