Psikolog Ungkap Faktor yang Memengaruhi Perilaku Seksual Remaja Usai Viral Video Dua Pria Berciuman di Kampus

Ilustrasi sesama jenis. (foto:istimewa/Mistar)
Medan, MISTAR.ID
Video viral yang menampilkan dua pria tengah berciuman di lingkungan kampus negeri di Jakarta masih menjadi perbincangan hangat di media sosial. Hal ini juga memicu munculnya asumsi dan diskusi publik mengenai perilaku seksual generasi muda.
Menurut Psikolog Anak dan Remaja, Katherina, hingga kini belum ada hasil pemeriksaan resmi mengenai latar belakang perilaku kedua individu dalam kasus viral tersebut. Namun, secara psikologis, ia menjelaskan bahwa perilaku seksual seseorang dipengaruhi oleh berbagai faktor yang kompleks.
“Hal ini bisa saja dipengaruhi banyak faktor, misalnya faktor biologis, psikologis, keluarga, budaya dan lingkungan sosial, ataupun pengalaman hidup seseorang,” katanya kepada Mistar, Senin (8/6/2026).
Founder Pedia Clinic Cemara Asri Medan itu menuturkan, faktor biologis berkaitan dengan kondisi bawaan, sementara faktor psikologis dapat terkait dengan perkembangan kepribadian dan kemampuan seseorang dalam memahami norma sosial. Selain itu, karakteristik kepribadian tertentu juga dapat memengaruhi kemampuan seseorang dalam mengambil keputusan secara tepat.
“Faktor keluarga, misalnya kurangnya komunikasi yang terjalin antara orang tua dan anak, anak dari keluarga broken home sehingga hanya diasuh oleh salah satu orang tua, serta akses internet yang bebas sehingga sering terpapar konten pornografi sejak kecil,” tuturnya.
Selain itu, pengalaman traumatis seperti pernah menjadi korban kekerasan seksual juga disebut dapat menjadi salah satu faktor yang memengaruhi perkembangan psikologis seseorang di kemudian hari.
Di sisi lain, faktor budaya dan lingkungan sosial juga berpengaruh. Misalnya, lingkungan tempat tinggal yang tidak kondusif, termasuk ketika anak sering menyaksikan perilaku seksual orang dewasa di sekitarnya.
Meski demikian, Katherina menegaskan bahwa tidak ada ciri tunggal pada masa kanak-kanak yang bisa dijadikan indikator pasti terkait orientasi atau perilaku seksual seseorang di masa depan.
“Sulit untuk mengatakan bahwa kita bisa melihat ciri-ciri anak yang akan memiliki orientasi seksual tertentu. Karena pada masa kanak-kanak, mereka bisa saja menunjukkan minat dan perilaku yang sangat bervariasi,” ucap alumnus Universitas Sumatera Utara itu.
Ia mengingatkan agar masyarakat tidak terburu-buru memberi label berdasarkan minat atau perilaku anak yang masih berada dalam tahap perkembangan.
“Misalnya, anak laki-laki menyukai warna pink, suka memasak, atau bermain boneka. Hal tersebut bukanlah patokan bahwa anak itu akan memiliki orientasi seksual tertentu,” katanya menjelaskan.
Namun, orang tua diminta lebih peka apabila anak menunjukkan perilaku tertentu yang memerlukan perhatian dan pendampingan. Misalnya, memiliki ketertarikan yang sangat kuat terhadap sesama jenis disertai keinginan berulang untuk menjadi lawan jenis, lebih nyaman menampilkan perilaku yang identik dengan lawan jenis dalam lingkungan bermain, atau memiliki keinginan kuat untuk mengubah bentuk tubuhnya seperti lawan jenis ketika dewasa.
“Meskipun demikian, ini sekali lagi bukan patokan. Namun, dapat menjadi bahan perhatian agar anak memperoleh pendampingan yang tepat dan dapat berkembang secara optimal di kemudian hari,” tutur Katherina.
Untuk membantu anak tumbuh dan berkembang secara sehat, Katherina menekankan pentingnya peran orang tua dalam membangun komunikasi terbuka, menanamkan nilai moral dan agama sejak dini, serta memberikan edukasi seksual yang sesuai dengan usia dan tahap perkembangan anak.
Ia menambahkan, pendidikan seksualitas sejak dini sangat penting diberikan agar anak memahami batasan tubuhnya sendiri maupun orang lain, mengetahui bagian tubuh yang bersifat pribadi, serta memahami cara menjaga diri dari berbagai risiko.
Selain itu, pengawasan terhadap penggunaan gawai dan lingkungan pergaulan juga menjadi faktor penting dalam mendukung perkembangan psikologis anak yang sehat.
“Perlu juga mengawasi penggunaan gadget dan screen time pada anak,” tuturnya. (hm27)
PREVIOUS ARTICLE
PPPK Guru Sekolah Rakyat 2026 Dibuka! Rebut 8.180 Formasi, Ini Peluang Lolos, Strategi Pilih Formasi, dan Bocoran CATBERITA TERPOPULER






















