Perkuat Referensi dan Nalar Kritis Akademisi Melalui Buku Reset Indonesia

Buku riset diterima Dekan Fakultas Ilmu Sosial UINSU, Prof. Mesiono (kanan). (Foto: Istimewa/Mistar)
Deli Serdang, MISTAR.ID
Penyerahan buku Reset Indonesia di lingkungan Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UINSU) menjadi bagian dari upaya memperkuat referensi akademik sekaligus mendorong nalar kritis di kalangan mahasiswa dan dosen.
Buku tersebut diserahkan dosen Ilmu Komunikasi UINSU, Reviza Putra Syarif, kepada pimpinan Fakultas Ilmu Sosial UINSU di kampus Jalan Lapangan Golf, Desa Durin Jangak Tuntungan, Kecamatan Pancur Batu, Kabupaten Deli Serdang, Rabu (6/5/2026).
Reviza Putra Syarif yang juga menjabat sebagai Direksi PT Indata Komunika Cemerlang menyampaikan, buku Reset Indonesia diharapkan dapat menjadi referensi alternatif bagi mahasiswa dan dosen dalam memahami berbagai persoalan kebangsaan secara lebih kritis.
“Buku ini tidak hanya mengulas persoalan bangsa, tetapi juga menawarkan solusi konkret. Saya berharap ini bisa menjadi pemantik diskusi dan memperluas cara pandang civitas akademika,” ujar Reviza yang juga Wakil Sekretaris 1 Pengurus Wilayah Ikatan Wartawan Online Sumatera Utara (PW IWO Sumut).
Ia menambahkan, salah satu bagian dalam buku tersebut mengangkat isu krisis air bersih sebagai contoh nyata persoalan lingkungan yang dekat dengan kehidupan masyarakat.
Menurutnya, pembahasan semacam itu penting untuk membangun sensitivitas mahasiswa terhadap realitas sosial.
Dekan Fakultas Ilmu Sosial UINSU, Prof. Mesiono, menyambut baik inisiatif tersebut. Ia mengaku telah lama mendengar ulasan mengenai buku Reset Indonesia, namun baru kali ini memiliki kesempatan untuk membacanya secara langsung.
“Saya berkomitmen untuk menuntaskan buku ini dan mengimplementasikan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dalam proses pembelajaran,” katanya.
Sementara itu, Wakil Dekan I, Retno Sayekti, turut mengapresiasi langkah tersebut. Ia menilai buku Reset Indonesia memiliki perspektif yang kuat karena disusun berdasarkan pengalaman empiris para penulisnya dalam mengamati kondisi Indonesia.
“Buku ini merekam realitas sosial dari berbagai daerah. Perspektif seperti ini penting untuk memperkaya wawasan mahasiswa,” ujarnya.
Melalui kegiatan ini, Reviza berharap budaya literasi yang mendalam dapat terus berkembang di lingkungan kampus. Ia menekankan pentingnya membangun pola pikir kritis di tengah arus informasi yang semakin cepat.
“Mahasiswa tidak hanya dituntut memahami teori, tetapi juga mampu membaca realitas sosial secara objektif dan kritis,” tuturnya. (hm20)



















