Monday, June 8, 2026
home_banner_first
SAHABAT PENDIDIKAN

FKIP UMSU Terapkan Pembelajaran Transformatif untuk Bentuk Guru Masa Depan

Mistar.idSenin, 8 Juni 2026 21.05
EH
SH
fkip_umsu_terapkan_pembelajaran_transformatif_untuk_bentuk_guru_masa_depan

Ketua Prodi PGSD FKIP UMSU, Ismail Saleh Nasution. (Foto: Susan/Mistar)

news_banner

Medan, MISTAR.ID

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) menerapkan pembelajaran transformatif sebagai upaya mencetak calon guru berkarakter kuat dan adaptif terhadap perkembangan zaman.

Ketua Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) FKIP UMSU, Ismail Saleh Nasution, mengatakan dunia pendidikan saat ini dituntut untuk mampu melahirkan lulusan berkemampuan kritis, beradaptasi, serta memberikan dampak positif bagi lingkungan sekitar.

Menurutnya, konsep kampus masa kini harus berorientasi pada “kampus berdampak”, di mana mahasiswa didorong berkontribusi sejak masih berada di bangku kuliah hingga setelah lulus.

“Jika hanya sekadar pintar, membaca AI saja anak-anak sekarang lebih pintar. Namun, melahirkan siswa yang berkarakter jauh lebih penting di zaman sekarang, di mana empati anak muda yang mulai menipis,” ujarnya dalam podcast Mistar, Senin (8/6/2026).

Ia menjelaskan, melalui pembelajaran transformatif, FKIP UMSU mengintegrasikan aspek kognitif dengan nilai-nilai spiritual, sikap, tata krama, tanggung jawab, integritas, serta semangat gotong royong.

Ismail juga mencontohkan penerapan pembelajaran kontekstual dalam mata kuliah, salah satunya melalui pendekatan Matematika Realistis. Dalam contoh kasus sederhana, ia mengilustrasikan dua pizza dengan diameter sama.

Orang tua memotong pizza pertama menjadi 4 bagian, dan pizza kedua menjadi 8 bagian. Sang kakak mendapat 2 bagian dari potongan 8 (2/8), sedangkan adiknya mendapat 1 bagian dari potongan 4 (1/4). Secara matematis nilainya sama, namun si adik iri melihat kakaknya memegang dua potong.

“Nah, studi kasus nyata seperti ini yang kita ajarkan kepada calon guru agar pembelajaran matematika tidak kaku,” tuturnya.

Selain pembelajaran di dalam kelas, FKIP UMSU juga memfasilitasi pembelajaran luar kelas melalui kegiatan field trip, termasuk pemanfaatan Observatorium Ilmu Falak (OIF) UMSU untuk pembelajaran materi geometri dan tata surya.

Dalam penguatan praktik mengajar, FKIP UMSU menerapkan program Pengenalan Lapangan Persekolahan (PLP) secara bertahap. Pada PLP 1 mahasiswa melakukan observasi di sekolah, PLP 2 mulai menyusun perangkat pembelajaran dengan pendampingan guru pamong, dan PLP 3 dilaksanakan dengan praktik mengajar langsung selama satu bulan penuh.

Ismail juga mengakui masih ada mahasiswa yang memilih jurusan PGSD karena dorongan orang tua atau ketidaksiapan terhadap beberapa mata kuliah, seperti matematika dan bahasa Inggris. Namun ia menegaskan bahwa proses pembelajaran dan pendampingan dosen diharapkan dapat menumbuhkan kecintaan terhadap profesi guru.

“Rasa cinta pada profesi ini akan tumbuh pelan-pelan lewat bimbingan dosen yang sabar,” ujarnya.

Ia menambahkan, profesi guru, khususnya guru sekolah dasar, menuntut kesabaran tinggi karena harus mengajar sekaligus melakukan penilaian pada aspek kognitif, afektif, dan keterampilan siswa.

“Maka itu harus betul-betul kita cintai, kalau sudah kita cintai, kita akan nyaman untuk menjalani pekerjaan kita. Dan itu juga selalu saya sampaikan ke mahasiswa,” ucapnya. (hm20)

BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN