Monday, July 20, 2026
home_banner_first
MEDAN

Olah Sampah Makanan Jadi Biogas, Sofyan Tan Dorong Energi Alternatif di Medan

Mistar.idSabtu, 11 April 2026 pukul 15.58 WIB
olah_sampah_makanan_jadi_biogas_sofyan_tan_dorong_energi_alternatif_di_medan

Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI Komisi X Fraksi PDI Perjuangan, Sofyan Tan, bersama peneliti BRIN, Ir Prasetiyadi, dalam kegiatan pelatihan pembuatan biogas dari sampah makanan skala rumah tangga di Kota Medan di Hotel Grand Kanaya, Sabtu (11/4/2026). (Foto: Anita/Mistar)

news_banner

Medan, MISTAR.ID

Indonesia saat ini menghadapi tantangan besar di sektor energi, baik secara nasional maupun global. Kondisi tersebut dipengaruhi situasi internasional, termasuk konflik geopolitik yang berdampak pada pasokan energi dunia.

Hal ini disampaikan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI Komisi X Fraksi PDI Perjuangan, Sofyan Tan, dalam kegiatan pelatihan pembuatan biogas dari sampah makanan skala rumah tangga di Kota Medan yang menggandeng Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) di Hotel Grand Kanaya, Sabtu (11/4/2026).

“Saat ini kita sangat bergantung pada minyak dan gas dari luar negeri. Padahal dulu kita adalah negara penghasil gas, tetapi sekarang justru menjadi pengimpor. Ketergantungan ini sangat tinggi, sehingga jika pasokan terganggu, kehidupan masyarakat akan terdampak, bahkan untuk kebutuhan dasar seperti memasak,” ujarnya.

Untuk itu, penting peran BRIN dalam menghadirkan solusi berbasis riset, salah satunya melalui pemanfaatan sampah sebagai sumber energi alternatif. Selama ini, sampah kerap dianggap tidak bernilai, padahal jika dikelola dengan baik dapat menghasilkan energi sekaligus pupuk yang bermanfaat.

Dijelaskannya, berdasarkan data produksi sampah yang ada di Kota Medan pada 2023 mencapai sekitar 2.000 ton per hari. Namun, hanya sekitar 800 ton yang berhasil diangkut ke tempat pembuangan akhir (TPA), sementara sisanya belum tertangani secara optimal.

“Tentunya kondisi ini menjadi tantangan dalam menjaga kebersihan kota. Medan seharusnya mampu menjadi kota yang bersih dan sehat. Tapi, banyak orang melihat Kota Medan sebagai kota yang kotor. Padahal sampah masih bisa dimanfaatkan dan kita bisa menjadi lebih sehat karena lingkungan yang bersih. Bersih itu sehat, dan semua ajaran agama menekankan pentingnya kebersihan,” tuturnya.

Dalam kesempatan itu, ia memaparkan tentang sampah yang terbagi menjadi tiga jenis, yakni organik, anorganik, dan bahan berbahaya dan beracun (B3). Di Medan sendiri, lebih dari 50 persen sampah rumah tangga merupakan sampah organik yang berpotensi diolah menjadi energi.

“Melalui pelatihan ini, peserta diajarkan cara mengolah sampah organik menjadi biogas yang dapat digunakan untuk kebutuhan memasak sehari-hari. Selain itu, proses tersebut juga menghasilkan kompos yang dapat dimanfaatkan untuk bercocok tanam. Jika dilakukan secara luas, ini dapat membantu ekonomi keluarga sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor energi,” ucapnya.

Sofyan Tan menambahkan, sejumlah daerah di Indonesia telah berhasil mengelola sampah dengan baik, seperti Surabaya. Ke depan, Medan juga direncanakan mengembangkan proyek pengolahan sampah menjadi energi, termasuk energi listrik.

Ia berharap para peserta dapat mengimplementasikan hasil pelatihan tersebut di rumah masing-masing.

Sementara itu, peneliti BRIN, Ir Prasetiyadi, menilai pengelolaan sampah di Indonesia harus mampu memberikan nilai manfaat, bahkan keuntungan ekonomi agar dapat berkelanjutan.

Menurutnya, sejumlah daerah telah mencoba mengolah sampah menjadi energi, namun keberlanjutan operasional masih menjadi tantangan utama.

“Pertanyaannya, apakah operasionalnya bisa dijamin berkelanjutan? Ini membutuhkan dukungan nyata,” katanya.

Ia mencontohkan beberapa daerah seperti Solo, Surabaya, dan Banyumas. Di Solo, program pengelolaan sampah sempat tidak berjalan optimal. Sementara di Surabaya, sistem pemilahan sampah mulai berjalan cukup baik. Di Banyumas, penanganan sampah juga mendapat perhatian, meski tetap membutuhkan partisipasi masyarakat.

“Tanpa partisipasi masyarakat, upaya pemerintah dalam pengelolaan sampah akan sulit berhasil,” ujarnya.

Prasetiyadi juga menyoroti kondisi TPA di Medan yang dinilai masih menghadapi permasalahan serupa dengan daerah lain di Indonesia, yakni banyaknya sampah yang belum tertangani dengan baik.

Ia mengingatkan bahwa pengelolaan sampah yang buruk dapat menimbulkan bencana, seperti tragedi longsor sampah di TPA Leuwigajah, Cimahi, pada 2005 yang menewaskan sekitar 157 orang akibat gas metana.

“Ini menunjukkan bahwa tumpukan sampah memiliki potensi bahaya besar, mulai dari longsor, kebakaran, hingga pencemaran bau,” ucapnya.

Melalui pelatihan ini, diharapkan masyarakat dapat mengubah cara pandang terhadap sampah, dari yang semula dianggap sebagai limbah menjadi sumber solusi bagi energi, kesehatan, dan kesejahteraan. (hm20)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN