Sunday, June 7, 2026
home_banner_first
INTERNATIONAL

Iran Tak Berniat Lanjutkan Gencatan Senjata dengan AS

Mistar.idSelasa, 21 April 2026 10.00
EH
iran_tak_berniat_lanjutkan_gencatan_senjata_dengan_as

Bendera Iran. (Foto: Reuters/Leonhard Foeger)

news_banner

Teheran, MISTAR.ID

Ketua parlemen Iran, Mohammad Ghalibaf, menegaskan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) siap melancarkan serangan terhadap Amerika Serikat dan Israel jika gencatan senjata sementara tidak diperpanjang dan resmi berakhir pada Rabu (22/4/2026).

Melalui unggahannya di X, Ghalibaf juga menegaskan Iran tidak berniat melanjutkan perundingan damai putaran kedua dengan AS. Ia menilai Presiden Donald Trump tidak menunjukkan itikad untuk mencapai solusi damai, melainkan menggunakan forum negosiasi demi kepentingan sepihak Washington.

"Kami tidak menerima perundingan di bawah bayang-bayang ancaman, dan dalam dua pekan terakhir kami telah bersiap mengungkap kartu-kartu baru di medan perang," ujar Ghalibaf.

Ia menilai pemerintahan Trump tidak mencari jalan tengah, tetapi justru berupaya menjadikan meja perundingan sebagai sarana untuk menekan Iran.

Sebelumnya, AS dan Iran menyepakati gencatan senjata selama dua pekan yang mulai berlaku sejak 8 April. Kedua pihak sempat menggelar pembicaraan di Islamabad, namun negosiasi tersebut berakhir tanpa kesepakatan.

Rencana perundingan lanjutan pekan ini pun ditolak oleh Iran, yang menilai AS tidak mematuhi kesepakatan awal. Ghalibaf menuding Washington melanggar gencatan senjata melalui blokade di Selat Hormuz serta serangan terhadap kapal-kapal Iran.

"Trump, dengan menerapkan blokade dan melanggar gencatan senjata, berusaha mengubah meja perundingan ini dalam imajinasinya sendiri menjadi meja penyerahan diri atau sebagai pembenaran untuk kembali menyalakan perang," ucap Ghalibaf.

Di sisi lain, Trump mengisyaratkan peluang perpanjangan gencatan senjata sangat kecil.

"Sangat kecil kemungkinan saya akan memperpanjangnya," kata Trump dalam wawancara dengan Bloomberg.

Ia juga memperingatkan konflik bisa kembali memanas jika kesepakatan tidak tercapai.

Ketegangan antara AS dan Iran meningkat sejak operasi militer yang juga melibatkan Israel pada 28 Februari. Serangan tersebut dilaporkan menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, bersama sejumlah pejabat tinggi lainnya.

Iran kemudian melancarkan serangan balasan pada hari yang sama. Situasi semakin mengkhawatirkan karena kedua pihak saling melakukan blokade di Selat Hormuz, jalur vital perdagangan energi dunia. (hm20)

BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN