Sunday, September 20, 2026
home_banner_first
MEDAN

Pengakuan Ilham Panggabean: Anak Bungsu 8 Bersaudara Aktivis Medan yang Dibayangi Teror

Mistar.idMinggu, 20 September 2026 pukul 13.38 WIB
pengakuan_ilham_panggabean_anak_bungsu_8_bersaudara_aktivis_medan_yang_dibayangi_teror

Ilham Budiman Panggabean, aktivis Kota Medan yang tergabung dalam HMI dan FPM-SU. (Foto: Dok. Ilham Budiman Panggabean)

news_banner

Medan, MISTAR.ID (20/9/2026) — Menjadi aktivis bukan tanpa risiko. Ilham Budiman Panggabean merasakannya langsung. Teror di media sosial, intimidasi saat aksi, hingga ancaman pembunuhan karakter pernah ia alami selama mengabdi di jalan pergerakan.

Pria kelahiran Medan, 15 September 2001, itu mengenal dunia aktivis sejak 2020. Saat itu ia masih mahasiswa Fakultas Ushuluddin dan Studi Islam (FUSI) Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UINSU) dan bergabung dengan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).

"Sejak tahun 2020 menjadi aktivis dengan mengabdikan diri di HMI Komisariat FUSI UINSU. Ada semacam ancaman verbal dan non-verbal yang pernah saya alami. Kalau di media sosial, dari Instagram, saya pernah diteror," cerita Ilham kepada Mistar melalui sambungan seluler, Minggu (20/9/2026).

Teror itu tidak hanya datang dari dunia maya. Di lapangan, ia juga pernah berhadapan langsung dengan intimidasi.

Pengalaman paling membekas baginya adalah saat aksi demonstrasi nasional di depan Kantor DPRD Sumatera Utara dan Kantor Wali Kota Medan pada Agustus 2025 lalu.

"Intimidasi dan teror pernah saya alami baik di media maupun langsung. Pengalaman paling berkesan saat demonstrasi nasional di DPRD Medan dan Sumut serta Kantor Wali Kota Medan saat berkonfrontasi dengan kepolisian demi memperjuangkan keadilan bagi rakyat, salah satunya soal BBM dan tunjangan DPR," ujarnya.

Ilham menjelaskan, teror yang diterimanya bukan ancaman pembunuhan secara fisik, melainkan serangan psikologis.

"Teror-teror pengancaman dan pembunuhan karakter. Belum sampai ke pengancaman pembunuhan. Lebih ke teror di direct message (DM) Instagram. Kalau peretasan WhatsApp belum sampai, karena pengamanannya kuat," tuturnya.

Dari Ketua Komisariat hingga Ketua Bidang

Perjalanannya di HMI terbilang konsisten. Ia pernah menjabat Ketua Umum HMI Komisariat FUSI periode 2022–2023. Kini, ia mengemban amanah sebagai Ketua Bidang Pembangunan Demokrasi dan Politik HMI Cabang Medan periode 2025–2026.

Selain di HMI, Ilham juga dipercaya sebagai Ketua Umum Forum Pemuda dan Mahasiswa Sumatera Utara (FPM-SU).

"Selama berkecimpung di dunia aktivis, saya sering turun ke jalan untuk berorasi, menyuarakan kebenaran, dan mengkritisi kebijakan pemerintah yang tidak pro-rakyat. Dari situ juga saya mengalami intimidasi dan teror dari orang tak dikenal," katanya.

Anak Bungsu yang Pantang Menyerah

Di balik orasinya yang lantang, Ilham lahir dari keluarga sederhana. Ia anak bungsu dari delapan bersaudara. Ibunya seorang ibu rumah tangga. Ayahnya meninggal dunia saat ia baru duduk di bangku kuliah S1 Jurusan Pemikiran Politik Islam FUSI UINSU pada 2019.

Keterbatasan ekonomi tidak membuatnya menyerah. Ia sempat mendaftar Beasiswa Bidikmisi yang kini bernama Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah, namun tidak lolos. Untuk bertahan, ia bekerja serabutan.

"Saya anak terakhir dari delapan bersaudara. Lahir dari keluarga menengah ke bawah. Sewaktu memasuki dunia perkuliahan, ayah saya sudah meninggal. Saya bekerja freelance sebagai badan ad hoc KPU PPS Sidorejo Hilir pada Pilkada 2024, Liaison Officer cabor voli indoor PON XXI Sumut-Aceh, dan mengajar SD-SMP," ucapnya.

Ia menempuh pendidikan dasar di SDN 064969 Medan, SMP Swasta Pahlawan Nasional Medan, dan SMA Budisatrya Medan.Meski harus membagi waktu antara kuliah dan kerja, prestasinya moncer. Ia menyelesaikan S1 dengan gelar Sarjana Sosial (S.Sos) dalam waktu 3 tahun 7 bulan 15 hari dengan IPK 3,92. Gelar Magister (M.Sos) diraihnya dalam 1 tahun 11 bulan 25 hari dengan IPK yang sama, 3,92.

"Meski ibu hanya sebagai ibu rumah tangga, ia tak pernah membuat hati saya kecil. Ia menunjukkan bahwa saya mampu menyelesaikan semuanya," ujar Ilham.

Kini, setelah rampung S2, ia belum bekerja tetap. Ia berencana mendaftar sebagai dosen. "Motivasi saya menjadi aktivis karena ingin mengabdikan diri melalui dunia pergerakan dan termotivasi perjuangan Lafran Pane," tutupnya. (hm02)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN