Siswa Terlambat Ditahan di Luar Gerbang, Kepsek SDN 060952 Medan Labuhan Beri Penjelasan

Kolase foto tangkapan layar video orang tua siswa yang protes karena anak-anak yang terlambat harus menunggu di luar gerbang sampai upacara bendera selesai. (foto:[email protected]/Mistar)
Medan, MISTAR.ID (13/8/2026) – Sebuah video dari orang tua siswa yang menunjukkan protes terhadap Sekolah Dasar Negeri (SDN) 060952 Medan Labuhan, Kota Medan, viral di media sosial. Dalam video tersebut, tampak puluhan siswa dan orang tua berada di luar gerbang sekolah yang tepat berada di pinggir jalan raya Kelurahan Yos Sudarso.
Bukan tanpa alasan, puluhan siswa yang berada di luar gerbang itu ternyata datang terlambat dan harus menunggu hingga upacara bendera selesai. Namun, para orang tua tidak terima karena takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan kepada anak-anak yang harus menunggu di dekat jalan raya.
“Dikunci pagarnya, tidak dibolehi anak-anak masuk. Dan ini akan mengancam keselamatan anak-anak, ini Jalan Raya Yos Sudarso. Gara-gara terlambat alasannya, ini supaya Dinas Pendidikan menindak kepala sekolah yang gak becus ini,” ucap orang tua siswa dalam video viral tersebut.
Menanggapi hal itu, Kepala SDN 060951 Medan Labuhan, Lesmono, menjelaskan bahwa kejadian itu berlangsung ketika para siswa dan guru sedang melakukan upacara bendera yang rutin dilakukan setiap Senin.
Tepat pukul 07.15 WIB, bel sekolah sudah berbunyi untuk pelaksanaan upacara. Namun, gerbang mulai ditutup pada pukul 07.17 WIB dan anak-anak maupun guru yang terlambat tidak diperbolehkan masuk agar pelaksanaan upacara dapat berjalan dengan khidmat. Meski demikian, pihak sekolah juga menyediakan guru piket yang berjaga di depan pintu gerbang untuk mengawasi para siswa yang terlambat.
Pada hari kejadian, Lesmono yang menjadi pembina upacara mengaku mendengar keributan di luar gerbang sekolah. Setelah upacara selesai, Lesmono bertanya kepada guru piket. Ia mengaku mendapat kata-kata makian dari orang tua siswa.
“Saya nggak menyangka mengapa bisa terjadi seperti itu. Yang tidak boleh masuk itu bukan hanya siswa, tapi guru yang terlambat juga. Ada beberapa guru yang terlambat juga tidak boleh masuk. Boleh masuk setelah upacara selesai,” katanya, Kamis (13/8/2026).
Lesmono meyakini bahwa apa yang dilakukannya tidak salah. Ia hanya berpedoman pada cara mendidik dan mendisiplinkan murid.
“Mungkin orang tua punya pandangan lain tentang kehidupan sekolah. Tapi yang penting kami berjalan sebagaimana mestinya yang kami programkan untuk masa depan anak-anak,” tuturnya lagi.
Saat itu, ada sekitar 20 siswa dan tiga guru yang terlambat dan harus menunggu di luar gerbang sekolah hingga upacara selesai. Hal ini sudah menjadi aturan sekolah. Ia menegaskan, kemacetan yang terjadi bukan karena siswa yang terlambat dan menunggu di luar gerbang, namun karena ramainya orang tua yang turut datang dan kendaraannya menyebabkan jalanan macet.
Ia mengatakan bahwa orang tua tidak seharusnya menunggu di depan gerbang sebab guru piket sudah ada yang menjaga. Selain itu, guru yang terlambat juga dapat membantu mengawasi siswa di luar gerbang.
“Saya juga berharap ini bukan hanya cambuk bagi murid, tapi juga sebagai pembelajaran untuk guru-gurunya. Apakah gurunya masih punya rasa malu yang terlambat ikut berbaris di depan sana? Saya juga akan menilai untuk Senin-Senin berikutnya. Kalau masih terlambat, kita ada sanksinya,” ucap Lesmono.
SDN tersebut memiliki 356 siswa dan 24 guru. Pihak sekolah akan tetap memberlakukan aturan keterlambatan ini bagi siswa dan juga guru. Guru yang terlambat, sebutnya, akan diberikan sanksi lanjutan lewat e-Kinerjanya masing-masing. Kronologi kejadian ini juga, kata Lesmono, sudah diketahui oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Medan.
“Kalau ini memang baik, ke depannya akan tetap dibuat. Jika saya mengalah, berarti saya kalah menegakkan peraturan,” katanya tegas.
Ia juga mengimbau para orang tua agar dapat saling bekerja sama dalam membangun karakter generasi bangsa menuju Indonesia Emas 2045. Jika tidak memiliki disiplin, lanjutnya, generasi emas 2045 tidak mungkin terjadi.
“Karena bagaimana, kehidupannya anak-anak yang sekarang aja tidak mematuhi peraturan. Orang yang sukses itu semuanya orang-orang disiplin. Orang-orang yang hidup nggak disiplin rata-rata nggak sukses,” ucapnya. (hm27)























