Monday, July 20, 2026
home_banner_first
MEDAN

Maha Vihara Maitreya Medan, Jejak Sejarah dan Kemegahan Vihara Terbesar di Indonesia

Mistar.idRabu, 28 Januari 2026 pukul 18.00 WIB
maha_vihara_maitreya_medan_jejak_sejarah_dan_kemegahan_vihara_terbesar_di_indonesia

Interior Maha Vihara Maitreya. (Foto: Amita/Mistar)

news_banner

Medan, MISTAR.ID

Di tengah ketenangan Kompleks Perumahan Cemara Asri, berdiri kokoh sebuah bangunan yang bukan sekadar tempat ibadah, melainkan simbol keharmonisan dan dedikasi umat. Maha Vihara Maitreya, dengan arsitektur oriental klasik yang berpadu dengan sentuhan modern, menyambut siapa saja yang datang dengan aura kedamaian yang kental.

Pembangunan mahakarya ini bukanlah proses yang instan. Dibutuhkan waktu hampir satu dekade untuk mewujudkannya. Peletakan batu pertama dilakukan pada 17 Januari 1999, dan baru pada 21 Agustus 2008 bangunan megah ini diresmikan.

“Dibutuhkan sekitar 10 tahun untuk pembangunan vihara ini. Karena dananya murni berasal dari donatur, umat Buddha, dan para sukarelawan. Bangunannya cukup besar dengan ornamen oriental yang detail, sehingga membutuhkan banyak tenaga dan biaya,” kata Diki Paskarianto, salah seorang pengurus Maha Vihara Maitreya, Rabu (28/1/2026).

Kehadiran vihara ini bermula dari visi Yang Arya Maha Sesepuh Ong, pimpinan tertinggi The World Maitreya Great Tao kala itu. Beliau memimpikan sebuah sarana di Sumatera Utara yang mampu menampung 4.000 hingga 5.000 orang untuk bakti puja.

Berkat kemurahan hati para donatur, termasuk Bapak Mujianto yang menyediakan lahan seluas kurang lebih 2 hektare, impian tersebut menjadi nyata. Di masa kepemimpinan Maha Pandita Citrawira dan dilanjutkan oleh para tokoh MAPANBUMI (Majelis Pandita Buddha Maitreya Indonesia) lainnya, vihara ini tumbuh menjadi pusat spiritualitas yang melayani ratusan ribu umat.

“Vihara ini dibangun besar karena umat Buddha di Sumatera Utara jumlahnya cukup banyak. Kami membutuhkan sarana dan prasarana untuk bersilaturahmi, merayakan acara keagamaan, serta kebudayaan bersama,” ucap Diki.

Memasuki area halaman, pengunjung akan disambut deretan patung 12 Shio yang melambangkan budaya Tionghoa. Tak jauh dari situ, patung Kirin atau Chilin berdiri tegak, sebuah makhluk mitologi yang dipercaya sebagai penjaga suci rumah ibadah.

Di gerbang utama, sosok Buddha Maitreya atau yang akrab disapa “Buddha Tertawa” menyapa setiap pengunjung dengan wajah ceria.

“Buddha Maitreya sering dikenal sebagai Buddha Berkah atau Buddha Bahagia. Beliau kerap digambarkan membawa emas atau koin sebagai simbol keberuntungan dan kebahagiaan bagi mereka yang datang,” ujar Diki.

Tak hanya itu, pilar-pilar raksasa yang dibalut ukiran naga semakin mempertegas nuansa Oriental Tionghoa. Naga, dalam kepercayaan tersebut, merupakan makhluk suci yang melambangkan kemuliaan dan perlindungan.

Maha Vihara Maitreya tidak hanya bergantung pada donasi, tetapi juga mengembangkan ekosistem mandiri. Di sisi kanan gedung terdapat area komersial yang mencakup toko suvenir, kafe, hingga restoran vegetarian yang cukup populer bagi penikmat kuliner sehat di Medan.

“Dana operasional vihara sebesar ini tentu cukup besar. Karena itu, kami mengelola gedung komersial untuk menopang operasional harian. Sementara di lantai atasnya terdapat gedung serbaguna,” tutur Diki. Di sisi lain, terdapat perkantoran dan mes bagi para pengabdi vihara yang mendedikasikan hidup mereka untuk pelayanan Dharma.

Sejak masa pembangunannya hingga kini, vihara ini tidak pernah sepi dari aktivitas. Mulai dari kelas penataran Dharma, kelas remaja, perayaan Waisak, hingga kegiatan sosial seperti dapur umum saat terjadi bencana alam.

Kini, Maha Vihara Maitreya berdiri sebagai salah satu vihara terbesar di Indonesia, sekaligus menjadi bukti sejarah perkembangan agama Buddha Maitreya yang cemerlang. Ia tetap menjadi oase bagi siapa pun yang mencari ketenangan di tengah hiruk-pikuk kehidupan, sembari terus memancarkan semangat welas asih bagi seluruh makhluk.



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN