Evakuasi Gempa YPSA Medan Viral, Ternyata Hasil Latihan Rutin 29 Tahun

Situasi evakuasi para siswa di YP Shafiyyatul Amaliyyah Medan. (foto: Dokumentasi YPSA/Mistar)
Medan, MISTAR.ID - Yayasan Pendidikan Shafiyyatul Amaliyyah (YPSA) Medan membuktikan pentingnya simulasi penanggulangan bencana yang rutin bagi para siswa maupun guru. Ketika gempa bumi bermagnitudo 5,6 mengguncang Kabupaten Gayo Lues, Aceh terjadi dan berdampak bagi Kota Medan, pihak sekolah langsung menerapkan prosedur evakuasi darurat secara tanggap dan tertib untuk mengamankan seluruh warga sekolah.
Kepala Sekolah YPSA, Eko Akbar Sukmana, mengatakan edukasi dan simulasi penanggulangan bencana seperti kebakaran dan gempa sudah menjadi agenda rutin sekolah yang telah berjalan selama 29 tahun sejak YPSA berdiri.
Bahkan, sekolah juga sudah menjadwalkan pelatihan bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Medan pada awal Agustus mendatang.
“Ini sudah setiap tahun berulang, guru dan murid-murid sudah mengerti dan paham bagaimana yang harus dilakukan. Jadi setiap sekali setahun, dari awal YPSA berdiri terus mengadakan simulasi. Kadang sama guru, antar guru,” ujarnya, Rabu (22/7/2026).
Kesiapsiagaan YPSA ini mendadak menjadi perhatian publik, setelah video evakuasi mereka viral di media sosial. Dalam rekaman tersebut, tampak para siswa dari jenjang SD, SMP hingga SMA dievakuasi turun dari gedung-gedung bertingkat menuju lapangan terbuka sekolah dengan tertib dan tenang tanpa adanya kepanikan.
Eko menjelaskan, hal itu terjadi berkat simulasi yang sudah dilakukan rutin di sekolah. Gedung sekolah yang rata-rata memiliki empat lantai dan menampung sekitar 100 siswa per lantai berhasil dikosongkan tanpa panik atau berdesakan. Pihak sekolah juga menerapkan jalur evakuasi terpisah berdasarkan gender, guru piket juga siaga di koridor untuk mengamankan pergerakan siswa.
Guru di dalam kelas juga bertugas memastikan seluruh siswa telah keluar tanpa ada yang tertinggal, sementara petugas dari Departemen Umum dan Security aktif menyampaikan pengumuman untuk menenangkan melalui pos informasi.
“Jangan sempat ada yang berdesak-desakan. Jadi tenang, kumpul semua di bawah, disuruh duduk berbaris berkelompok sesuai kelasnya masing-masing,” katanya.
Eko menjelaskan, gempa tersebut terjadi sekitar 15 menit sebelum jam istirahat dan makan siang, saat para siswa masih berada di dalam kelas pada jam pelajaran terakhir.
Bahkan, sebutnya, ada beberapa kelas yang tidak merasakan adanya gempa. “Pertama tadi saya juga lagi di kantor, posisi pertama awal kita pikir bukan gempa. Cuma karena sudah berulang dua kali, tiga kali saya pun turun. Ketika saya turun, guru-guru secara otomatis langsung memastikan anak-anak tenang untuk ke titik assembly point,” katanya.
Setelah berkumpul di lapangan, para siswa diajak berzikir dan berdoa bersama. Berkat simulasi penanggulangan bencana yang rutin digelar setiap tahun, proses evakuasi warga sekolah ini berlangsung cepat, tertib dan aman dalam kurun waktu sekitar setengah jam. Ketika situasi sudah aman, para siswa diarahkan untuk melanjutkan aktivitas makan siang dan salat Zuhur.
BERITA TERPOPULER
BERITA TERPOPULER




















