Monday, June 15, 2026
home_banner_first
SIANTAR SIMALUNGUN

Jalan Nasional di Pematangsiantar Nyaris Putus Akibat Longsor, Perbaikan Terkendala Kewenangan

Mistar.idRabu, 29 April 2026 13.10
AN
AS
jalan_nasional_di_pematangsiantar_nyaris_putus_akibat_longsor_perbaikan_terkendala_kewenangan

Kondisi jalan menyisakan lubang raksasa dengan kedalaman diperkirakan mencapai 10 meter. (Foto: Abdi/Mistar)

news_banner

Pematangsiantar, MISTAR.ID

Ruas Jalan Sisingamangaraja, Kelurahan Kahean, Kecamatan Siantar Utara, dilaporkan nyaris putus akibat longsor parah. Ironisnya, hingga saat ini penanganan perbaikan masih menemui jalan buntu akibat benturan kewenangan birokrasi.

Berdasarkan pantauan Mistar di lapangan pada Rabu (29/4/2026), kerusakan di titik tikungan tersebut sudah sangat memprihatinkan. Sebagian besar aspal telah runtuh ke dasar jurang, menyisakan lubang raksasa dengan kedalaman diperkirakan mencapai 10 meter.

Penyempitan jalur yang ekstrem memaksa kendaraan dari dua arah untuk melintas secara bergantian. Kondisi ini diperparah dengan posisi kerusakan yang berada tepat di tikungan, di mana jarak pandang pengemudi sangat terbatas, sehingga berisiko kecelakaan maut.

Meski kerusakan terjadi di wilayah administratif Pematangsiantar, Pemerintah Daerah (Pemda) maupun Pemerintah Provinsi Sumatera Utara menyatakan tidak memiliki kewenangan untuk melakukan perbaikan. Hal ini dikarenakan jalan tersebut berstatus jalan nasional.

Pihak UPTD Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) Provinsi Sumatera Utara, Marganda Tobing, menegaskan regulasi membatasi ruang gerak mereka.

“Statusnya jalan nasional, bukan provinsi. Jadi penanganannya berada di bawah kementerian (pusat), bukan di kami,” ujarnya kepada Mistar, Rabu (29/4/2026).

Absennya intervensi langsung dari daerah disebabkan oleh keterbatasan kewenangan dan aturan penggunaan anggaran yang harus sesuai dengan status aset jalan.

Kondisi ini memicu kekhawatiran mendalam bagi warga sekitar dan pengguna jalan. Masyarakat khawatir bahwa status administratif jalan nasional justru menjadi penghambat yang memperlambat penanganan di lapangan.

Kekhawatiran mendalam dirasakan oleh para pengguna jalan yang setiap hari menggantungkan nasib di jalur tersebut. Aris, 34 tahun, seorang sopir angkutan umum yang kerap melintas, mengaku selalu waswas, terutama saat cuaca buruk.

"Kalau sudah hujan deras, kami yang lewat sini seperti bertaruh nyawa. Aspalnya licin, pandangan terbatas, dan kita tidak tahu kapan tanah di bawah itu bakal amblas lagi. Kalau malam lebih parah, penerangan minim sekali, salah sedikit bisa langsung masuk jurang," keluh Aris.

Senada dengan Aris, salah seorang warga sekitar, Heri, menyebutkan masyarakat merasa perbaikan sementara yang ada saat ini sama sekali tidak mencukupi.

"Kami khawatir kalau dibiarkan terus, jalan ini benar-benar putus total. Masalahnya, ini jalan utama. Kalau putus, ekonomi kami juga ikut lumpuh. Jangan sampai menunggu ada korban jiwa, baru semua pihak sibuk saling tunjuk," tuturnya.

Hingga berita ini diturunkan, arus lalu lintas di kawasan Kahean masih mengalami ketersendatan. Pengguna jalan diimbau untuk ekstra waspada saat melintasi jalur tersebut, terutama pada malam hari atau saat hujan deras. (hm25)

BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN