Cerita Petani Muda Simalungun Hadapi Cuaca, Hama, dan Harga Sayur Tak Stabil

Lahan pertanian milik Adnan di Nagori Mardinding, Kecamatan Pematang Silimahuta, Kabupaten Simalungun. (Foto: Indra/Mistar)

Petani muda di Nagori Mardinding, Adnan Pandiangan, saat ditemui di lahan pertaniannya. (Foto: Indra/Mistar)
Meski menghadapi berbagai kesulitan, Adnan mengaku pemasaran hasil panennya kini jauh lebih mudah dibandingkan sebelumnya. Pembeli bahkan datang langsung ke rumah untuk menawar hasil kebunnya.
"Sekarang jual hasil panen tidak susah lagi. Tinggal diletakkan di depan rumah, nanti ada pembeli yang datang sendiri. Kalau masih zaman saya SD dulu, orang tua jualnya ke agen, itu pun hanya ada beberapa orang," ujarnya.
Namun, di balik tingginya harga sayuran di pasaran, ada risiko lain yang harus dihadapi petani. Saat harga cabai melonjak, petani kerap memilih bermalam di kebun demi menjaga hasil panen dari aksi pencurian.
Bagi Adnan, bertani bukan hanya soal mencari keuntungan, tetapi juga tentang bertahan dan membuktikan bahwa anak muda masih mampu hidup dari tanah sendiri. Ia berharap pemerintah lebih memperhatikan petani muda, mulai dari kestabilan harga, kemudahan mendapatkan pupuk, hingga dukungan sarana pertanian.
"Harapannya semoga harga tetap stabil dan petani muda lebih diperhatikan supaya makin semangat bertani," ucapnya.
Di tengah banyaknya generasi muda yang memilih meninggalkan desa, langkah Adnan menjadi potret bahwa pertanian masih menyimpan harapan besar bagi masa depan dan ketahanan pangan daerah. (hm25)
PREVIOUS ARTICLE
Pemkab Simalungun Susun Rencana Induk Pembangunan Daerah, Jadi Peta Jalan Menuju Daerah Maju





















