Perang AS-Iran Picu Lonjakan BBM, Pemerintah Trump Lepas Cadangan Minyak Darurat

Presiden AS, Trump (Foto: Istimewa/Mistar)
Pematangsiantar, MISTAR.ID
Konflik antara Amerika Serikat dan Iran mulai memberikan tekanan serius terhadap perekonomian domestik AS, terutama sektor energi. Lonjakan harga bahan bakar membuat pemerintah Presiden Donald Trump mengambil langkah darurat dengan melepas cadangan minyak strategis nasional atau Strategic Petroleum Reserve (SPR).
Kebijakan tersebut diumumkan pemerintah AS pada Senin (11/5/2026) sebagai bagian dari upaya meredam gejolak harga minyak global akibat konflik yang terus memanas di Timur Tengah.
Pemerintah federal diketahui akan meminjamkan minyak mentah dari SPR kepada sejumlah perusahaan energi besar guna menjaga pasokan dan menstabilkan harga bahan bakar di pasar domestik.
Berdasarkan data American Automobile Association (AAA), harga rata-rata bensin di AS kini mencapai 4,52 dolar AS per galon atau sekitar Rp79.100. Angka tersebut menjadi yang tertinggi sejak tahun 2022.
SPR sendiri merupakan cadangan minyak mentah darurat milik pemerintah AS yang disimpan di fasilitas bawah tanah wilayah Texas dan Louisiana untuk menghadapi gangguan besar pasokan energi.
Departemen Energi AS (DOE) menyebut sembilan perusahaan energi ikut dalam skema pinjaman minyak tersebut, termasuk Exxon Mobil, Trafigura, dan Marathon Petroleum.
Program ini menjadi bagian dari kesepakatan internasional bersama lebih dari 30 negara anggota International Energy Agency atau IEA untuk melepas sekitar 400 juta barel minyak ke pasar global.
Langkah tersebut diambil setelah Iran menutup Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang selama ini dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dunia setiap harinya.
Penutupan jalur tersebut memicu lonjakan harga minyak dunia dan meningkatkan kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi global.
Pemerintah AS sebelumnya juga telah melepas sekitar 80 juta barel minyak dari SPR pada musim semi tahun ini. Secara keseluruhan, Washington menargetkan pelepasan hingga 172 juta barel minyak dari cadangan strategis nasional.
Kepala IEA, Fatih Birol, bahkan menyebut konflik Timur Tengah saat ini sebagai salah satu krisis energi terbesar dalam sejarah modern.
Di sisi politik domestik, kenaikan harga energi mulai menjadi tekanan bagi pemerintahan Trump dan Partai Republik menjelang pemilu sela Kongres AS pada November mendatang.
Para analis menilai pelepasan SPR memang dapat membantu menekan harga minyak dalam jangka pendek. Namun, penggunaan cadangan strategis secara berlebihan dikhawatirkan dapat melemahkan kemampuan AS menghadapi krisis energi berikutnya.
Selain itu, pasar energi global dinilai berpotensi semakin volatil jika investor melihat pelepasan cadangan minyak sebagai sinyal rapuhnya pasokan energi dunia.



















