Friday, July 3, 2026
home_banner_first
PIALA DUNIA 2026

Swiss Akhiri Kutukan 88 Tahun! Embolo dan Ndoye Antar Nati Melaju ke 16 Besar Piala Dunia 2026

Mistar.idJumat, 3 Juli 2026 pukul 15.23 WIB
swiss_akhiri_kutukan_88_tahun_embolo_dan_ndoye_antar_nati_melaju_ke_16_besar_piala_dunia_2026

Para pemain Swiss merayakan kemenangannya atas Aljazair. (foto:getty image via reuters/mistar)

news_banner

Pematangsiantar, MISTAR.ID - Swiss akhirnya berhasil mematahkan kutukan yang membayangi mereka selama hampir sembilan dekade. Kemenangan 2-0 atas Aljazair di BC Place, Vancouver, Jumat (3/7/2026), memastikan langkah tim berjuluk Nati itu ke babak 16 besar Piala Dunia 2026 sekaligus mengakhiri penantian panjang selama 88 tahun untuk kembali memenangi laga fase gugur turnamen paling bergengsi tersebut.

Gol Breel Embolo pada menit ke-10 dan Dan Ndoye di awal babak kedua menjadi pembeda dalam pertandingan yang memperlihatkan kematangan permainan Swiss. Di balik kemenangan itu, penampilan gemilang Johan Manzambi kembali mencuri perhatian dan menegaskan statusnya sebagai salah satu bintang muda paling bersinar di turnamen ini.

Kutukan 88 Tahun Berakhir di Vancouver

Sebelum menghadapi Aljazair, Swiss membawa beban sejarah yang tidak ringan. Mereka selalu gagal melewati pertandingan fase gugur Piala Dunia sejak terakhir kali mengalahkan Jerman pada 1938.

Namun catatan buruk tersebut akhirnya berakhir di Vancouver.

Pasukan Murat Yakin tampil efektif dan disiplin untuk mengamankan kemenangan yang juga menjadi kemenangan ketiga beruntun mereka di Piala Dunia 2026. Rekor tersebut merupakan yang pertama dalam sejarah partisipasi Swiss di ajang Piala Dunia.

Keberhasilan ini semakin menegaskan bahwa Swiss bukan lagi sekadar tim yang sulit dikalahkan, melainkan salah satu kuda hitam yang layak diperhitungkan dalam perebutan gelar.

Embolo Membuka Jalan Kemenangan

Aljazair sebenarnya mengawali pertandingan dengan cukup menjanjikan. Peluang emas sempat didapat Houssem Aouar pada menit keenam, tetapi gagal dimaksimalkan menjadi gol.

Kegagalan itu langsung dibayar mahal.

Empat menit kemudian, Johan Manzambi menunjukkan kualitas individunya dengan melewati Aissa Mandi sebelum mengirim umpan matang kepada Breel Embolo. Penyerang berusia 29 tahun itu tanpa kesulitan menaklukkan Luca Zidane untuk membawa Swiss unggul 1-0.

Gol tersebut menjadi gol keempat Embolo di ajang Piala Dunia, sekaligus memperkuat posisinya sebagai salah satu penyerang paling produktif dalam sejarah tim nasional Swiss.

Meski Aljazair lebih dominan dalam penguasaan bola hingga turun minum, mereka kesulitan menciptakan peluang berbahaya yang benar-benar mengancam gawang Gregor Kobel.

Gol Cepat Ndoye Mematikan Perlawanan Aljazair

Harapan Aljazair untuk bangkit setelah jeda langsung mendapat pukulan telak.

Babak kedua baru berjalan 48 detik ketika Denis Zakaria berhasil memotong umpan di lini belakang lawan. Bola kemudian jatuh ke kaki Dan Ndoye yang berdiri bebas di depan kotak penalti.

Winger Nottingham Forest itu tidak menyia-nyiakan kesempatan. Dengan tenang, ia melepaskan tembakan terukur ke sudut kiri bawah gawang untuk menggandakan keunggulan Swiss menjadi 2-0.

Gol cepat tersebut mengubah jalannya pertandingan. Aljazair berusaha merespons melalui Riyad Mahrez dan kawan-kawan, tetapi rapatnya pertahanan Swiss membuat setiap peluang yang tercipta gagal berbuah gol.

Swiss bahkan nyaris memperbesar keunggulan melalui Fabian Rieder menjelang akhir laga. Namun peluang emas yang didapatnya gagal dimaksimalkan setelah tembakannya justru mengarah tepat ke pelukan Luca Zidane.

Meski demikian, hasil akhir tetap tidak berubah. Swiss melangkah ke babak berikutnya dengan kemenangan meyakinkan 2-0.

Johan Manzambi, Permata Baru yang Sedang Bersinar

Di tengah euforia kemenangan Swiss, nama Johan Manzambi kembali menjadi bahan pembicaraan.

Pemain berusia 20 tahun itu kembali menunjukkan mengapa dirinya menjadi salah satu talenta muda paling menjanjikan di Piala Dunia 2026.

Assist untuk gol Embolo membuat catatan kontribusinya di turnamen ini semakin impresif. Hingga babak gugur, Manzambi telah terlibat langsung dalam lima gol Swiss dengan rincian tiga gol dan dua assist.

Catatan tersebut menjadikannya pemain Swiss pertama yang berkontribusi langsung dalam lima gol pada satu edisi Piala Dunia sejak pencatatan statistik modern dimulai pada 1966.

Lebih istimewa lagi, pada usia 20 tahun 261 hari, ia menjadi pemain termuda yang mencapai lima kontribusi gol di Piala Dunia dalam hampir enam dekade terakhir.

Penampilan konsistennya sepanjang turnamen juga mulai memunculkan spekulasi mengenai ketertarikan sejumlah klub elite Eropa terhadap dirinya.

Profil Breel Embolo: Mesin Gol yang Tak Pernah Padam

Breel Donald Embolo lahir di Yaoundé, Kamerun, pada 14 Februari 1997 sebelum kemudian tumbuh dan berkembang di Swiss.

Karier profesionalnya dimulai bersama FC Basel sebelum melanjutkan petualangan ke Schalke 04, Borussia Mönchengladbach, AS Monaco, hingga Rennes.

Di level internasional, Embolo telah menjadi bagian penting Swiss dalam berbagai turnamen besar, termasuk Piala Dunia 2018, Piala Dunia 2022, Euro 2020, Euro 2024, hingga Piala Dunia 2026.

Kekuatan fisik, kecepatan, dan kemampuannya membuka ruang membuat Embolo tetap menjadi andalan utama Swiss di lini depan. Gol ke gawang Aljazair menjadi bukti bahwa insting predatornya masih sangat tajam ketika dibutuhkan.

Dan Ndoye, Senjata Mematikan dari Sisi Sayap

Dan Ndoye lahir di Nyon, Swiss, pada 25 Oktober 2000. Pemain yang mengawali karier profesional bersama Lausanne-Sport itu kemudian memperkuat Nice, Basel, Bologna, dan kini bermain untuk Nottingham Forest.

Ndoye dikenal sebagai pemain sayap modern yang memiliki kecepatan tinggi, kemampuan menggiring bola yang baik, serta agresivitas saat melakukan tekanan kepada lawan.

Performa impresifnya di Piala Dunia 2026 menjadi salah satu faktor penting di balik keberhasilan Swiss melangkah jauh. Gol yang dicetaknya ke gawang Aljazair memperlihatkan ketenangan sekaligus kualitas penyelesaian akhir yang semakin matang.

Perpaduan Generasi yang Membuat Swiss Berbahaya

Keberhasilan Swiss melaju ke babak 16 besar bukan hanya soal kemenangan atas Aljazair.

Tim asuhan Murat Yakin kini memiliki keseimbangan yang jarang dimiliki generasi-generasi sebelumnya. Granit Xhaka tetap menjadi pemimpin dan pengatur tempo permainan, Manuel Akanji menjaga kokohnya lini belakang, sementara Embolo, Ndoye, dan Manzambi memberikan ancaman nyata di lini depan.

Kombinasi pengalaman dan darah muda inilah yang membuat Swiss tampil semakin matang sepanjang turnamen.

Jika performa mereka terus meningkat, bukan tidak mungkin Swiss akan melangkah lebih jauh dan menjelma menjadi salah satu kejutan terbesar di Piala Dunia 2026.

(berbagaisumber/hm27)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN