Monday, August 3, 2026
home_banner_first
SIANTAR SIMALUNGUN

Kisah Kas Sirait Pertahankan Toko Buku Legendaris di Era Digital

Mistar.idKamis, 18 Juni 2026 pukul 05.00 WIB
kisah_kas_sirait_pertahankan_toko_buku_legendaris_di_era_digital

Toko buku bekas di Jalan Merdeka, Kota Pematangsiantar. (Foto: Abdi/Mistar)

news_banner

Pematangsiantar, MISTAR.ID

Di tengah badai digitalisasi yang memaksa banyak toko buku modern gulung tikar, sebuah kios sederhana di Jalan Merdeka, Kelurahan Pardomuan, Kecamatan Siantar Timur, Kota Pematangsiantar, justru menolak punah.

Toko buku itu berdiri kokoh bukan karena modal raksasa, melainkan karena kecintaan seorang pria tua terhadap literasi. Ia adalah Kas Sirait, sosok di balik layar yang berhasil menjaga warisan literasi di kota ini selama puluhan tahun.

Perjalanan Kas Sirait di dunia literasi dimulai lebih dari setengah abad lalu, tepatnya pada tahun 1972. Saat masih duduk di bangku SMP dan SMA, Kas sudah akrab dengan aroma tinta koran yang dijajakannya di jalanan demi menyambung hidup.

Ketekunan itu membuahkan hasil. Dua tahun berselang, pada 1974, ia mulai memberanikan diri merambah usaha penjualan buku di kawasan Bioskop Medan. Pengalaman empiris di jalanan itulah yang kemudian menjadi fondasi kuat ketika ia memutuskan hijrah dan membuka toko buku mandiri di Kota Pematangsiantar pada tahun 1990.

Sejak saat itu, tokonya menjadi saksi bisu pergantian generasi pelajar, mahasiswa, hingga cendekiawan di Kota Pematangsiantar.

Mempertahankan toko buku fisik di era sekarang bukanlah perkara mudah. Kas mengakui adanya pergeseran peta bisnis yang sangat signifikan, terutama terkait kebijakan pengadaan buku sekolah.

“Kalau dulu buku pelajaran sangat dicari dan menjadi urat nadi pendapatan kami, sekarang banyak sekolah yang langsung menyediakan buku kepada siswa. Ditambah lagi anak-anak sekarang lebih banyak membaca dari ponsel,” ujar Kas Sirait saat berbincang dengan Mistar, Rabu (17/6/2026).

Namun, alih-alih menyerah pada keadaan, Kas memilih beradaptasi dengan diversifikasi koleksi. Di toko miliknya, terpajang ratusan judul buku dari berbagai multidisiplin ilmu.

Mulai dari buku pelajaran sekolah, buku perkuliahan, referensi kebidanan, hingga literasi tingkat lanjut untuk mahasiswa program magister (S2) dan doktoral (S3). Tak ketinggalan, buku persiapan tes CPNS, novel, kumpulan cerpen, hingga bacaan umum tertata rapi menanti pembaca setianya.

Salah satu strategi jitu yang membuat toko buku Kas Sirait tetap dikunjungi adalah keberadaan segmen buku bekas dan buku tulis bekas layak pakai. Di tengah melambungnya harga cetakan baru, Kas menawarkan alternatif yang sangat ramah kantong, yakni mulai dari Rp1.000 hingga Rp40.000 saja per buku.

“Keberadaan buku bekas ini menjadi oase bagi masyarakat yang ingin mendapatkan bahan bacaan atau referensi kuliah dengan harga ekonomis. Selain membantu pembeli yang anggarannya terbatas, kami juga membuka pintu bagi warga yang ingin menjual kembali buku-buku lama mereka agar tidak menjadi tumpukan sampah,” jelas Kas.

Sistem sirkulasi ini tidak hanya menguntungkan secara ekonomi, tetapi juga memperpanjang masa pakai sebuah ilmu agar terus mengalir ke generasi berikutnya.

“Horas boyi,” ucapnya hangat dengan senyum ramah yang khas, menyambut setiap pelanggan yang melangkah masuk ke tokonya. Pekikan salam khas itu seolah menjadi penanda bahwa keramahan personal yang ia tawarkan tidak akan pernah bisa digantikan oleh kecerdasan buatan atau aplikasi belanja daring mana pun. (hm25)




BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN