Rayakan HUT ke-6, Senyum Kecil Indonesia Galang Dana untuk Pendidikan Anak di Leuser

Potong tumpeng ulang tahun Komunitas Senyum Kecil. (foto: susan/mistar)
Medan, MISTAR.ID - Komunitas sosial Senyum Kecil Indonesia menggelar kegiatan bertajuk ‘Miles of Smiles’ yang menjadi bagian dari peringatan hari jadi komunitas tersebut yang ke-6. Acara ini merupakan ruang kolaborasi yang mempertemukan unsur musik, seni, komunitas, generasi muda dan gerakan sosial dalam semangat berkarya serta berbagi.
Kegiatan yang digelar di Galeri Taman Budaya, Taman Budaya Sumut (PRSU), Jalan Jenderal Gatot Subroto, Kecamatan Medan Helvetia ini akan berlangsung sejak Sabtu 24 Oktober hingga Sabtu 31 Oktober 2026.
Founder sekaligus Ketua Umum Senyum Kecil, Audry Handoyo mengatakan perayaan ulang tahun kali ini diisi dengan tiga agenda utama, yaitu talkshow, penampilan band musik dan instalasi seni (art installation).
“Karena kita bergeraknya juga di bidang pendidikan, kita juga mengundang dua narasumber yang salah satu tujuannya untuk Sekolah Alam Leuser,” ujarnya, Sabtu (24/10/2026).
Selain itu, pihaknya juga mengadakan penggalangan dana yang diprioritaskan untuk penyediaan kendaraan bagi anak-anak di Sekolah Alam Leuser, dan sebagian lagi dialokasikan untuk operasional kegiatan Senyum Kecil selanjutnya.
Pantauan Mistar di lokasi, terdapat juga sejumlah karya seniman yang menggambarkan perjalanan kegiatan Senyum Kecil di sejumlah kabupaten kota di Sumut, pada dua tahun terakhir.
Senyum Kecil pertama kali didirikan pada tanggal 7 Agustus 2020 di tengah situasi pandemi Covid-19. Komunitas ini lahir dari keresahan para pendirinya melihat ketimpangan akses pendidikan bagi anak-anak di daerah tertinggal, di mana fasilitas pembelajaran jarak jauh seperti Zoom tidak mudah dijangkau.
Pada awal perjalanannya, relawan Senyum Kecil rutin mendatangi daerah-daerah pelosok dengan membawa perlengkapan belajar seperti krayon, pensil dan pulpen, alih-alih sekadar membagikan makanan ringan. Pergerakannya semakin meluas ketika mereka menemukan anak-anak di kawasan Bukit Lawang yang belum mengenal fungsi krayon dan alat pewarna.
Seiring berjalan waktu, fokus gerakan Senyum Kecil tidak hanya terbatas pada dunia pendidikan anak, tapi juga merambat ke berbagai persoalan kemanusiaan. Audry menjelaskan, komunitasnya ini juga aktif turun tangan membantu korban bencana alam di Aceh dan Tapanuli beberapa waktu lalu, dengan mengelola donasi secara transparan dan tepat sasaran.
“Sebenarnya landasan utamanya tetap anak-anak. Hanya saja kami merasa apa yang bisa kami bantu ya dibantu saja. Contohnya seperti banjir kemarin, kita merasa gimana nih bisa sampai Aceh dan Tapanuli, namun dengan kepedulian teman-teman band lokal kita bisa turut membantu ke sana,” ucapnya.
Selain fokus pada isu pendidikan, agenda talkshow pada penutupan acara tanggal 31 Oktober mendatang juga akan mengangkat diskursus publik mengenai respons anak muda terhadap penanganan bencana di media sosial. Sesi ini, kata dia, diharapkan dapat memicu kesadaran literasi digital agar pemuda tidak sekadar membagikan informasi tanpa memahami akar keresahan korban di lapangan.
Lewat perayaan kali ini, Audry juga berharap agar Senyum Kecil dapat terus bertahan dan konsisten dalam menebar kebaikan sekecil apapun bagi masyarakat luas. “Harapannya pastinya selalu menebar kebaikan walau sekecil apapun. Minimal kita pertahankan walau pastinya tidak mudah,” tutur Audry.









































