Cerita Petani Muda Simalungun Hadapi Cuaca, Hama, dan Harga Sayur Tak Stabil

Lahan pertanian milik Adnan di Nagori Mardinding, Kecamatan Pematang Silimahuta, Kabupaten Simalungun. (Foto: Indra/Mistar)
Simalungun, MISTAR.ID
Kabut tipis masih menggantung di perbukitan Nagori Mardinding, Kecamatan Pematang Silimahuta, Kabupaten Simalungun, saat Adnan Pandiangan berjalan menyusuri deretan tanaman cabai miliknya. Pemuda yang baru lulus SMA pada 2025 itu kini memilih menekuni dunia pertanian, pekerjaan yang mulai jarang dilirik anak muda seusianya.
Di tangannya, pertanian bukan sekadar pekerjaan warisan kampung, melainkan perjuangan panjang melawan cuaca, biaya produksi, hingga ancaman pencurian hasil panen.
Hamparan kebun milik Adnan dipenuhi berbagai jenis tanaman hortikultura. Cabai merah menjadi tanaman andalannya. Di lahan seluas sekitar 2,5 rante, ia menanam sekitar 2.000 batang cabai yang kini telah berumur delapan bulan dan sudah dipanen sebanyak 15 kali.
"Sudah 15 kali panen kalau cabai merah, masih itu saja, yang lain masih memulai," ujar Adnan saat ditemui awal Juni 2026 di lahan pertaniannya.
Namun, cabai bukan satu-satunya tanaman yang ia rawat. Pemuda 19 tahun itu juga menanam tomat, bunga kol, dan sawi manis secara bersamaan demi menjaga keberlangsungan penghasilan.
Tanaman tomat miliknya kini berusia dua bulan dengan jumlah sekitar 1.700 mata tanam di lahan seluas empat rante. Untuk menjaga pertumbuhan tanaman, ia harus melakukan penyemprotan hingga tiga kali dalam seminggu.
"Selama dua bulan ini, untuk tomat saja sudah habis sekitar Rp6 juta mulai dari awal tanam," katanya.
Sementara itu, bunga kol yang ditanam di lahan seluas tiga rante diperkirakan mulai panen bulan depan karena memiliki masa tanam lebih pendek, yakni sekitar tiga bulan. Di lahan yang sama, Adnan juga menanam sawi manis yang dapat dipanen dalam waktu dua bulan.
Besarnya biaya produksi membuat Adnan harus memutar otak agar tetap bisa bertahan. Ia mengaku memilih meracik pupuk sendiri dengan mencampur beberapa jenis pupuk untuk seluruh tanamannya.
"Tetap pakai pupuk subsidi, tapi cuma di awal saja. Selanjutnya saya racik sendiri karena lebih terjangkau," ujarnya.
Sekali pemupukan untuk empat jenis tanaman miliknya membutuhkan biaya hingga Rp1,2 juta. Jika membeli pupuk racikan jadi di toko pertanian, biaya yang harus dikeluarkan bisa mencapai lebih dari Rp2 juta.
"Belajar meracik dan takaran pupuk dari teman sesama petani. Kalau beli langsung jadi lebih mahal," katanya.
Selain pupuk, persoalan air juga menjadi tantangan besar. Saat musim panas tiba, Adnan harus membeli air untuk menyiram tanaman dengan harga Rp250 ribu per tangki.
PREVIOUS ARTICLE
Pemkab Simalungun Susun Rencana Induk Pembangunan Daerah, Jadi Peta Jalan Menuju Daerah Maju





















