Gagal Ratusan Kali Tak Hentikan Langkah, Siswi Medan Ini Lolos UI Lewat Dua Jalur Sekaligus

Rr Carissa Fiorenza Aqila Fahstine siswa SMAN 1 Medan. (foto:istimewa/mistar)
Medan, MISTAR.ID
Kegigihan Rr. Carissa Fiorenza Aqila Fahstine membuahkan hasil manis. Setelah melewati puluhan bahkan ratusan kegagalan dalam berbagai perlombaan, siswi lulusan SMAN 1 Medan itu berhasil lolos ke Universitas Indonesia melalui dua jalur sekaligus, yaitu Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) dan program Talent Scouting internasional.
Remaja 17 tahun ini sejak awal memang menyiapkan dua jalur tersebut secara paralel, dengan pilihan jurusan yang sama, yakni Arsitektur. Ia mempersiapkan nilai akademik untuk SNBP sekaligus melengkapi syarat Talent Scouting, mulai dari sertifikat, motivation letter, hingga portofolio karya seni yang relevan dengan bidang arsitektur.
Anak pertama dari dua bersaudara itu menuturkan bahwa perjuangannya tidak instan. Ia mengaku baru serius mengumpulkan sertifikat pada kelas 11 dan 12, sehingga harus bekerja lebih keras dalam waktu yang relatif singkat. Berbagai penolakan dan kegagalan sempat membuatnya meragukan diri sendiri.
“Pasti kepikiran, kenapa orang lain bisa dapat dengan mudah, tapi saya gagal terus. Doubt to myself itu ada,” katanya kepada Mistar, Sabtu (25/4/2026).
Kegagalannya dalam mengumpulkan sertifikat prestasi justru menjadi pemicu untuk terus maju dan pantang menyerah. Ia terus mengikuti lomba dan memperbaiki diri, sembari menanamkan keyakinan bahwa setiap usaha akan terbayar.
“Saya selalu percaya, God always have a better plan for me. Jadi saya tetap berusaha. Sampai akhirnya saya bisa mendapatkan what I am achieving for dari awal,” ucapnya.
Selain itu, Carissa juga dikenal konsisten sejak awal SMA dalam menjaga performa akademik. Ia aktif di kelas, sering bertanya, dan berupaya memberikan hasil terbaik dalam setiap tugas. “Saya punya prinsip all-out, put all of my effort buat apa yang ingin saya tuju,” katanya.
Keberhasilan lolos melalui dua jalur sekaligus menjadi bukti dari konsistensi tersebut. Meski demikian, Carissa akhirnya memutuskan untuk memilih jalur SNBP dengan berbagai pertimbangan, termasuk peluang akademik dan efisiensi biaya.
Menurut Carissa, program Talent Scouting menawarkan pengalaman internasional dengan kesempatan kuliah satu semester di luar negeri seperti Italia, Australia, atau Inggris. Meski demikian, ia menilai peluang serupa tetap terbuka di kelas reguler. “Di Universitas Indonesia sendiri itu banyak sekali opportunity buat ke luar negeri,” katanya.
Selain itu, faktor sistem seleksi juga menjadi pertimbangan penting. Ia mengaku tidak ingin mengambil risiko yang dapat berdampak pada sekolahnya. “SNBP itu kan seleksi nasional. Kalau tidak diambil, ada sistem blacklist dan saya sangat tidak mau sekolah saya yang tercinta ini kena blacklist,” ujarnya.
Di balik pencapaiannya, Carissa mengakui peran besar minat dan karakter dirinya yang cenderung kreatif. Sejak kecil, ia sudah akrab dengan dunia seni, mulai dari bernyanyi hingga mengikuti berbagai kegiatan berbasis kreativitas. Hal itulah yang kemudian mengarahkannya pada pilihan jurusan arsitektur.
Ke depan, Carissa tidak hanya ingin menyelesaikan pendidikan sarjana, tetapi juga melanjutkan hingga jenjang magister di bidang perencanaan wilayah dan kota.
Ia memiliki mimpi besar untuk berkontribusi pada pembangunan Indonesia, khususnya dalam mengurangi ketimpangan di wilayah perkotaan dan pedesaan. “Saya sedih lihat ketimpangan sosial yang sangat besar, dan itu yang ingin saya ubah. Saya sangat berharap Indonesia bisa menjadi negara yang makmur, maju, dan itu juga menjadi salah satu motivasi saya untuk belajar dan menempuh arsitektur,” ujarnya.
Carissa juga berpesan kepada pelajar lain untuk tidak takut gagal dan tetap berani bermimpi besar. “Kalau punya mimpi tinggi, bukan mimpinya yang dikecilkan, tapi effort-nya yang harus dibesarkan,” katanya menegaskan. (hm27)






















