Sofyan Tan Tekankan Pendidikan sebagai Kunci Atasi Kemiskinan di Semarak Budaya FJPI

Anggota Komisi X DPR RI, Sofyan Tan dalam kegiatan Semarak Budaya bertema 'Dari Ruang Redaksi ke Panggung Teater: Merawat Kebebasan Pers Lewat Seni' ini sekaligus sebagai refleksi peringatan Hari Kebebasan Pers Sedunia, yang digelar Forum Jurnalis Perempuan Indonesia (FJPI), Senin (4/5/2026). (foto:anita/mistar)
Medan, MISTAR.ID
Anggota Komisi X DPR RI, Sofyan Tan, menegaskan pentingnya pendidikan sebagai alat utama dalam mengubah kondisi sosial masyarakat, termasuk dalam upaya mengentaskan kemiskinan.
Menurutnya, pendidikan memiliki peran strategis dalam membuka peluang dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat secara berkelanjutan.
“Saya memang seorang dokter, tetapi ingin berjuang mengubah manusia dari kemiskinan melalui pendidikan,” ujarnya dalam kegiatan Semarak Budaya bertema ‘Dari Ruang Redaksi ke Panggung Teater: Merawat Kebebasan Pers Lewat Seni’ yang sekaligus menjadi refleksi peringatan Hari Kebebasan Pers Sedunia, yang digelar Forum Jurnalis Perempuan Indonesia (FJPI), Senin (4/5/2026).
Ia menilai akses pendidikan yang baik dan merata dapat menjadi kunci untuk memutus rantai kemiskinan serta menciptakan generasi yang lebih mandiri dan berdaya saing.
Dalam kegiatan tersebut, ia juga mengapresiasi penampilan pembacaan puisi oleh Rindy Riyani dalam pembukaan acara. Bahkan, Sofyan Tan secara langsung menawarkan kesempatan kepada Rindy untuk melanjutkan pendidikan di Perguruan Tinggi Setya Bhinneka melalui program beasiswa KIP.
Ketua Umum FJPI, Khairiah Lubis, dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan ini mendorong insan pers untuk berinovasi dalam dunia jurnalistik dengan konsep performance journalism atau pertunjukan jurnalistik melalui seni teater. Kegiatan ini juga menjadi ruang refleksi di tengah menurunnya indeks kebebasan pers di Indonesia.
Dijelaskannya, dalam tiga tahun terakhir, peringkat kebebasan pers Indonesia mengalami penurunan dari posisi 108 pada 2023 menjadi 129 pada 2026 dari total 180 negara. Kondisi ini juga diwarnai meningkatnya ancaman dan teror terhadap jurnalis, termasuk jurnalis perempuan.
“Momentum Hari Kebebasan Pers Sedunia menjadi pengingat bagi kita semua untuk melihat sejauh mana kebebasan berekspresi dapat dijalankan tanpa tekanan dan tanpa praktik self-censorship,” ujarnya.
FJPI mencoba menghadirkan alternatif penyampaian informasi melalui seni dan budaya, salah satunya teater. Pendekatan ini dinilai mampu menyampaikan pesan jurnalistik secara lebih kreatif, menyentuh emosi, sekaligus menjadi sarana edukasi yang hidup bagi masyarakat.
Sejak 2024, FJPI telah mengembangkan konsep ini, termasuk mengangkat isu beban ganda jurnalis perempuan. Pada Maret 2026, bertepatan dengan Hari Perempuan Internasional, FJPI juga menggelar pementasan teater bertema bencana yang hasil penjualan tiketnya disalurkan untuk membantu masyarakat di Aceh Tamiang dan Tapanuli Tengah.
Khairiah juga menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Sofyan Tan atas dukungan yang konsisten terhadap kegiatan FJPI, termasuk dalam terselenggaranya Semarak Budaya.
“Terima kasih kepada Bapak Sofyan Tan yang telah memberikan kesempatan dan dukungan penuh terhadap kegiatan Semarak Budaya ini. Dukungan ini sangat berarti bagi kami untuk terus bergerak menghadirkan ruang-ruang kreatif bagi jurnalis, khususnya jurnalis perempuan,” tutur Khairiah.
Sementara itu, Ketua Medan Teater Tronik, Hafiz Taadi, turut menyoroti kesamaan antara dunia teater dan jurnalistik. Ia menyebut keduanya memiliki “dua mata pisau” sebagai alat untuk membedah realitas.
“Dunia teater dan dunia jurnalis sama-sama memiliki pisau bedah untuk mengupas realitas, hanya cara penyampaiannya yang berbeda,” ucapnya. (hm27)
























