Hardiknas 2026, Sofyan Tan: Pendidikan Harus Fokus pada Kualitas SDM

Anggota Komisi X DPR, Sofyan Tan saat menghadiri acara Semarak Budaya di Medan, Sabtu (2/5/2026). (Foto: Elfa/mistar)
Medan, MISTAR.ID
Berdasarkan hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA), literasi siswa di Indonesia masih masuk kategori buruk. Nilai rata-rata seluruh siswa di Indonesia hanya 56 untuk pelajaran bahasa Indonesia. Tidak hanya hasil literasi yang buruk. Nilai numerasi siswa di Indonesia jauh lebih buruk karena hanya di angka 35.
Anggota Komisi X DPR RI, Sofyan Tan, menilai pada peringatan Hardiknas 2026, pendidikan di Indonesia harus fokus pada kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) lokal jika ingin nilai literasi dan numerasi siswa lebih baik lagi.
“Nilai TKA bahasa Arab jauh lebih bagus atau rata-rata di angka 66. Bahasa mandarin juga lebih tinggi. Secara bahasa, kenapa bahasa Arab dan Mandarin lebih tinggi dibandingkan bahasa Indonesia? Inilah potret pendidikan kita sekarang," katanya pada Semarak Budaya di Medan, Sabtu (2/5/2026).
Menurut Sofyan Tan, minimnya pendidikan literasi mempengaruhi nilai TKA bahasa Indonesia siswa.
"Kalau siswa pada 15 tahun yang lalu sering diminta guru mengarang. Saat mengarang, siswa harus banyak membaca. Berdasarkan data, di Indonesia satu orang itu hanya membaca satu buku dalam satu tahun. Berbeda dengan negara berkembang yang wajib membaca minimal 10 buku dalam satu bulan. Dari budaya membaca saja sudah sangat berbeda," ujarnya.
Kemudian, sangat sedikit perguruan tinggi yang melakukan riset di bidang sains. Sebanyak 70 sampai 80 persen riset perguruan tinggi fokus mengenai sosial budaya. Padahal, menurut Sofyan, hari ini masyarakat Indonesia justru lebih membutuhkan ilmu mengenai pertanian.
"Jadi, pendidikan kita masih belum mengarah kepada apa yang dibutuhkan negara. Tidak heran jika pengangguran meningkat walau dia sudah sarjana," tutur Politisi PDI Perjuangan itu.
Di Sumatera Utara (Sumut) pendidikan pun harus disesuaikan dengan kebutuhan. Contohnya, jika ingin membangun sekolah pertanian, maka cocoknya di kawasan Berastagi karena di sana memang wilayah pertanian.
"Sementara di kawasan Danau Toba, pengembangan sekolah dapat difokuskan pada sektor pariwisata. Siswa diajarkan bagaimana mengembangkan ekonomi kreatif. Misalnya membuat cenderamata khas Danau Toba hingga ilmu perhotelan. Pendidikan yang fokus pada kualitas SDM lokal membuat masyarakat setempat tidak menjadi penonton di daerahnya sendiri," ucapnya. (elfa)



















