Sunday, June 21, 2026
home_banner_first
MEDAN

Unik, Sungai Deli Disulap Jadi Panggung Teater Kontemporer

Mistar.idJumat, 19 Juni 2026 pukul 10.51 WIB
AN
AA
unik_sungai_deli_disulap_jadi_panggung_teater_kontemporer

Aktor teater saat melakukan prosesi gladi bersih pementasan di atas instalasi panggung terapung. (Foto: Sanggar Anak Sungai Deli/SASUDE)

news_banner

Medan, MISTAR.ID

Sungai Deli disulap menjadi panggung teater kontemporer melalui pertunjukan yang digelar di atas panggung terapung dalam kegiatan Re-Posisi Zikir Sungai Deli di Sanggar Anak Sungai Deli (SASUDE), Medan, pada 19-20 Juni 2026.

Sajian kebudayaan yang disokong penuh oleh Dana Indonesiana ini mengawinkan zikir budaya, diskusi publik, sastra, pameran, peluncuran buku, hingga pementasan teater kontemporer.

Seluruh rangkaian dirancang sebagai stimulus untuk merekonstruksi ingatan kolektif dan kesadaran warga terhadap eksistensi Sungai Deli sebagai episentrum sejarah serta urat nadi peradaban Kota Medan.

Gagasan memindahkan panggung teater ke atas permukaan air menjadi daya tarik utama sekaligus simbolisasi keterikatan manusia dengan sungai.

Penggagas kegiatan sekaligus sutradara pertunjukan, Hafiz Taadi, mengungkapkan proyek ini lahir dari kegelisahan mendalam melihat relasi masyarakat modern yang kian berjarak dan renggang dengan Sungai Deli.

“Melalui pendekatan seni pertunjukan, kami ingin mengajak masyarakat kembali melihat Sungai Deli bukan sekadar aliran air, melainkan ruang peradaban yang memiliki sejarah, budaya, dan nilai kehidupan penting bagi Kota Medan,” kata Hafiz, Jumat (19/6/2026).

Hafiz mengemas pementasan puncak ini dalam balutan teater kontemporer yang padat kolaborasi. Berbagai anasir lokal mulai dari tradisi tutur (lisan), instrumen musik etnik, sastra, hingga pemanfaatan multimedia diintegrasikan untuk melahirkan bahasa seni yang adaptif dan menyentuh sisi emosional penonton.

Sebagai pembuka hari pertama, riuh kebudayaan diisi dengan pembacaan puisi, penyerahan tali asih, pameran foto, serta diskusi publik yang membedah posisi ekologis dan sosiologis Sungai Deli di tengah himpitan kota metropolitan.

Memasuki hari kedua, agenda berlanjut dengan peluncuran buku budaya sebelum ditutup oleh pertunjukan teater di atas air.

Founder SASUDE, Lukman Hakim Siagian, selaku tuan rumah, menyambut hangat sinergi para pelaku seni dalam kegiatan tersebut.

Baginya, menyuarakan penyelamatan Sungai Deli tidak bisa lagi sekadar mengandalkan jargon ekologis, tetapi harus menyentuh ranah kebudayaan.

“Upaya menjaga sungai tidak bisa dilakukan sendiri, melainkan butuh gerakan kolektif lintas sektor. Keberadaan SASUDE selama ini konsisten mengubah citra bantaran sungai menjadi ruang belajar, ruang budaya, dan ruang perjumpaan warga dengan sungai,” ucap Lukman.

Lukman optimistis, melalui pendekatan estetis seperti panggung terapung ini, rasa memiliki (sense of belonging) masyarakat terhadap Sungai Deli akan kembali menebal.

Ketika rasa itu mengakar, kesadaran organik untuk merawat dan tidak mengotori sungai akan terwujud dengan sendirinya tanpa perlu paksaan. (hm25)

BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN