Monday, June 22, 2026
home_banner_first
SUMUT

Format UMSU Serahkan “Memoar Teropong II”, Sofyan Tan: Menulis Adalah Kemerdekaan

Mistar.idMinggu, 3 Mei 2026 pukul 17.24 WIB
journalist-avatar-top
journalist-avatar-top
format_umsu_serahkan_memoar_teropong_ii_sofyan_tan_menulis_adalah_kemerdekaan

Ketua Dewan Pembina Forum Alumni Teropong UMSU, DR Muhammad Arifin (kiri) saat menyerahkan buku berjudul Memoar Teropong II kepada Anggota Komisi X DPR RI Sofyan Tan. (foto:andiyus/mistar)

news_banner

Medan, MISTAR.ID

Forum Alumni Teropong (Format) UMSU menyerahkan buku berjudul Memoar Teropong II kepada Anggota Komisi X DPR RI Sofyan Tan. Sofyan Tan pun mengapresiasi hasil karya para alumni pers mahasiswa tersebut yang dituangkan dalam bentuk buku.

Ketua Dewan Pembina Forum Alumni Teropong UMSU, Dr Muhammad Arifin, mengatakan Format selama berdiri delapan tahun telah menerbitkan buku kisah suka duka kepengurusan pers mahasiswa dari masa ke masa yang diberi judul Memoar Teropong I dan Memoar Teropong II.

"Buku itu telah sampai di tangan Bapak Sofyan Tan saat kami serahkan langsung, dan beliau mengapresiasi secara positif. Sehingga kami juga berterima kasih atas kegiatan Semarak Budaya dan sambutannya terhadap hasil karya para alumni pers kampus menjadi sebuah buku," ujarnya, Minggu (3/5/2026).

Menurutnya, buku Memoar Teropong II yang menceritakan tentang kepemimpinan pers mahasiswa dari masa ke masa patut diterbitkan dan dimiliki.

"Ini bukti kami di Format sebagai alumni Teropong sangat peduli tentang dunia tulis-menulis," tutur Kepala Perpustakaan UMSU itu.

Sementara itu, Anggota Komisi X DPR RI Sofyan Tan menyebutkan bahwa menulis tidak bisa dilepaskan dari kemampuan membaca yang kuat, sikap investigatif, serta prinsip keberimbangan data.

“Menulis itu harus kuat membaca, investigatif, cover both side, dan menjunjung etika. Menulis adalah kemerdekaan. Orang yang menulis adalah orang yang merdeka,” katanya di Medan.

Ia juga menyoroti rendahnya produktivitas literasi di Indonesia dibandingkan negara lain. Menurutnya, rata-rata masyarakat Indonesia hanya menghasilkan satu buku dalam setahun, sementara di luar negeri bisa mencapai 10 buku dalam satu bulan.

"Karena itu, kita mengajak generasi muda untuk meningkatkan semangat membaca dan menulis," ucapnya. (hm27)

BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN