Dorong Transformasi Pendidikan di Siantar, Sekolah Harus Jadi Ruang Aman, Kreatif, dan Berkarakter

Ratusan pelajar di UPTD SMP Negeri 4 Pematangsiantar, Jalan Kartini, Kelurahan Proklamasi saat mengikuti upacara. (Foto: Istimewa/mistar)
Pematangsiantar, MISTAR.ID
Wali Kota Pematangsiantar Wesly Silalahi menegaskan komitmen Pemerintah Kota (Pemko) bangun transformasi pendidikan yang berkualitas sumber daya manusia, karakter, dan inovasi pembelajaran.
Hal itu disampaikan saat mengunjungi UPTD SMP Negeri 4 Pematangsiantar, Jalan Kartini, Kelurahan Proklamasi, Kecamatan Siantar Barat, Senin (18/5/2026).
Kunjungan tersebut tidak hanya menjadi agenda seremonial, tetapi juga momentum memperkuat arah baru pendidikan di Kota Pematangsiantar: sekolah bukan sekadar tempat belajar akademik, melainkan ruang tumbuh generasi unggul yang berkarakter, adaptif terhadap teknologi, serta memiliki integritas sosial yang kuat.
Dalam amanatnya, Wesly menyampaikan tantangan dunia pendidikan saat ini tidak lagi hanya berbicara soal nilai dan prestasi akademik. Menurutnya, era digital yang berkembang sangat cepat menuntut peserta didik memiliki tiga modal utama, yakni karakter kuat dan akhlak mulia, kedisiplinan, serta semangat pantang menyerah.
“Anak-anakku, gantungkan cita-citamu setinggi langit. Belajarlah dengan bahagia, hormati orang tua dan guru, serta sayangi teman-temanmu. Kalian adalah calon pemimpin masa depan Pematangsiantar, bahkan calon pemimpin bangsa,” ujar Wesly di hadapan ratusan siswa.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga lingkungan sekolah tetap sehat dan kondusif dengan menjauhi perilaku negatif seperti perundungan, tawuran, hingga penyalahgunaan narkoba.
Menurut Wesly, identitas Kota Pematangsiantar sebagai salah satu kota paling toleran di Indonesia harus tercermin dalam budaya sekolah yang aman, nyaman, inklusif, dan menghargai keberagaman.
Wesly menitikberatkan tiga agenda besar peningkatan mutu pendidikan di Kota Pematangsiantar. Salah satunya adalah transformasi kepemimpinan sekolah.
Ia menegaskan kepala sekolah harus tampil sebagai pemimpin visioner dan inovatif yang mampu menciptakan ekosistem belajar yang aman, nyaman, serta menyenangkan bagi siswa.
Menurutnya, sekolah masa depan bukan lagi institusi yang kaku dan administratif semata, tetapi menjadi pusat pembentukan kreativitas, kolaborasi, dan inovasi generasi muda.
“Ekosistem sekolah yang sehat akan melahirkan anak-anak yang percaya diri, kreatif, dan memiliki daya saing,” katanya.
Guru Dituntut Adaptif dan Melek Teknologi
Agenda kedua yang menjadi perhatian adalah peningkatan kompetensi guru. Wesly meminta para tenaga pendidik terus meng-upgrade kemampuan diri dengan memanfaatkan pelatihan digital dan komunitas belajar.
Ia menilai transformasi pendidikan tidak akan berjalan tanpa guru yang adaptif terhadap perubahan teknologi dan metode pembelajaran modern.
Guru, lanjutnya, perlu mengembangkan pola pembelajaran yang kreatif, interaktif, dan berpusat pada murid agar proses belajar menjadi lebih relevan dengan kebutuhan zaman.
Pendekatan tersebut dinilai penting untuk menciptakan generasi yang tidak hanya cerdas secara teori, tetapi juga memiliki kemampuan berpikir kritis, kolaboratif, dan inovatif.
Pendidikan Karakter Jadi Pondasi Utama
Selain akademik dan teknologi, Wesly menekankan bahwa pendidikan karakter harus menjadi fondasi utama dalam pembangunan pendidikan daerah.
Menurutnya, mutu pendidikan sejati tidak hanya diukur dari angka-angka di atas kertas, melainkan dari kemampuan sekolah membentuk generasi yang jujur, toleran, berintegritas, dan berjiwa Pancasila.
“Mari bersama-sama melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki akhlak mulia dan kepedulian sosial,” ajaknya.
Ia juga mengingatkan bahwa dunia saat ini membutuhkan generasi yang tidak hanya pintar, tetapi juga memiliki hati, empati, dan integritas.
Program MBG Jadi Investasi SDM Masa Depan
Usai upacara, Wesly melakukan monitoring pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sejumlah kelas SMPN 4. Sebanyak 750 porsi makanan bergizi didistribusikan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Simarito Siantar Barat kepada para siswa.
Menu MBG terdiri dari nasi putih, ayam katsu, tahu goreng krispi, tumis labu jipang dan jagung muda, serta buah apel. Wesly menilai program MBG bukan sekadar bantuan konsumsi, melainkan investasi strategis dalam pembangunan kualitas sumber daya manusia sejak usia sekolah.
Karena itu, ia meminta seluruh aparatur sipil negara, termasuk guru dan tenaga pendidik, menjaga integritas dan profesionalisme dalam pelaksanaan program pemerintah.
“Jangan ada yang bermain-main atau mengambil keuntungan pribadi dalam program ini. Kepercayaan masyarakat harus dijaga dengan kerja yang jujur, transparan, dan penuh tanggung jawab,” ucapnya.
Kegiatan kemudian ditutup dengan penampilan kreativitas siswa berupa tarian, lagu, dan pembacaan puisi yang menambah semarak suasana sekolah.
Melalui kunjungan tersebut, Pemerintah Kota Pematangsiantar menegaskan bahwa transformasi pendidikan bukan hanya soal pembangunan fisik sekolah, tetapi juga pembangunan karakter, kualitas guru, kepemimpinan pendidikan, serta kesehatan generasi masa depan.
























