Kemarau Bayangi Petani Simalungun di Tengah Belum Dianggarkannya Pengadaan Jet Pump

Lahan pertanian di Simalungun. (foto: roland/mistar)
Simalungun, MISTAR.ID
Dinas Pertanian Simalungun belum mengalokasikan anggaran pengadaan mesin jet pump pada tahun 2026. Di tengah keluhan petani akibat kemarau dan rusaknya jaringan irigasi, kebijakan ini menjadi sorotan karena kebutuhan alat pompanisasi dinilai mendesak.
Kepala Dinas Pertanian Simalungun, Jenri Saragih, mengatakan pihaknya tidak memiliki alokasi anggaran untuk pengadaan mesin jet pump tahun ini. Ia mengatakan harapan bantuan saat ini diarahkan ke pemerintah provinsi maupun pemerintah pusat.
"Tidak ada. Kita mengharapkan dari provinsi dan pusat," ujar Jenri, Senin (30/3/2026).
Namun, Jenri memastikan peluang bantuan tetap terbuka, khususnya melalui mekanisme pengajuan proposal oleh kelompok tani. Proposal tersebut akan menjadi dasar bagi dinas untuk melakukan verifikasi dan mengusulkan kebutuhan ke tingkat yang lebih tinggi.
"Kelompok tani berhak mendapat bantuan jet pump dengan mengajukan proposal ke Dinas Pertanian. Dari situ nanti kita verifikasi dan teruskan sesuai mekanisme," katanya.
Seperti diketahui, mayoritas masyarakat di Kabupaten Simalungun menggantungkan hidup dari sektor pertanian, sehingga kebutuhan akan sarana pendukung seperti irigasi dan alat pompa menjadi sangat krusial, terutama saat musim kemarau.
Mengacu pada prakiraan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), wilayah Sumatera Utara berpotensi mengalami kemarau yang lebih kering tahun ini. Kondisi tersebut berdampak pada menurunnya ketersediaan air, baik dari curah hujan maupun sumber irigasi, yang berimbas langsung pada produktivitas pertanian.
Terkait langkah ke depan, Jenri memastikan pengadaan mesin jet pump berpeluang diakomodasi dalam anggaran tahun berikutnya. Ia menyebut seluruh usulan yang masuk sepanjang tahun ini akan menjadi bahan pertimbangan dalam penyusunan program 2027.
"Kalau ada usulan masuk tahun ini, akan kita anggarkan untuk tahun depan," ucapnya.
Kondisi ini menempatkan petani pada posisi yang menuntut adaptasi cepat, baik melalui pengajuan bantuan maupun pemanfaatan sumber air alternatif. Tanpa intervensi yang memadai, risiko penurunan hasil panen hingga kerugian ekonomi dikhawatirkan semakin meluas di wilayah Habonaron do Bona.




















